Tiga Pesan Paus Leo XIV untuk Masa Prapaskah 2026

Paus Leo XIV.

RADIO SUARA WAJAR — Prapaskah bagi umat Katolik merupakan masa tirakat atau masa pantang dan puasa sebagai persiapan menyambut Hari Raya Paskah. Masa Prapaskah ini biasanya juga disebut sebagai retret agung yakni sebuah kesempatan melakukan olah batin untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Masa Prapaskah dimulai setelah perayaan Rabu Abu dan berlangsung selama empat puluh hari.
Berdasarkan tradisi, menjelang Masa Prapaskah Paus sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik di seluruh dunia akan memberikan pesan. Biasanya pesan ini memuat seruan atau ajakan bagaimana Masa Prapaskah harus dihayati dan dijalani.

Pada Kamis, 5 Februari 2026 Paus Leo XIV sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik memberikan pesan Prapaskah untuk tahun ini dan sekaligus menjadi pesan Praspaskah pertama yang ia berikan bagi umat.

Dalam Pesannya untuk Masa Prapaskah tahun ini, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Masa Prapaskah adalah undangan Gereja bagi umat untuk kembali memusatkan hidup pada Allah sang pusat kehidupan.

“Masa Prapaskah adalah waktu ketika Gereja, dengan kasih dan kepedulian seorang ibu, mengundang kita untuk menempatkan kembali misteri Allah sebagai pusat hidup kita”, tulis Paus Leo pada kalimat pertama dalam pesannya.

Tiga Pesan Paus
Paus Leo dalam pesan Prapaskahnya yang pertama sebagai Paus mengajak umat melakukan tiga hal yakni belajar mendengarkan, melatih diri lewat puasa dan semangat hidup kebersamaan.

Mendengarkan
Paus Leo menyadari betapa pentingnya kesediaan untuk mendengarkan, baik itu mendengarkan Sabda Allah maupun mendengarkan sesama.

“Tahun ini saya ingin pertama-tama menegaskan betapa pentingnya memberi ruang bagi Sabda Allah lewat mendengarkan, sebab kesediaan untuk mendengarkan adalah tanda pertama bahwa kita ingin membangun relasi dengan sesama”, demikian tulis Paus dalam pesannya.

Bagi Paus Leo mendengarkan merupakan sikap batin yang terbuka dan menunjukkan kesediaan untuk belajar mengenali suara yang muncul dari penderitaan dan ketidakadilan sehingga suara-suara itu tidak dibiarkan tanpa jawaban.

Puasa
Berkaiatan dengan puasa dan pantang, Paus melihat keduanya sebagai latihan rohani yang sangat penting dalam pertobatan. Menurutnya puasa menolong kita membedakan dan menata dorongan-dorongan dalam diri dan menjaga agar rasa lapar dan haus akan keadilan tetap hidup. Namun, Paus Leo juga mengingatkan bahwa puasa harus dijalani dalam iman dan kerendahan hati agar tetap sejalan dengan kebenaran Injil dan tidak jatuh dalam godaan menyombongkan diri.

Paus menawarkan bentuk pantang yang sangat konkret, tetapi menurutnya sering kurang dihargai yakni pantang dari kata-kata yang menyakiti dan melukai sesama.

“Mari kita mulai “melucuti senjata” bahasa kita: meninggalkan kata-kata tajam, penilaian yang terlalu cepat, kebiasaan membicarakan keburukan orang yang tidak hadir dan tidak bisa membela diri, serta fitnah,” tegasnya.

Sebaliknya Paus mengajak umat untuk memakai bahasa yang penuh kelembutan dalam setiap komunikasi yang terjadi di berbagai kesempatan.

“Marilah kita belajar menimbang kata-kata dan membiasakan kelembutan: di keluarga, di antara teman, di tempat kerja, di media sosial, dalam debat politik, di media massa, dan di komunitas-komunitas kristiani. Dengan begitu, banyak kata kebencian akan digantikan oleh kata-kata harapan dan damai,” tulis Paus dalam pesannya.

Kebersamaan
Masa Prapaskah menurut Paus memiliki dimensi kebersamaan dalam mendengarkan Sabda dan menjalankan puasa. Kitab Suci, menurutnya menegaskan hal ini dengan banyak cara dan kisah dalam Kitab Nehemia 9:1-3 adalah salah satunya. Di sana dikisahkan bahwa umat berkumpul untuk mendengarkan pembacaan Kitab Taurat secara terbuka, dan sambil berpuasa mereka mempersiapkan diri untuk pengakuan iman dan penyembahan demi memperbarui perjanjian dengan Allah.

Melalui kisah dalam Kitab Nehemia, Paus Leo menegaskan bahwa Prapaskah sebagai masa pertobatan adalah kesempatan untuk berjalan bersama sebagai satu komunitas yang saling mendengarkan dan saling menopang.

“Dalam cakrawala ini, pertobatan tidak hanya menyangkut suara hati pribadi, tetapi juga gaya relasi, kualitas dialog, kemampuan membiarkan diri “ditanya” oleh kenyataan, serta kemampuan mengenali apa yang benar-benar mengarahkan keinginan kita – baik dalam komunitas Gereja maupun dalam kemanusiaan yang haus akan keadilan dan rekonsiliasi”, tegasnya.

Penulis : RD FX Dista Kristanto

264 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *