Mengenang Kisah Sengsara Yesus Lewat Jalan Salib

Foto : RD FX Dista Kristanto
“Begitu pula berbagai devosi,
khususnya Jalan Salib pada hari Jumat, sangat dianjurkan”.
Jalan Salib
Kutipan kalimat di atas berasal dari salah satu paragraf dalam pengantar masa Prapaskah yang ada di buku “Misa Hari Minggu dan Hari Raya”. Membaca kutipan kalimat tadi membuat saya tertarik untuk mencari informasi tentang devosi Jalan Salib. Tujuannya tentu bukan hanya karena ingin tahu lebih banyak tentang devosi ini, melainkan untuk menambah pemahaman yang membantu saya lebih menghayati saat mengikuti Jalan Salib selama masa Prapaskah.
Ketertarikan untuk mencari informasi mengenai devosi Jalan Salib menuntut saya membaca berbagai artikel yang membahas tentang devosi ini. Berbagai artikel tentang Jalan Salib baik itu di buku maupun di internet kemudian saya cari dan baca.
Artikel-artikel yang saya baca, memberikan penjelasan bahwa Jalan Salib merupakan devosi (praktik kesalehan) yang mengarah dan berpusat pada kisah sengsara Yesus Kristus. Umumnya devosi ini dilaksanakan pada hari Jumat selama masa Prapaskah dan secara istimewa pada Jumat Agung di luar jam pelaksanaan Ibadat Jumat Agung. Sementara di luar masa Prapaskah Jalan Salib biasanya dilaksanakan dalam sebuah momen ziarah.
“Jalan Salib merupakan devosi (praktik kesalehan) yang mengarah dan berpusat pada kisah sengsara Yesus Kristus”
Uskup Piero Marini, seorang ahli liturgi dan pemandu acara liturgi kepausan pada masa kepausan Paus Yohanes Paulus II (selama 18 tahun) dan Paus Benediktus XVI (selama 2 tahun) memberikan penjelasan yang menarik tentang Jalan Salib dalam sebuah tulisannya yang dimuat di situs vatican.va. Menurutnya Jalan Salib adalah devosi yang mengingatkan kita akan kenangan saat-saat terakhir perjalanan Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia. Sebuah perjalanan yang sungguh sulit dan menyakitkan.
Melalui devosi Jalan Salib Gereja atau umat beriman menghidupkan ingatan akan kata-kata dan peristiwa-peristiwa di hari-hari terakhir Tuhan hidup. Sebuah ingatan akan peristiwa kasih walaupun menyakitkan yakni tentang perjalanan yang dilalui Yesus dari Bukit Zaitun menuju puncak Kalvari. Gereja menghidupkan kenangan ini karena Gereja sadar dan tahu bahwa dalam setiap perhentian yang terjadi di perjalanan sengsara itu tersembunyi misteri rahmat, suatu tanda kasih Tuhan kepada Gereja. Oleh sebab itu, sebagai sebuah devosi yang mengarah dan berpusat pada kisah sengsara Tuhan, kita bisa memahami mengapa Jalan Salib sangat dianjurkan untuk dilakukan selama masa Prapaskah.
“Jalan Salib adalah devosi yang mengingatkan kita
akan kenangan saat-saat terakhir perjalanan Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia. Sebuah perjalanan yang sungguh sulit dan menyakitkan”
Jalan Salib dalam Catatan Sejarah
Devosi Jalan Salib yang kita kenal sekarang terbentuk lewat perjalanan panjang. Mengutip dari catholicculture.org dan katolisitas.org, ada keyakinan bahwa Bunda Maria setelah kematian Yesus, memiliki kebiasaan mengunjungi rute perjalanan sengsara yang dilalui oleh Putranya. Bunda Maria melakukan tapak tilas perjalanan sengsara Yesus sambil merenungkan semua yang telah terjadi. Santo Hieronimus, sejarawan Gereja yang hidup antara tahun 340 – 420 menyebutkan bahwa pada waktu itu sudah banyak peziarah yang mengunjungi tempat-tempat kudus di Yerusalem. Dari sini kita mengetahui bahwa tradisi merenungkan perjalanan sengsara Tuhan sudah ada sejak dahulu dan sekarang tradisi ini kita kenal dengan nama Jalan Salib.
“Santo Hieronimus, sejarawan Gereja yang hidup antara tahun 340 – 420
menyebutkan bahwa pada waktu itu sudah banyak peziarah
yang mengunjungi tempat-tempat kudus di Yerusalem”
Menurut Piero Marini cikal bakal Jalan Salib seperti yang kita kenal sekarang, berasal dari tradisi akhir Abad Pertengahan, yaitu mulai abad kelima sampai abad kelima belas. Tokoh-tokoh Gereja seperti Santo Bernardus dari Clairvaux, Santo Fransiskus dari Assisi dan Santo Bonaventura dari Bagnoregio dengan pengabdian mereka yang penuh kasih dan kontemplatif memberikan landasan di mana praktik kesalehan atau devosi ini berkembang.
Jalan Salib dalam bentuknya yang kita warisi saat ini (yang ada di buku “Puji Syukur, Madah bakti) yang terdiri dari empat belas perhentian dengan urutan yang ada saat ini sudah tercatat di Spanyol pada paruh pertama abad ketujuh belas di komunitas Fransiskan. Di sini devosi ini menemukan seorang rasul atau pewarta yang efektif dalam diri Santo Leonardus dari Porto Mauritio. Ia adalah seorang biarawan muda dan seorang misionaris yang tak kenal lelah memperkenalkan devosi ini kepada banyak orang.
Santo Leonardus secara pribadi mendirikan lebih dari 572 perhentian Jalan Salib, termasuk yang terkenal yang didirikan di dalam Colosseum atas permintaan Benediktus XIV pada tanggal 27 Desember 1750 untuk memperingati Tahun Suci. Berdasarkan tradisi paus setiap tahun pada malam Jumat Agung pergi ke Colosseum untuk melakukan Jalan Salib diikuti oleh ribuan peziarah dari seluruh dunia.
Paus Yohanes Paulus II pada Jumat Agung tahun 1991 memperkenalkan Jalan Salib versi baru yang disebut “Scriptural Way of Cross” (Jalan Salib menurut Alkitab). Enam belas tahun kemudian yaitu tahun 2007, Paus Benediktus XVI menyetujui versi ini untuk digunakan dalam meditasi dan perayaan.
Jalan Salib Bagi Pertumbuhan Iman
Mengutip dari catholicculture.org ada tiga manfaat melakukan devosi Jalan Salib. Pertama Devosi Jalan Salib jika dilakukan dengan penuh penghayatan akan menguatkan iman. Iman orang-orang kudus bertumbuh kuat melalui meditasi kisah sengsara Kristus yang pahit. Ketika seorang Kristiani merenungkan sengsara Kristus maka cahaya iman akan semakin terang baginya. Ia akan masuk lebih mendalam ke dalam rencana penebusan dan pengudusan Allah. Ia juga akan memahami mengapa Santo Paulus dan semua orang kudus tidak ingin mengetahui hal lain selain “hanya Yesus Kristus, Dia yang disalibkan”.
Saat kita dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian mempelajari penderitaan Juruselamat, kita belajar untuk memahami dan dengan penuh sukacita menerima apa yang dunia sebut sebagai “kebodohan Salib.” Dan khususnya selama praktik penyelamatan inilah kita akan memahami lebih baik dari sebelumnya kasih Tuhan bagi kita.
Saat kita dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian mempelajari penderitaan Juruselamat, kita belajar untuk memahami dan dengan penuh sukacita menerima apa yang dunia sebut sebagai “kebodohan Salib”
Kedua, devosi Jalan Salib menuntun kita untuk maju di jalan kesempurnaan. Saat kita melakukan Jalan Salib dan kita berpindah dari satu perhentian ke perhentian lainnya kita melihat Yesus sang Juruselamat di depan kita. Sang Juruselamat memberi kita sebuah contoh, menarik kita pada kalimat “Ikutlah Aku”.
Jalan Salib bisa menjadi sekolah kebajikan yang nyata bagi kita. Di sana kita diajar, bukan melalui kata-kata saja melainkan melalui teladan yang meyakinkan untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati; untuk menyangkal diri kita sendiri dan dengan senang hati memikul salib apa pun yang Tuhan berikan; belajar bersabar dan lemah lembut di tengah penderitaan; untuk berbelas kasihan kepada orang lain sebagaimana Juruselamat telah berbelas kasih kepada kita; untuk berani melakukan segala hal dengan kerja sama yang aktif demi keselamatan jiwa-jiwa yang karenanya Juruselamat menderita dan mati.
“Jalan Salib bisa menjadi sekolah kebajikan yang nyata bagi kita”
Ketiga, Jalan Salib merupakan penghiburan bagi kita dalam penderitaan dan perlindungan terhadap serangan godaan. Kita semua tahu apa artinya menderita. Setiap keadaan kehidupan membawa serta penderitaan, cobaan, kesulitan, kesalahpahaman, dan sebagainya. Ada penderitaan fisik, penderitaan mental, dan kombinasi keduanya. Lalu ada pula penderitaan karena fitnah dan penganiayaan. Namun siapakah yang mengalami penderitaan sebesar Yesus? Ketika kita merenungkan Dia di Jalan Salib, penderitaan kita tampak lebih mudah bagi kita. Ketika kita merenungkan sengsara-Nya dengan penuh simpati, Dia memandang kita dengan kasih yang lembut, menghibur kita, menguatkan kita untuk memikul salib kita dengan berani sampai akhir.
“Siapakah yang mengalami penderitaan sebesar Yesus?
Ketika kita merenungkan Dia di Jalan Salib,
penderitaan kita tampak lebih mudah bagi kita”
Pembaharu Komitmen Pengikut Kristus
Piero Marini memberikan nasihat yang menarik untuk direnungkan tentang devosi Sengsara Tuhan ini. Menurutnya dengan menempuh Jalan Salib, kita para pengikut Yesus, harus menyatakan sekali lagi kesediaan kita sebagai pengikut Kristus. Kesediaan itu ialah menangis seperti Petrus atas dosa-dosa yang dilakukan; membuka hati kita pada iman kepada Yesus, Mesias yang menderita, seperti penjahat yang bertobat. Kita juga diminta untuk tinggal di kaki Salib Kristus seperti Bunda Maria dan murid yang dikasihi dan di sana bersama mereka menerima Sabda yang menebus, Darah yang menyucikan, Roh yang memberi kehidupan.
Penulis : RD FX Dista Kristanto




