Umat Katolik Menyerukan Kanonisasi Mantan Uskup Agung Dhaka
RADIO SUARA WAJAR – Umat Katolik di Banglades menyerukan segera kanonisasi mantan uskup agung Dhaka karena masyarakat lokal sudah menghormati dia sebagai orang kudus (santo).
Lebih dari 1.000 umat Katolik berkumpul pada 2 September di Katedral St. Maria di Dhaka untuk menghormati uskup agung Banglades pertama itu dan calon santo pertama. Seruan itu dilakukan saat mereka memperingati 38 tahun wafatnya prelatus itu.
Hamba Allah Theotonius Amal Ganguly OSC melayani keuskupan agung Dhaka sebagai uskup pembantu tahun 1960 dan kemudian uskup agung tahun 1967 hingga 1977. Dia meninggal akibat serangan jantung pada 2 September 1977, pada usia 57 tahun.
“Uskup Agung Ganguly adalah seorang religius yang hebat, ia layak menjadi santo dan patut dijadikan panutan bagi semua orang. Gereja harus berupaya menyatakan dia sebagai santo sehingga lebih banyak orang bisa tahu tentang dia dan mengikuti teladannya,” kata Kanon Elizabeth Peris , 72, seorang Katolik.
Setelah umat Katolik lokal melobi untuk kanonisasi, tahun 2006 Vatikan menyatakan bahwa ia sebagai “hamba Allah,” awal dari proses formal pencalonan.
“Saya telah berdoa kepadanya untuk menyembuhkan sakit radang sendi. Saya berharap Uskup Agung Ganguly akan membantu saya,” kata Peris.
Ia bukan calon yang berasal dari martir, namun keajaibannya harus diterima.
Kekuatan penyembuhan
Banyak orang mengklaim bahwa mendiang uskup itu memiliki kekuatan penyembuhan.
Uskup Agung Ganguly adalah seorang “yang mengabdikan diri yang luar biasa,” kata Promod Mankin, menteri negara pelayanan sosial dan seorang Katolik dari komunitas suku Garo.
“Dia adalah dosen saya dan seorang yang rendah hati dan kudus,” kata Mankin, yang menderita sakit jantung, yang disembuhkan dengan campur tangan mendiang Uskup Agung Ganguly tahun 2010.
Mankin menderita “sakit parah” akibat masalah jantung dan dibawa ke Singapura untuk perawatan yang lebih baik dan para dokter sudah siap untuk membedah penyakitnya.
“Saya mulai berdoa kepada mendiang Uskup Agung Ganguly. Saya merasa baik dalam beberapa hari kemudian dan kembali ke Banglades tanpa operasi,” kata Mankin.
“Ada orang-orang seperti saya yang telah diuntungkan dengan berkat dari Uskup Agung Ganguly. Jadi, para pemimpin Gereja kami harus bekerja keras mempercepat kanonisasinya,” tambah Mankin.
Kanonisasi Uskup Agung Ganguly ini sedang dalam proses, meskipun ada tantangan, kata Pastor Theotonius Proshanto Rebeiro, anggota penyelidik untuk kanonisasi uskup agung itu.
“Kanonisasi membutuhkan waktu. Kami sedang mengumpulkan informasi dan mewawancarai para saksi, tapi kami menghadapi tantangan karena sejumlah saksi telah meninggal, dan beberapa informasi telah hilang,” kata Pastor Rebeiro.
“Kami tidak bisa mengatakan berapa lama diperlukan untuk kanonisasi Uskup Agung Ganguly, tapi kami berharap bahwa ia pasti akan menjadi santo suatu hari nanti,” tambahnya.
Selama bertahun-tahun, Gereja Banglades telah menerbitkan berbagai buku dan film dokumenter untuk mempromosikan kehidupan dan karya uskup ini. (ucanews.com).


