Renungan Harian, Rabu, 29 Agustus 2018

Ilustrasi Herodes. (Foto: Thomas Suratno)

Ilustrasi Herodes. (Foto: Thomas Suratno)

PW Wafatnya St Yohanes Pembabtis, Martir

INJIL: Mrk 6:17-29

Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

RENUNGAN:

Orang yang berbuat baik dan benar biasanya akan disenangi banyak orang. Tetapi menjadi ironi besar bahwa ketika seseorang membela kebenaran dan menyatakannya dengan jujur dan berani, tidak semua orang menyukainya. Bahkan orang tersebut akan dimusuhi dan dijauhkan, bila perlu dilenyapkan. Banyak contoh hidup yang memperlihatkan ironi tersebut, Ingatlah seperti Marsinah, yang memperjuangkan nasib kaum buruh di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Demikianpun Munir, seorang aktivis HAM, meninggal secara misterius di pesawat dalam penerbangan ke Amsterdam, 7 September 2004. Masih banyak lagi lainnya. Sejarah para pahlawan bangsa dan martir dalam Gereja juga menjadi saksi atas kekejaman terhadap para pembela kebenaran ini.

Hari ini kita bersama-sama memperingati Santo Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis, seperti dikisahkan Injil hari ini, juga adalah saksi kebenaran yang telah menjadi korban Herodes, si penguasa yang otoriter dan kejam. Nasibnya malang walau dia hidup secara benar di hadapan Allah. Dia orang yang dalam hidupnya mewartakan dan menyuarakan suara kenabiannya dengan jujur dan berani tetapi hanrus menerima nasib yang tragis dari penguasa. Apakah dengan demikian kita sebagai orang beriman menjadi kecut dan takut, lantas bungkam di hadapan penguasa yang kejam, otoriter dan tak berperasaan? Kita adalah pengikut Kristus yang dengan gagah berani menghadapi dan menjalani hukuman salib, dan bukan pengikut para pengecut yang selalu bersembunyi di balik pikiran dan tangannya yang kotor karena licik suka korupsi. Tuhan Yesus telah mati untuk kita demi kebenaran, Tak ada alasan bagi kita pengikut-Nya untuk takut bersaksi demi kebenaran.

Hendaknya kita mau mengatasi rasa takut untuk membela yang benar dengan keyakinan iman kepada Tuhan Allah. Ingatlah rasa takut adalah musuh iman, maka kalua kita sungguh beriman dan mendasari perbuatan dan tindakan kita dengan iman rasa takut itu akan pergi menjauh dari hati kita. Yang ada tinggal keberanian untuk membela sesame dari ketidakadilan karena Tuhan adalah Sang Mahaadil. Semoga peringatan wafatnya Yohanes pembaptis ini menginspirasi dan mendorong kita semua untuk menjadi orang yang mau memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi sesame atas nama Tuhan.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, aku mau menjadi saksi kebenaran-Mu di tengah dunia yang penuh kepalsuan. Semoga dengan kuat kuasa-Mu aku dapat berjuang dan perjuanganku tidak akan menjadi sia-sia. Amin.”***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

386 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *