Surat Gembala Tahun Suci Istimewa 2015

KARTU KENANGAN fb

MENSYUKURI ALLAH YANG PENUH BELAS KASIH

Saudara- saudari Umat Allah terkasih,

Mulai 8 Desember 2015 sampai dengan Hari Raya Kristus Raja 2016 Bapa Suci Paus Fransiskus mencanangkan tahun suci istimewa dengan tema Allah Mahamurah / Penuh Belas Kasih. Kita tahu bahwa tgl. 8 Desember adalah Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda (Maria Immaculata). Bapa Suci ingin mengajak kita merayakan Allah yang penuh belas kasih, yang walau manusia telah berdosa, Allah tidak meninggalkannya. Dia telah memalingkan Wajah-Nya dalam kasih pada Maria yang kudus dan tak bernoda dan memilihnya menjadi Bunda Penebus (MV 3).

Disebut tahun suci istimewa karena tahun suci ini dicanangkan bukan untuk memperingati peristiwa tertentu atau ajaran dan dokumen tertentu dari Gereja di masa lampau, melainkan semata untuk merasakan kebaikan hati Allah yang penuh belas kasih. Memang tahun 2016 akan merupakan 50 tahun setelah penutupan Kon Vat II. Namun bukan karena hal itu tahun suci ini diadakan.

Tema Allah yang penuh belas kasih itu juga tidak terlepas dari motto pontifikal Bapa Suci yakni “Miserando atque eligendo” (karena dikasihi maka dipilih). Umat Allah diundang agar juga mau bersikap rendah hati dan penuh syukur atas kemurahan hati Allah, seperti Bapa Suci yang tidak membanggakan diri sebagai manusia yang hebat, melainkan sebagai manusia bermartabat hanya karena Allah telah bermurah hati padanya. Kita diundang untuk ikut menjadi pribadi-pribadi yang murah hati dan penuh belas kasih terhadap sesama kita, bukan untuk menghakimi melainkan untuk mengampuni dan mencintai sepenuh hati tanpa syarat (Bdk. Luk 6: 37-38).

Tahun suci atau tahun yubelium ini disertai dengan bulla Misericordiae Vultus (MV – Wajah Allah yang Penuh Belas Kasih). Belas Kasih Allah itu termanifestasi dalam diri Kristus – Sang Gembala Baik (Pastor Bonus) – yang memanggul manusia yang berdosa dan membawanya keluar dari kegelapan menuju kepada terang. Kristus melakukan itu karena tidak ingin seorangpun yang telah diserahkan Bapa kepada-Nya akan hilang (bdk. Yoh 3: 16; 6: 39). Karena itu Kristus rela menebus manusia dengan sengsara dan kematian-Nya. Setiap manusia yang berdosa dapat bertemu dengan Kristus dan merasakan kemurahan hati Bapa yang mengampuni di dalam Anak-Nya (bdk. Logo. Dalam Logo itu nampak Sang Gembala Baik yang mempunyai luka di tangan dan di kaki-Nya, yang memanggul bukan domba melainkan manusia).

Dalam spirit Konsili Vatikan II, yang oleh Bapa Suci Fransskus disebut sebagai tahap baru penginjilan, tahap baru dalam menampilkan wajah Gereja, Gereja hendaknya tidak lagi tampil sebagai penghukum, melainkan menawarkan belas kasih Allah. St Yohanes XXIII dalam membuka Konsili Vatikan II mengatakan, “Sekarang mempelai Kristus ingin menggunakan obat kerahiman daripada mengangkat senjata kekejaman… “ (MV 4).

Sabar dan penuh belas kasih adalah kata-kata yang mengungkapkan sifat-sifat Allah. Belas kasih Allah itu sesuatu yang kongkrit, yang mewujud dalam segala tindakan Allah (MV 6). “Dia mengampuni segala kesalahanmu dan menyembuhkan segala penyakitmu” (Maz 103: 3). “Dia menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas dan memberi roti kepada orang yang lapar” (Maz 146: 7).

Yesus telah memberikan teladan menampakkan belas kasih Allah itu (MV 8). Dia “tergerak hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba tanpa gembala” (Mat 9: 36). Karena belas kasih-Nya itu, Kristus menyembuhkan penyakit (Mat 14: 14), memberi makan mereka yang lapar (Mat 15: 37). Belas kasih Allah nyata juga dalam berbagai perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus (MV 9), dan mengundang murid-murid-Nya untuk mengampuni bukan 7 kali melainkan 70 x 7 kali (Mat 18: 22). Dengan berlaku seperti Yesus para murid menjadi tanda kemurahan hati Allah.

Bagaimana Tahun Suci Ini Dirayakan?

Tahun suci ini ditandai dengan semboyan, “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu murah hati adanya” (Lk 6: 36). Kita dapat merayakannya tahun suci ini dengan: mengarahkan hati pada-Nya, mendengarkan Sabda-Nya dalam keheningan, melupakan diri sendiri dan menjadikan belaskasih-Nya sebagai gaya hidup kita (MV 13). Secara lebih rinci, kita dapat merayakan tahun suci ini dengan melakukan empat hal berikut:

Pertama: berziarah, khususnya ke Pintu Suci di Roma, maupun ke tempat-tempat yang ditentukan di manapun di dunia. “Ziarah merupakan jalan menuju pertobatan. Dengan melakukan perziarahan, “kita akan menemukan kekuatan untuk merangkul kerahiman Allah dan mendedikasikan diri kita untuk menjadi penuh kerahiman terhadap orang lain sebagaimana telah dilakukan oleh Bapa kepada kita” (MV 14).

Kedua: Memperhatikan mereka yang sekeng, yang membutuhkan pertolongan. Ini dapat dilakukan dengan melakukan karya-karya amal jasmani, seperti: memberi makan mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus, memberi pakaian mereka yang telanjang…. Atau melalui karya-karya amal rohani, seperti: menasehati orang yang bimbang, mengajari orang yang bebal, menegur orang yang berdosa, menghibur orang yang menderita, menunjungi mereka yang tersingkir dan terlupakan …” (MV 15).

Ketiga: menjalankan secara intens masa pra-Paskah. Dalam masa pra-Paskah, Bapa Suci menegaskan kembali ajakan “24 jam bersama Tuhan” yang dilakukan pada hari Juma’at dan Sabtu sebelum Minggu pra-Paskah IV; dan menempatkan Sakramen Rekonsiliasi sebagai sumber kerahiman Allah (MV 17).

Keempat: menumbuhkan perjumpaan dengan umat agama-agama dan tradisi-tradisi keagamaan lain, sebab kerahiman Allah mengatasi batas-batas Gereja. Secara khusus disebut perjumpaan dengan Umat dari agama Yahudi dan Islam, yang memandang “kerahiman sebagai salah satu sifat Allah yang paling penting” (MV 23). Tujuan perjumpaan ini tentu saja untuk membangun persaudaraan sejati.

Selama masa pra-Paskah, Bapa Suci akan mengirim para Misionaris Kerahiman, yang akan menjadi tanda keibuan Gereja yang menawarkan kerahiman Allah bagi anak-anaknya. Ada imam-imam yang akan diberi wewenang mengampuni dosa yang selama ini direservir untuk Bapa Suci (MV 18). Selama tahun yubelium ini Bapa Suci memberi wewenang kepada semua imam untuk mengampuni orang-orang yang telah pernah melakukan aborsi dan mau bertobat (Surat kepada Mgr. Rino Fisichella – Presiden Dewan Kepausan untuk Pengembangan Evangelisasi Baru – tgl. 1 Sept. 2015).

Pertobatan dan Indulgensi

Bagi mereka yang sungguh bertobat dan melakukan perdamaian dengan Allah melalui Sakramen Pegampunan, Gereja memberikan indulgensi penuh. Tentang indulgensi, Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1471 mengatakan, “Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman kristiani yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”.

Ada indulgensi sebagian ada indulgensi penuh, tergantung dari apakah dia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya. Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang hidup dan orang mati.

Paus menghendaki agar pada tahun suci ini, kemurahan hati Allah melalui indulgensi, dirasakan oleh sebanyak mungkin Umat (Surat kepada Mgr. Rino Fisichella). Indulgensi dapat diterima dengan: mengadakan ziarah ke empat Basilika Kepausan di Roma, atau ziarah ke Pintu Suci setiap Gereja Katedral ataupun Gereja atau Tempat Ziarah yang ditentukan oleh Uskup Diosesan. Ziarah itu disertai dengan pemenuhan persyaratan lain, yakni: penerimaan Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi, mengucapkan Pengakuan Iman; mengucapkan doa bagi Bapa Suci dan bagi intensi Bapa Suci untuk kebaikan Gereja dan dunia.

Bagi mereka yang tidak bisa berziarah ke Pintu Suci (karena sakit atau alasan lain), dapat menerima indulgensi, jika: dengan gembira hidup dalam iman dan harapan, menerima komuni atau merayakan Ekaristi, atau berdoa bersama melalui berbagai sarana.

Indulgensi juga diberikan kepada mereka yang telah meninggal dunia. KGK 1472 menyebutkan: dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat: merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “siksa dosa abadi”. Setiap dosa (bahkan dosa ringan): mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan mahkluk, hal mana membutuhkan penyucian di dunia ini atau sesudah kematian (di api penyucian). Penyucian ini membebaskan dari “siksa dosa sementara”. Kedua bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai dendam yang Allah kenakan dari luar, tetapi sesuatu yang muncul dari kodrat dosa itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala, dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh sehingga tidak ada siksa dosa lagi yang harus dipikul.

Merasakan Kebaikan Allah dalam Keluarga Kita

Dalam Surat Gembala Natal 2013 dan Natal 2014 saya telah menuliskan betapa berharganya pribadi manusia itu di mata Allah. Saya juga menuliskan betapa pentingnya keluarga kita masing-masing yang, sebagai sekolah kemanusiaan dan kerohanian, harus kita rawat untuk mempertahankan kesatuannya.

Panggilan menjadi suami atau istri di dalam keluarga adalah demikian luhur. Keutuhan dan kesatuan suami – istri adalah mutlak bukan karena Gereja mengajarkan demikian melainkan karena demikianlah kehendak Allah. Manusia yang merelatifkan kesatuan dan keutuhan keluarga sesungguhnya tidak peduli akan nilai luhur yang lebih luas, yakni keharmonisan masyarakat manusia. Keutuhan dan kesatuan hidup setiap keluarga akan membuat masyarakat sehat. Keteladanan hidup yang baik dari para orang tua dalam keluarga akan menyehatkan dan mematangkan kesehatan psikologis dan kerohanian anak-anak mereka. Anak-anak adalah ahli waris masa depan masyarakat kita.

Namun tidak seperti Keluarga Kudus, keluarga kita penuh keterbatasan. Keluarga kita umumnya dibentuk oleh orang-orang yang juga serba mempunyai kekurangan. Bapa Suci Fransiskus, dalam salah satu pesannya tentang keluarga, bahkan mengatakan:

“Tidak ada keluarga yang sempurna. Orang tua kita juga tidak sempurna. Karena orang tua kita tidak sempurna maka anak-anak yang lahir juga bukan manusia sempurna. Pasangan-pasangan tidak saling menikah dengan orang yang sempurna. Dalam ketidaksempurnaan setiap pribadi manusia, maka juga tidak ada pernikahan yang sempurna. Dengan demikian sesungguhnya tidak ada keluarga yang sehat tanpa adanya pengampunan.

Pengampunan sangat penting untuk kesehatan emosional dan keselamatan spiritual kita. Tanpa pengampunan keluarga akan menjadi panggung konflik, benteng penuh keluhan. Tanpa pengampunan keluarga menjadi sakit. Pengampunan mensterilkan jiwa, membersihkan pikiran dan memerdekakan hati. Semua orang yang tidak mengampuni tidak mempunyai kedamaian jiwa dan tidak dalam persekutuan dengan Allah. Sakit hati adalah racun yang membuat sakit dan membunuh. Memelihara luka dalam hati adalah menghancurkan diri sendiri.

Orang yang tidak mengampuni akan sakit secara fisik, emosional, dan spiritual. Karena itulah keluarga harus menjadi tepat kehidupan, bukan tempat kematian. Keluarga adalah sarang kesembuhan, bukan sarang penyakit; panggung pengampunan bukan rasa bersalah. Pengampunan membawa kegembiraan sedang kesedihan membawa luka. Pengampunan membawa kesembuhan sedang kesedihan membawa penyakit”.

Ketidaksempurnaan setiap kita mengundang kita untuk memahami satu dengan yang lain dan tentu untuk menerimanya dengan lapang dada. Manusia adalah tempatnya salah. Hanya Allah dan para malaikat-Nya yang sempurna. Kesalahan dan kekurangan masing-masing anggota keluarga kita bukan sarana untuk saling menyalahkan yang memicu keretakan. Dalam kekurangan yang adalah kodrat manusia kita diundang untuk membangun kematangan kemanusiaan kita. Setiap anggota keluarga tidak harus berprestasi dahulu baru dikasihi. Kemurahan hati Allah tidak menuntut syarat. Miserando atque eligendo – Allah mengasihi dan karena itu memilih, tanpa didahulu oleh jasa manusia.

Di lain pihak kemurahan hati orang lain tidak boleh dijadikan alasan oleh masing-masing kita untuk tetap berkubang dalam kesalahan kita. Kita bukan dituntut untuk pasif melainkan untuk aktif, untuk berbuat seperti Bapa yang murah hati. Di sini kita diundang untuk bangkit dari kekurangan kita dan membangun diri.

Bagaimana Tahun Suci Dirayakan di Keuskupan Kita?

Tahun suci ini harus dirayakan sebagai tahun syukur untuk mengalami kasih Allah dengan menemukan kembali sakramen Pengampunan Dosa. Untuk itu Keuskupan Tanjungkarang menetapkan Gereja Katedral Tanjungkarang dan tempat-tempat ziarah marianis (Padang Bulan, Fajar Mataram, Ngison Nando, Sekincau) sebagai tempat-tempat khusus untuk mengalami indulgensi: jika dalam satu tahun, dengan semangat pertobatan, melewati pintu Katedral secara berkala/periodik/teratur sebanyak 7 kali dan atau berziarah ke tempat ziarah marianis sebanyak 3 kali, baik hari-hari biasa, atau pada hari Minggu, maupun pada masa khusus (pra-Paskah, Mei dan Oktober), baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam kelompok, akan mendapatkan idulgensi penuh.

Misa Pembukaan Tahun Suci akan diadakan pada tanggal 8 Desember 2015 di Katedral pada pkl. 16.30, dan ditutup juga di Katedral pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam tahun 2016. Liturgi tgl. 8 Desember 2015 (Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda) di paroki-paroki hendaknya dipindahkan ke hari Minggu sebelumnya (6 Des 2015). Di tempat-tempat ziarah marianis tersebut di atas hendaknya juga dirayakan penutupan pada hari Minggu sebelum penutupan bersama di Katedral.

Di tempat-tempat ziarah marianis tersebut di atas hendaknya dibuka perayaan tahun yubelium ini pada hari Minggu, 13 Desember 2015 secara bersama-sama dan disediakan juga waktu untuk penerimaan Sakramen Rekonsiliasi (pastor paroki setempat akan mengkoordinir bersama imam-imam lain di wilayah terdekatnya).

Para Romo hendaknya juga sepanjang tahun menyediakan waktu untuk mendengarkan pengakuan dosa di Paroki atau di Stasi sewaktu bertugas, lebih dari biasanya.

Terkait dengan SAGKI 2015: hendaknya tahun Suci ini juga dirayakan di paroki-paroki dengan berbagai usaha reksa pastoral tentang keluarga dengan melibatkan berbagai pihak.

 

Tanjungkarang, 25 November 2015

Salam doa dan berkat:

+ Mgr. Yohanes Harun Yuwono

Uskup Keuskupan Tanjungkarang

 

1313 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *