Apel Lintas Iman Bela Negara Lawan Terorisme & Narkoba

LINTAS IMAN BELA NEGARA

Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr Yohanes Harun Yuwono diantara peserta Apel Lintas Iman Bela Negara Lawan Terorisme & Narkoba

RADIO SUARA WAJAR – PBNU bersama PGI, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI, LPOI menggelar apel Lintas Iman Bela Negara di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (17/1/2016). Kegiatan tersebut diikuti tak kurang 15 ribu warga dari berbagai komunitas.

Para wakil dari organisasi agama di Indonesia menyampaikan pesan bersama untuk memerangi terorisme, radikalisme, dan narkoba.

Pada apel bela negara, panitia mendaulat Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu sebagai inspektur upacara. Pada kesempatan itu, dia mengatakan, perjuangan merebut dan mengisi kemerdekaan tidak dilakukan satu kelompok, suku atau agama saja, melainkan seluruh elemen bangsa. Penduduk Indonesia bersatu-padu melawan penjajah.

Setelah kemerdekaan diraih, kata dia, Indonesia menjadi bangsa berdaulat. Kemudian bangsa Indonesia memiliki cita-cita yang sebagaimana tercantum dalam UUD 45. Menurut dia, ada 3 kata kunci utama yaitu keamanan, kesejehteraan, memajukan perdamaian dunia.

Indonesia akan mempertahankan negara dari ancaman dalam dan luar negeri dengan sistem pertahanan semesta, yaitu keikutsertaan seluruh warga, memanfaatkan sumber daya lainnya.

“Ke depan bukan perang bukan alutsista lagi, tapi hati pikiran rakyat untuk membelokkan ideologi,” tegasnya seperti dilansir okezone.com, Minggu (17/01).

Kemhan, lanjut dia, menyusun desain strategi pertahanan semesta. Konsep ini direvitalisasi dan diaktualisasi untuk pembangunan kesadaran bela negara sehingga rakyat menjadi bagian dari pertahanan. Bela negara pada hakikatnya adalah perilaku semangat pengabidian luhur yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.

“Bela negara tidak bertentangan dengan agama mana pun. Muslim yang baik adalah warga negara yang baik pula,” katanya.

Sementara Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Indonesia dalama kondisi darurat radikalisme, terorisme, dan narkoba. Hal itu karena reformasi yang kebablasan sehingga aliran ideologi “luar” dengan mudah masuk.

“Ideologi Timur Tengah tidak cocok untuk Indonesia. Di Timur Tengah tidak ada ulama nasionalis, tidak ada nasionalis yang ulama,” katanya.

Sementara di Indonesia, kata kiai kelahiran Cirebon ini, memiliki ulama yang nasionalis, nasionalis yang ulama. Ia mencontohkan di antaranya pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.

Kedua ulama itu, menurutnya, menciptakan jargon “hubbul wathon minal iman”. Umat Islam menyangka selama ini hal itu hadits atau ayat Alquran, padahal jargon ulama yang nasionalis, cinta kepada tanah airnya.

Sebagai bukti para ulama mencinta negara adalah adanya fatwa Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945. Sekira 20 ribu kalangan pesantren, kiai, dan masyarakat menghalau sekutu yang datang ke Surabaya.

Membela tanah air, lanjut kiai yang akrab disapa Kang Said ini, dalam resolusi itu hukumnya fardu ain (kewajiban setiap warga negara yang sudah baligh, red).

“Barangsiapa mati membela tanah air, mati syahid. Barangsiapa yang bekerja sama dengan penjajah boleh dibunuh,” tegasnya.

Di akhir pidato, Kang Said menyinggung teror bom Sarinah Kamis pekan lalu.

“Adanya teror di tengah bangsa ini harus dilawan. Alquran mengatakan tidak ada yang lebih zalim dan kurang ajar selain orang yang melakukan kejahatan mengatasnamakan agama,” jelasnya.

 

1132 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *