Riwayat Hidup Mgr. Andreas Henrisoesanta. SCJ

Riwayat Hidup

MGR. DR. ANDREAS HENRISOESANTA, SCJ
“Eritis Mihi Testes”

MASA KECIL

Di dusun kecil yang bernama Kalidadap, Desa Ngijorejo, Kecamatan Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, di sanalah Mgr Andreas Henrisoesanta SCJ dilahirkan, yakni pada tanggal 7 Juni 1935. (Data dari Kongregasi SCJ mencatat bahwa beliau lahir pada tanggal 07 Juni 1933; Dibaptis di Paroki St. Petrus Canisius-Wonosari pada tanggal 25 Desember 1934 dan menerima Sakramen Penguatan di Paroki Hati Kudus Metro pada tanggal 16 Juli 1950).Ia adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Jacobus Samadi Kasandikrama dan ibu Jacoba Wasijem. Mgr. Henri dilahirkan dengan nama Soewijata. Saat keluarganya dibaptis, ia diberi nama baptis “Andreas”, sehingga namanya menjadi Andreas Soewijata.

Pada tahun 1939, keluarga ini mengikuti transmigrasi program pemerintah Hindia Belanda ke Lampung Tengah tepatnya di Metro. Saat itu Soewijata masih berumur 4 (6) tahun. Di Metro inilah Soewijata mulai menimba ilmu. Sekolah Rakyat (SR) dijalaninya dari tahun 1941 s/d 1947 . Pendidikan Sekolah Rakyat ini ia alami pada zaman Belanda, Jepang, dan pada jaman awal kemerdekaan RI. Lalu ia menempuh pendidikan menengahnya di SMK (Sekolah Menengah Katolik) Pringsewu pada tahun 1948 sampai 1949. Saat ini, sekolah itu menjadi SMP Xaverius Pringsewu. Pendidikan SMK yang belum selesai itu, ia lanjutkan di SMK Talang Jawa, Palembang dari tahun 1949-1950 dan SMP St. Joseph, Lahat, Sumatera Selatan dari tahun 1950 s/d 1951.

PANGGILAN IMAMAT

Setelah tamat SMP, Soewijata menuntut ilmu di sebuah SGA dan Seminari Menengah di Palembang dari tahun 1951-1955. Sesudah itu pada tahun 1955, dia masuk Novisiat SCJ di Bandar Agung, Lahat (Sumatra Selatan). Pada kesempatan inilah dia mengganti namanya menjadi Andreas Henrisoesanta, nama yang ia sandang sampai akhir hidupnya. Setelah menjalani masa Novisiat selama satu tahun, Henrisoesanta mengucapkan kaul pertamanya di Lahat pada 8 September 1956. Tentu saja kini dia menjadi seorang frater (calon imam) dari Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Setahun kemudian ia pun mengucapkan pembaharuan kaul di Seminari St. Paulus Palembang pada 8 September 1957. Studi Filsafat dilakoni oleh frater Henrisoesanta di Lahat dan Yogyakarta (1956-1958). Kemudian dia diutus belajar ke Roma.

Pada saat perjalanan menuju Eropa karena memakan waktu yang lama terpaksa frater Henri memperbaharui kaulnya di atas kapal pada tanggal 8 September 1958. Sesampainya di Roma, ia belajar teologi dan hukum gereja. Frater Henrisoesanta SCJ menerima tahbisan minor “Tonsura” (pemotongan rambut sebagai tanda ketaatan dan penyerahan diri) pada tanggal 20 Desember 1958 di Kolese SCJ “Leo Dehon”, Roma-Italia yang diterimakan oleh Mgr. Nicolaus Canino. Sebagai seorang biarawan SCJ sebelum menerima tahbisan-tahbisan berikutnya menuju ke jenjang imamat, Frater Henri mengucapkan kaul kekal pada tanggal 8 September 1959 di Barton Under Needwood, Inggris. Tahbisan minor sebagai Lektor diterimanya pada tanggal 19 Desember 1959 oleh Mgr. Hector Cunial dan sebagai Akolit pada tanggal 02 April 1960 di Roma melalui Mgr. Joseph Ferreto. Pada tanggal 18 Maret 1961 menerima tahbisan Subdiakon dari/melalui Mgr. Caretanus Mignoni di Roma. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 07 Mei 1961 frater Henrisoesanta SCJ ditahbiskan menjadi Diakon di Roma oleh Mgr.H.Couniel. Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1961 Diakon Andreas Henrisoesanta SCJ ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Faustinus Tissot SX di Kapel Kolese SCJ “Leo Dehon”, Roma-Italia.

Setelah menjadi sarjana, Romo Andreas Henrisoesanta SCJ melanjutkan studi teologinya dengan gelar Licentiat di Universitas Gregoriana Roma pada bulan Juni 1962. Kemudian pada tanggal 10 Juli 1966 Romo Henri meraih gelar doktor Hukum Gereja dengan tesis “De Probatione per Documente in Processu Canonico” pada Universitas yang sama.
Setelah meraih gelar Doktor Hukum Gereja, Romo Henrisoesanta SCJ kembali ke tanah air Indonesia. Romo Henri mulai menjalankan tugas pelayanan pastoral parokial di Keuskupan Tanjungkarang. Pada tahun 1966-1971 mendapatkan tugas pelayanan di Paroki Teluk Betung, kemudian pada tahun 1971-1974 dan 1976 melayani paroki Kedaton; Pada tahun 1974-1975 bertugas di Metro; pada tahun 1975-1976 berkarya di paroki Kotabumi; Akhirnya melayani paroki Tanjungkarang pada tahun 1976-1977.

Di samping berkarya di bidang pastoral parokial, Romo Henrisoesanta juga mengemban tugas pastoral kategorial di bidang pendidikan: sebagai guru agama di SD Sejahtera-Sidodadi Kedaton, di SMP Xaverius Telukbetung dan Tanjungkarang, sebagai Pimpinan SMA Xaverius Pahoman-Tanjungkarang dan Dosen agama Katolik di Universitas Lampung (UNILA). Ia juga pernah menjadi Pimpinan yayasan Xaverius dan Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) Keuskupan Tanjungkarang.

Pada tanggal 01Mei1968 – Romo Andreas Henrisoesanta SCJ diangkat menjadi anggota Dewan Pimpinan Propinsi (DPP) SCJ Indonesia. Susunan selengkapnya adalah sbb.: P.Leo Kwanten SCJ sebagai Propinsial; P. Gerardus Koevoets SCJ sebagai penasehat pertama; P. Jan Vranken SCJ sebagai penasehat kedua; P. Jan Van Kampen SCJ sebagai penasehat ketiga dan P. Andreas Henrisoesanta SCJ sebagai penasehat keempat.

Kemudian pada tanggal 01 Juni1974 – Oleh Dewan Jendral SCJ, Romo Henri diangkat menjadi anggota DPP SCJ sebagai Penasehat III, dengan susunan sbb.: Propinsial P.MJ.Weusten SCJ; Penasehat I- P.Abdi SCJ, II- P.L.Walczak SCJ; III- P. A. Henrisoesanta SCJ; IV- P.Th.Fix SCJ.

USKUP KE-2 KEUSKUPAN TANJUNGKARANG

Setelah sepuluh tahun berkarya di Keuskupan Tanjungkarang, Romo Andreas Henrisoesanta SCJ diangkat oleh Tahta Suci menjadi Episcopus coadjutor (Uskup Pembantu) keuskupan Tanjungkarang. Pentahbisan beliau menjadi Uskup dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 1976 di halaman SMA Xaverius Pahoman-Bandar Lampung oleh Kardinal Justinus Darmojuwono, Uskup Agung Semarang sebagai Pentahbis Utama. Sementara Uskup Agung Vincenzo Maria Farano, Uskup Agung Titular Cluentum sekaligus Nuncio Apostolik untuk Indonesia dan Uskup Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ, Uskup Tanjungkarang pada waktu itu menjadi Uskup Co-konsekrator. Kemudian pada tanggal 21 Desember 1978 Mgr. A. Henrisoesanta SCJ diangkat menjadi Uskup Diosesan Keuskupan Tanjungkarang oleh Paus Yohanes Paulus II. Pada tanggal 13 Mei 1979 Mgr. A. Hermelink SCJ menyerahkan jabatannya sebagai ‘episcopus residentialis’ Keuskupan Tanjungkarang kepada Mgr. Andreas Henrisoesanta SCJ.

LOGO DAN MOTTO PENGGEMABALAAN

Sebagai seorang Uskup yang memimpin Umat beriman Katolik di Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Dr. A. Henrisoesanta SCJ mengambil motto: “Eritis Mihi Testes” (Kamu akan menjadi saksi-Ku – Kis 1,8) dalam penggembalaannya.

LOGO: Berupa bola dunia dengan salib menancap di bumi Lampung. Ujung yang menancap tipis sekali, maksudnya agar dapat kontak tahap demi tahap dengan masyarakat setempat.

“Saya ambil motto dan menempatkan itu dalan situasi kongkret di Lampung ini, yang telah digembalakan oleh alm. Mgr. A. Hermelink, SCJ. dengan segala keberhasilan dan tantangan yang besar. Ia perintis besar untuk karya di sini. Saya juga mau menempatkan diri sebagai SAKSI bersama umat dan masyarakat di Lampung ini dengan segala permasalahan yang ada.

Kalau menjadi saksi, itu pertama-tama yang berperan adalah Roh (lih. Kitab Suci). Roh itu yang akan membukakan segala rahasia yang dikehendaki Allah. Jadi bukan kekuatan dalam diri saya sendiri. Kesaksian itu tidak dibatasi pada demografi, geografi, suku, bangsa, ras dan agama. Dalam Kitab Suci dinyatakan : “…….dan kamu akan manjadi saksik-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”.

Nah, saya mau mewujudkan kesaksian itu tanpa ada batasan di Lampung ini saja. Jadi menempatkan diri dalam situasi konkret di sini, tetapi medannya luas. Saya mau menjadi saksi tidak seorang diri, tapi dalam kebersamaan dengan yang lain. Karena Kristus waktu menyampaikan pesan itu kepada murid-Nya, juga dalam kebersamaan. Itu kalau dengan bahasa sekarang, kebersamaan dengan orang yang tertahbis dan tak tertahbis, begitulah. Itulah hidup saya, dari sana terungkap macam-macam kebijakan dan kegiatan antara lain RKPK. Ini sebetulnya sudah mulai dari situ itu. Biasanya uskup itu menggambarkan hidupnya dalam mottonya. Coba lihat itu kan (Logo Uskup) hanya putih kosong. Hanya salib yang menancap di Lampung. Itu pun dimulai dengan garis tipis sekali. Maksudnya itu agar bisa “nyeblok” (menancap – red). Sengaja itu, salib mulai menancap tipis sekali. Itu dengan maksud agar bisa kontak dengan rakyat di Lampung dengan cara tahap demi tahap. Kalau menancapkan salib begitu saja, tidak mungkin! Harus bijaksana. Maka, mulai dengan tipis sekali, kemudian makin menebal. Ini untuk meluruskan beberapa pandangan : bagi saya salib itu dipandang tidak hanya sebagai tanda (lambang) penderitaan, tetapi sebagai kemenangan yang dicapai dalam perjuangan. Keberhasilan dan kemenangan selalu ada hasil perjuangan itu. Nanti….yang memberi kemenangan itu Roh Kudus, Allah sendiri.” (lih. ”Gereja yang Dinamis”)

Kiprah Penggembalaan Mgr A. Henrisoesanta, SCJ

Perpasgelar I Tahap I – Tahun 1980-1990 (Perpasgelar: Pertemuan Pastoral Gereja Partikular). Apa yang sudah dilaksanakan oleh Mgr Henri pastilah kita tidak melupakannya. Pastoral di Keuskupan Tanjungkarang yang pada awalnya mengikuti selera para imamnya dan dilaksanakan secara single fighter kemudian diarahkan, dituntun dan bersama-sama melaksanakan secara terencana yang dikenal dengan RKPK – RKPP – RKPS (Rencana Kerja Pastoral Keuskupan/Paroki/Stasi) Tahap penyadaran bahwa GEREJA adalah KITA. Gereja bukan hanya hirarki, tetapi Uskup, para imam, Diakon, biarawan-biarawati dan kaum awam beriman yang kompak dalam kehidupan menggereja. Maka dari itu arah penyadaran ini tidak lain adalah arah penyadaran ke dalam (internal-Umat Katolik). Maka Gerakan pastoral ini arahnya ke dalam melalui jalur Kitab Suci, Katekese dan Liturgi.

Perpasgelar I Tahap 2 – Tahun 1989: GPP (Gerakan Pembaharuan Pastoral). Sebagai hasil evaluasi RKPK80 kini pastoral diarahkan keluar. Karena tidak seperti biasanya (ke dalam – umat Katolik) sulit untuk diterima sehingga istilah GPP diplesetkan menjadi “Gerakan Pengacau Pastoral”.

“Pembangunan dan pengembangan umat Katolik di Lampung diarahkan kepada perwujudan Gereja sesuai dengan Gambaran Gereja yang diberikan dalam Dokumen Konsili Vatikan II dan dokumen-dokumen selanjutnya. Gereja adalah Umat Allah (LG 9), bermusafir di dunia (LG 6) dan menjadi hamba melayani Kristus dalam saudara-saudaranya (LG 8) *2).

Gereja bertekad bulat berusaha, agar benar-benar merasa diri bersatu dengan umat manusia dan sejarahnya. Sehingga kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan mereka pada dewasa ini, menjadi kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus (GS 1), termasuk para biarawan-biarawati. Usaha, karya dan hidup Gereja harus ditujukan kepada perwujudan dirinya sebagai Sakramen Cintakasih Kristus, Sakramen Keselamatan*3)”. (Visi Dasar Pastoral)

Perpasgelar I Tahap 3 – Tahun 1992: benang merah dari tahap ke tahap sudah terbentuk dan menunjukkan arah jalan membangun persaudaraan sejati di antara umat Katolik dan umat-umat lain. Sekaligus juga mewartakan hidup dan Pembangun Persaudaraan Sejati yakni Yesus Kristus Tuhan kita maka dirumuskanlah butir-butir ini sebagai arah pastoral keuskupan Tanjungkarang, yakni: Paradigma baru, Dialog, Keterbukaan, Memasyarakat, Semina verbi.

Perpasgelar II: La Verna, 19-23 Agustus 2002
Semua umat di Keuskupan Tanjungkarang berusaha merefleksikan dan merenungkan keadaan Gereja di tengah masyarakat Lampung. Hubungan manusia dengan Allah terganggu oleh dosa manusia. Dosa mengakibatkan rapuhnya hidup dan rusaknya hubungan, komunikasi dan relasi antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya baik dalam Gereja maupun masyarakat di Lampung serta dengan lingkungannya (bdk Kej 3:1-24). Rusaknya hubungan itu tercermin dalam kenyataan antara lain bahwa komunikasi di antara anggota Gereja seringkali macet, formalistis sehingga sulit terjalin relasi personal. Lalu persaudaraan yang terjalin di antara umat, dengan masyarakat maupun dengan umat beragama lain sering masih berada pada tingkat manusiawi dan belum menjadi persaudaraan sejati.

Menyadari akan panggilannya sebagai ‘Sakramen Keselamatan’ di bumi Lampung, keadaan atau situasi tersebut di atas menuntut adanya perubahan sikap atau pertobatan. Pertobatan diwujudkan dalam relasi yang baik antara manusia dengan Allah, sesama dan lingkungan.

Jabatan-jabatan yang pernah diemban selama menjadi Uskup ldalam ingkungan Kegerejaan termasuk dalam KWI: Ketua PWI Pendidikan (1977-1985), Ketua Komisi KOMSOS KWI (1988-1991), Bendahara KWI (1988-1994), Anggota Demon – Dewan Moneter KWI (1994-1997), Ketua Komisi KOMSOS KWI (1997-2000), Ketua DSAK (Dana Solidaritas Antar Keuskupan), Ketua DNP (MPP), Ketua Komisi KOMSOS KWI 2000-2003.

Bahasa yang dikuasai:
a. Aktif : Italia, Inggris, Jerman, Belanda.
b. Pasif : Latin (dulu juga aktif).

Lain-lain:
1. “Samudra Perziarahan” – Sebuah kumpulan tulisan “Dari Meja Bapak Uskup” Majalah bulanan Keuskupan Tanjungkarang NUNTIUS.
2. Dinobatkan sebagai salah satu dari “100 Tokoh Terkemuka Lampung” (Buku terbitan Lampung Post – 2008)

EMIRITUS – TUTUP USIA

Setelah beberapa kali mengirim surat permohonan ke Tahta Suci menjelang usia 75 tahun dan bertemu langsung dengan Bapa Suci Paus Benediktus XVI pada saat Adlimina pada tahun 2011, akhirnya pada tanggal 6 Juli 2012 pengunduran dirinya disetujui oleh Paus Benediktus XVI. Karena belum ada pengganti beliau, maka Bapa Suci menunjuk Mgr. Aloysius Sudarso SCJ sebagai Administrator Apostolik di Keuskupan Tanjungkarang, hingga Mgr. Yohanes Harun Yuwono terpilih menjadi Uskup Tanjungkarang.

Menjadi Uskup Emiritus untuk menikmati masa tuanya, Mgr A Henrisoesanta SCJ tinggal di Rumah Emiritus Padangbulan – Pringsewu (Lampung). Karena kesehatannya menurun, pada tanggal 27 Februari 2016 beliau dibawa ke Jakarta untuk check up di RS St. Carolus. Namun setelah melihat hasil dan kondisi beliau, dokter menyarankan untuk opname. Karena kondisi kesehatan beliau terus menurun Mgr Yoh Harun Yuwono menerimakan Sakramen Minyak Suci pada beliau pada hari Selasa, 1 Maret 2016. Kemudian, pada hari Selasa 8 Maret 2016 – yang sediakan akan dirayakan pesta 40 tahun episkopat (tahbisan uskup) beliau di Pringsewu – secara sederhana Mgr Yuwono merayakan Ekaristi bersama Mgr Henri dan beberapa imam, suster, perawat dan pembezoek merayakan hal itu di seberang ruang ICU pada pukul 11.00 wib. Lalu dilanjutkan acara potong tumpeng. Uskup Emiritus Mgr Henrisoesanta mendapatkan perawatan sampai akhir hidupnya. Akhirnya pada hari kamis, 10 Maret 2016 pukul 14.20 WIB beliau berpulang ke Rumah Bapa selamanya pada usia 81 (83) tahun.

Mgr Henri…selesailah sudah tugas penggembalaan Bapa Uskup di dunia ini menjadi Saksi Kristus…. Selamat memasuki “Yerusalem Surgawi” dan menikmati perjamuan kekal bersama Bapa di Surga.

Doakanlah kami umatmu yang masih harus berziarah di bumi ini…. Semoga kami semua dapat menjadi saksi-saksi Kristus seperti yang Monseigneur inginkan dengan menghayati apa yang telah Bapak Uskup ajarkan kepada kami.
Dan jadilah pendoa bagi kami selamanya …
Terimakasih…. “selamat jalan Bapak Uskup”….

Bandar Lampung, 13 Maret 2016

RP. Thomas Suratno, SCJ

 

1625 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *