Jumlah umat Katolik di paroki seluruh dunia terus bertumbuh, imam menurun

0616a

Jumlah umat Katolik di paroki seluruh dunia terus bertumbuh, imam menurun

ucanews.com – Jumlah umat Katolik  di paroki-paroki seluruh dunia bertumbuh begitu cepat, namun pada kenyataannya, jumlah pastor paroki tidak seimbang dengan jumlah umat, kata sebuah studi terbaru terkait tren Gereja Katolik di seluruh dunia.

Masalah ini menjadi  tantangan: Dengan pertumbuhan umat Katolik, terutama di Afrika dan Asia, namun pertumbuhan itu  tidak sebanding dengan  jumlah imam, hanya sedikit  umat Katolik  menerima sakramen-sakramen dan berpartisipasi di paroki mereka.

“Gereja masih menghadapi masalah global di abad ke-21 ini dimana hanya sedikit umat Katolik terlibat di paroki dan kehidupan sakramental,” kata  Center for Applied Research in the Apostolate (CARA) di Georgetown University.

Penelitian “Global Catholicism” mengambil  statistik dari Vatikan dan survei lainnya sejak tahun 1980 bahwa Gereja Katolik telah bertumbuh di tingkat paroki dan memprediksikan jumlah itu terus meningkat  beberapa dekade mendatang.

Pertumbuhan ini terlihat di tingkat paroki karena kehidupan paroki merupakan  ”tembok dan mortir” Gereja Katolik dimana umat menerima sakramen-sakramen, bergaul dengan sesama umat, dan berpartisipasi  dalam iman mereka, jelas penelitian itu.

Pertumbuhan ini dihitung dari umat  Katolik, imam, religius,  penerimaan sakramen-sakramen, seminaris, dan lembaga-lembaga   Katolik seperti rumah sakit dan sekolah di lima kawasan – Afrika, Asia, Eropa, Oceania dan Amerika. Secara keseluruhan temuan dari laporan ini bahwa Gereja sedang melakukan  ”penataan kembali yang dramatis”.

Pergeseran jumlah umat Katolik jauh dari pusat-pusat tradisional Eropa dan Amerika dan menuju “Dunia Selatan,”   yang mencakup Amerika Tengah dan Amerika Selatan, Sub-Sahara Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Oseania dan banyak dari Timur Jauh. Dr Mark Gray, seorang peneliti senior di CARA, menjelaskan implikasi  pergeseran ini dalam sebuah wawancara.

Satu masalah yang disorot dalam penelitian ini adalah bahwa  paroki-paroki besar di dunia masih berada di Eropa dan Amerika, namun jumlah anggota Gereja menurun atau stagnan. Negara-negara berkembang memiliki  lebih banyak umat Katolik, tapi paroki tidak mampu  melayani semua mereka.

“Anda tidak bisa mempersalahkan mereka. Jadi di satu wilayah Gereja harus menutup paroki, dan di tempat lain Gereja harus membentuk lebih banyak paroki.”

Temuan lain dari laporan ini adalah bahwa umat Katolik kurang berpartisipasi  di gereja saat mereka tumbuh dewasa, seperti yang terlihat dalam tingkat partisipasi dalam menerima sakramen. Di setiap wilayah, jumlah pembaptisan bayi per 1.000 umat Katolik lebih besar dari jumlah orang yang menerima Komuni pertama, jumlah orang yang menerima Sakramen Krisma dan Sakramen Pernikahan meningkat.

Amerika berada di peringkat kedua kehadiran Misa dan lebih sedikit dari umat Katolik di Eropa, populasi Katolik di Amerika secara keseluruhan bertumbuh. Selanjutnya, jumlah imam religius, bruder, dan suster  menurun di Amerika sejak tahun 1980, meskipun jumlah umat Katolik dan para imam diosesan telah meningkat di sana.

Di Afrika, anggota Gereja berkembang paling cepat, ada penurunan tajam dalam menerima  sakramen –  pembaptisan, pernikahan. Benua Afrika memimpin dunia dengan lebih dari 13.000 umat Katolik per paroki. Namun, di Asia jumlah orang berpartisipasi dalam sakramen meningkat – Komuni Pertama, Krisma, dan Pernikahan.

Termasuk Cina daratan,  Vatikan tidak memberikan data, populasi Katolik naik di Asia dengan 63 persen sejak tahun 1980. Secara keseluruhan kehadiran Misa tidak  menurun,  meskipun beberapa negara Asia melaporkan kehadiran umat dalam Misa  lebih tinggi daripada kawasan  lain.

Jumlah imam diosesan lebih dari dua kali lipat di benua itu sejak tahun 1980, dan jumlah imam religius, bruder, dan suster masing-masing hampir dua kali lipat. Tidak seperti  di Eropa dan Amerika Utara, dimana hal ini sudah terjadi, hasilnya bisa menjadi krisis dalam komunitas – banyak umat Katolik menjadi seorang “anonim”, jelas Gray.

Umat Katolik “anonim”  mungkin kurang  berpartisipasi dalam kehidupan paroki mereka, berpartisipasi dalam sakramen kurang dan kurang membawa anak-anak  ke Gereja. Kini, seorang imam tidak hanya  melayani paroki  besar, tetapi  juga melayani beberapa paroki, membuat umat Katolik  sedikit kesempatan untuk mengenal dengan pastor paroki mereka.

Eropa akan melihat penurunan lima persen populasi Katolik tahun 2050, kata laporan itu, tapi  jauh lebih mengkhawatirkan adalah  jumlah imam diosesan dan religius sudah menurun 40 persen  sejak  1980. “Sementara beberapa imam Afrika melayani beberapa  paroki di seluruh dunia,” kata laporan itu.

Afrika melihat peningkatan terbesar umat Katolik di paroki  sejak  1980, melompat dari 8.193 umat Katolik per paroki tahun 1980 menjadi 13.050 tahun 2012.

Meskipun jumlah imam dan paroki di Afrika telah melonjak lebih dari 100 persen, jumlah umat Katolik telah meroket dengan 238 persen, sehingga  kesenjangan melebar antara jumlah umat Katolik dan jumlah imam dan religius.

1396 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *