Sekularisme, kemajuan teknologi pengaruhi panggilan religius di Asia Timur

Nuns offer prayers at the funeral of the late head of the underground Catholic Church in Shanghai, Bishop Joseph Fan Zhongliang, as he lies in a funeral home in Shanghai on March 22, 2014.  Thousands of mourners packed the funeral home to bid farewell to the "underground" Catholic Bishop whose faith, they said, led him to endure decades of suffering at the hands of China's ruling Communist Party.     AFP PHOTO/Peter PARKS

Biarawati berdoa saat pemakaman pemimpin Gereja Katolik bawah tanah di Shanghai, Uskup Joseph Fan Zhongliang pada Maret 2014.

ucanews.com – Tertantang oleh masyarakat sekuler, Gereja-gereja di Asia Timur menghadapi penurunan panggilan, membuat tarekat religius atau kongregasi misi menjadi komunitas dengan mayoritas anggotanya berusia lanjut. Faktor politik  mengurangi semangat kehidupan religius di Tiongkok.

Tiongkok:

Kehidupan religius tetap menjadi topik yang sensitif untuk dibahas di Tiongkok. Para misionaris asing diusir dari Tiongkok tahun 1950-an. Ketika kegiatan keagamaan dihidupkan kembali tahun 1970-an, hampir tidak ada kongregasi religius tersisa.

Saat ini, tidak ada kongregasi yang diakui pemerintah yang beroperasi di Tiongkok, sementara ordo-ordo religius internasional dilarang membangun rumah dan biara mereka. Kongregasi berbasis di luar negeri yang kembali bekerja di Tiongkok cenderung bekerja secara diam-diam.

Maka jumlah religius pria di Tiongkok tidak tersedia. Namun, itu adalah rahasia umum bahwa sejumlah uskup dan imam di Tiongkok milik tarekat religius. Hal ini diyakini bahwa sebagian dari para imam dan biarawati yang belajar di luar negeri adalah religius yang diam-diam bergabung dengan kongregasi.

Jumlah religius wanita telah menurun hingga empat persen menjadi 4.780 religius wanita tahun 2011-2014, demikian  Pusat Studi Roh Kudus Keuskupan Hong Kong.

Biara didirikan sejak tahun 1970-an sebagian besar dikelola keuskupan, yang kadang-kadang menimbulkan konflik. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa biara telah dibubarkan karena para biarawati ingin independen, tidak mau dikontrol uskup lokal mereka.

Selain itu, kurangnya pembinaan membuat banyak biara tanpa  identitas individu, kata Suster Teresa Hu kepada ucanews.com.

“Beberapa biara menggabungkan aspek apa pun dari kehidupan religius dari kongreasi  lain. Ini mengaburkan karisma mereka sendiri,” kata Suster Hu.

Suster Clare Chen, yang bertugas di Tiongkok bagian timur, mengatakan ia adalah satu-satunya biarawati yang  keluar dari kelompoknya, namun tetap bersama kongregasi religiusnya sejak mengambil kaul sementara tahun 2013.

“Ketika kami ditugaskan ke paroki, kami tidak memiliki pengalaman praktis karena  formasi kami yang sangat teoritis,” katanya.

Kurangnya pendidikan dan pembinaan memnuat para religius wanita tidak siap untuk menghadapi tantangan pastoral di paroki-paroki mereka, katanya.

0724b

Para anggota kongregasi religius menghadiri sebuah kamp panggilan di Wenzhou, Tiongkok.

Uskup Auksiliar Hong Kong Mgr Joseph Ha Chi-Shing, mantan Provinsial Fransiskan di Tiongkok, mengatakan kepada ucanews.com bahwa seperti seluruh dunia, masyarakat di Tiongkok  semakin banyak yang sekuler dan ini telah mempengaruhi Gereja dan mempengaruhi jumlah orang mempertimbangkan untuk masuk kehidupan religius.

Mengutip Gereja Tiongkok sebagai contoh, ia mengatakan “panggilan yang berkembang dua dekade lalu turun drastis setelah tahun 2000″.

Dia mencatat bahwa seminari di Wuchang dan Seminari Sichuan di Chengdu hanya memiliki delapan siswa.

“Saya tidak optimis bahwa situasi akan membaik,” katanya.

Uskup Ha menjelaskan turunnya jumlah tersebut adalah “sebagian karena kebijakan satu anak Tiongkok dan sebagian karena beberapa calon potensial menyerah pelayanan mereka setelah menyadari bahwa mereka harus berurusan dengan pemerintah dan menangani  banyak hal selain urusan Gereja”.

Di luar Tiongkok, komunitas Katolik Cina di Hong Kong, Macau dan Taiwan memiliki lebih banyak imam asing daripada orang lokal. Misalnya, ada 68 religius dari  Cina dan 163 religius pria asing di Hong Kong.

“Keuskupan ini masih sangat bergantung pada bantuan dari misionaris asing. Kongregasi religius pada umumnya memiliki anggota yang sudah berusia lanjut,” kata Uskup Ha.

Di Taiwan, ada sekitar 1.500 religius pria dan religius wanita dari hampir 100 kongregasi, hanya  0,5 persen dari populasi Katolik. Dengan kata lain, hanya ada satu religius untuk setiap 200 umat Katolik.

Korea Selatan:

Gereja di Korea Selatan dianggap sebagai Gereja berkembang. Populasi Katoliknya dari 5,5 juta orang menjadi 10,6 persen dari total populasi negara itu – proporsi terbesar di Asia Timur.

Menurut Konferensi Waligereja Korea, ada 1.574 religius pria dan 10.160 religius wanita di negara itu pada 31 Desember 2014. Statistik juga menunjukkan penurunan 35 persen untuk para novis sejak tahun 2004. Penurunan tersebut juga dirasakan oleh Serikat Misi Korea.

“Ada sekitar 30 seminaris ketika saya masih sebagai rektor tahun 2008. Sekarang, seminari itu memiliki 22 seminaris,” kata Pastor Andrew Kim, superior jenderal serikat itu.

“Penurunan ini terutama di kalangan biarawati karena status perempuan dalam masyarakat. Sejak budaya patriarki dalam Gereja, mereka pikir kehidupan religius tidak adil,” katanya.

Bagi kaum muda, “hidup religius sulit di mata mereka – tidak ada kebebasan, tidak ada ruang pribadi tetapi banyak aturan untuk diikuti,” katanya.

Individualisme dan kemajuan teknologi telah mempengaruhi kehidupan religius, katanya. Sama seperti masyarakat pada umumnya, anggota kongregasi dapat ditemukan sedang berada di depan komputer mereka selama waktu luang.

“Beberapa juga enggan untuk benar-benar taat kepada kongregasi seperti kami sebelumnya,” kata Pastor Kim.

Jepang:

Dari 127 juta orang Jepang, Kristen memiliki 1,6 persen dari populasi, menurut Kantor Urusan Kebudayaan. Sekitar 1 juta orang Katolik, tetapi hanya sekitar 440.000 adalah warga Jepang.

Seperti dalam masyarakat luas, religius adalah sebuah tantangan. Tahun 1075 rata-rata dari 1.923 imam berusia 50 tahun; 2014 usia rata-rata adalah 65 tahun.

Ada banyak bruder religius lokal (134) daripada asing (52), dengan usia rata-rata 67 tahun. Dari 5.216 biarawati Jepang, 4.881 adalah warga Jepang. Meskipun tidak ada usia rata-rata yang tersedia, seorang staf dari Konferensi Waligereja Jepang mengatakan usia rata-rata satu kongregasi adalah 80 tahun.

Dalam skenario seperti itu, “beberapa orang muda semakin menganggap Gereja sebagai kelompok lansia,” kata uskup Jepang tahun lalu dalam laporan mereka ke Sinode tentang Keluarga. Para pemimpin Gereja juga menjelaskan bahwa bahasa kedua yang dibutuhkan saat ini dalam pembinaan imam lokal dan religius untuk melayani kaum migran.

1142 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *