RD. F. Fritz Dwi Saptoadi, Pencipta Lagu-lagu Gereja Inkulturasi

 

 

RD. F. Fritz Dwi Saptoadi (51) di Jalan Jendral AH Nasution 11, Kota Metro, Sabtu 22 November 2015.

RD. F. Fritz Dwi Saptoadi (51) di depan Gereja Kudus Yesus Metro, Jalan Jendral AH. Nasution 11, Kota Metro, Sabtu 21 November 2015.

 

 

 

 

 

“Tidak banyak orang yang tahu itu hasil ciptaanku…. Soal siapa (nama penciptanya) enggak penting bagi saya. Tapi bahwa akhirnya Tuhan mempercayakan saya untuk menciptakan itu untuk kepentingan ibadat umat beriman. Teksnya kan teks kitab suci, maka itu akan awet sepanjang zaman, enggak usah khawatir akan musnah. Itu akan awet sepanjang zaman dan dasarnya Kitab Suci.”

METRO, POTRET SUARA WAJAR — Mungkin kita tidak menyadari atau bahkan tidak tahu sama sekali, bahwa beberapa lagu yang terdapat dalam Buku Doa dan Nyanyian Gerejawi Puji Syukur, merupakan ciptaan Romo Projo asal Keuskupan Tanjungkarang. Beberapa contohnya yakni, PS 330, PS 430, PS 863, dan masih banyak lagi. Romo yang saat ini bertugas sebagai Romo Kepala Paroki Metro ini, sejak tahun 1986 ternyata sangat piawai mengolah musik gereja inkulturasi, yakni musik gereja yang bernuansa musik tradisi setempat atau lokal.

Sejak kapankah RD. F. Fritz Dwi Saptoadi (51) piawai menciptakan musik gereja inkulturasi? Dan mengapa memilih menjadi Imam jika sangat piawai menciptakan lagu? Kenapa tidak memilih menjadi penyayi atau pencipta lagu profesional saja?

Sabtu, 21 November 2015 diselimuti cuaca cerah, memuluskan langkah Radio Suara Wajar untuk menjumpai Romo Fritz, begitu dia biasa disapa di Paroki yang terlatak di tengah-tangah Kota Madya Metro ini. Sejak 15 November 2013, Romo Fritz bertugas sebagai Romo Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Metro.

Saat dijumpai di Pastoran yang terletak di Jalan Jendral AH Nasution 11, Kota Metro ini, dengan senyuman khasnya dan tentu telihat sedikit terkejut melihat kehadiran Radio Suara Wajar.

Suara Wajar pun tenggalam dalam cerita menarik perjalanan hidupnya sampai memilih menjadi seorang imam.

“Tertantang”. Itulah yang melatarbelakangi Romo Kelahiran Malang, Jawa Timur 05 September 1964 ini, memutuskan untuk mejadi seorang imam. Pertemuan dengan salah seorang imam pada awal tahun 1980-an, Romo Lorensius Purwanto, SCJ yang menceritakan pada dirinya mengenai sekolah seminari.

Dirinya merasa “tertantang” kembali kala itu saat Mgr Andreas Henri Soesanta SCJ dan Romo Vikjen Peko Raro kebetulan mempersembahkan misa di Paroki Hati Kudus Yesus Metro. Kata-kata yang waktu itu terlontar dalam homili Mgr. Hendri membuat Romo Fritz merasa tertantang “Saya sudah tua, siapa yang akan menggantikan saya? Tugas masih banyak, jumlah umat banyak tak terlayani”. Begitulah kira-kira kalimat yang membuat Romo Fritz bergumam dalam hati “Apakah aku bisa”?

“Wah ini sapaan Allah lewat dia (Mgr. Hendri dan Romo Peko) kan? Nek ngunu aku wae yo? Daripada saya meyuruh orang lain? Saya coba diri saya sendiri. Dengan segala kelemahan dan tantangan. Aku punya kelemahan karena aku tidak pernah diceritakan Romo itu seperti apa? Tapi karna saya mau, saya memberikan diri akhirnya jawabah, ini aku utuslah aku Tuhan” jelas Romo Fritz.

Kecerdasanannya di bidang seni musik memuluskan jalan Romo Fritz saat menempuh pendidikan di Seminari Tinggi. Bahkan karena kemampunannya pada bidang ini sangat menonjol dibandingkan teman-teman seangkatannya kala itu, dia menjadi asisten dosen untuk mata kuliah seni musik.

Anak kedua dari pasangan Agustinus Lilo dan Sariyohani ini merasa kembali tertantang saat dirinya dan beberapa teman satu angkatannya yang berlatar belakang SMA (luar seminari) oleh pernyataan Rektor Seminari kala itu. Karena mereka dianggap tidak mampu mengikuto mata kuliah bahasa latin. Atas dasar “dikecilkan”, Romo Fritz dan kawan-kawannya yang lain pun membuktikan bahwa mereka bisa. Dan sejak itulah, anggapan yang mengatakan mahasiswa yang berasal dari luar seminari tidak mampu mengikuti mata kuliah bahasa latin, sirna. Prestasi yang membanggakan tentunya, bagi Romo Fritz.

Karya lagu-lagu gereja inkulturasi sangat banyak diciptanya bisa dilihat dari banyak lagu yang bermotif suku batak dan kalimantan serta juga Lampung. Saat selesai menempuh pendidikan dan memulai tugas di Keuskupan Tanjungkarang, dengan bakat yang dimiliki, di benak Romo Fritz ialah “Apakah bisa menolong untuk berkatakese mengenai Gereja Katolik di tengah-tengah budaya Lampung?”.

Jika diamati, menurut Romo Fritz, dahulu, ajaran Katolik masuk di Bumi Lampung dimulai dari wilayah-wilayah perkotaan, sedangkan suku asli Lampung sebagai besar tinggal di daerah pesisir atau pinggiran. Sehinga amat jarang suku asli provinsi yang merupakan pintu gerbang Sumatra ini, mengenal ajaran Katolik. Atas dasar inilah Romo yang ditahbis pada 29 Juni 1996 di Gereja Katedral Kristus Raja ini bertekad untuk memperkenalkan Gereja Katolik mulai dari musiknya. Yakni dengan menciptakan lagu-lagu inkulturasi gereja yang bermotif budaya Lampung.

“Awalnya sederhana seperti itu. Eh… kalaupun nanti bahwa ternyata gereja katolik diterima bagi saya sudah karya luar biasa, karya keselamatan yang masuk dalam konteks budaya Lampung juga. Sehingga fanatisme lebih berkurang. Tidak seperti sampai saat ini ya, fanatisme terhadap yang namanya kekristenan itu bagi mereka sangat luar biasa, enggak diterima” pungkas Romo jebolan SMA Yos Sudarso ini .

Bukan maksud untuk “mengkatolikan” suku Lampung, menurut Romo Fritz, tapi yang terpenting tujuannya ialah agar fanatisme terhadap gereja katolik menjadi berkurang di provinsi ini.

“Bukan pertama-tama mau mengkatolikan orang Lampung, tapi bahwa saya mau mendamaikan bahwa budaya-budaya itu tidak tertutup untuk menerima kekristenan dalam budayanya, sebetulnya. Unsur-unsur seni itu dapat menyatukan kita semua. Jadi tanpa mebedakan ini seni Islam, ini seni Kristen, bukan itu! seni ya seni, titik. Seni tidak bisa diklaim menjadi milik budaya tertentu” jelas Romo Fritz.

Romo yang pernah bertugas di Paroki Mesuji selama lima tahun tiga bulan ini membeberkan bahwa salah satu lagunya dipakai oleh Keuskupan Agung Semarang untuk penggalanan dana pendirian rumah Uskup. Lagu yang dimasukan dalam album karya cipta lagu terdokumentasikan dengan judul “Yesus Sabda Kehidupan”.

Romo yang mepunyai motto hidup “Ini aku, utuslah aku Tuhan” ini mengatakan bahwa taleenta yang diberikan Tuhan padanya secara gratis, maka lagu-lagu ciptaannya kembali ia berikan sepenuhnya untuk gereja.

“Bakat saya itukan pemberian dari Allah, yang saya sadari Tuhan menganugrahkan kepada saya bakat seperti ini. Lalu karena ini bersifat gratis, gracia, anugrah, sesudah menjadi karya cipta ya sudah saya berikan, saya persembahkan kembali kepada gereja, dengan itu, banyak umat yang menyanyikan lagu motif yang saya ciptakan. Dan lagu itu bernuansa liturgis, rohani, bisa menolong mereka untuk menumbuh kembangkan semangatnya dalam beriman” kata Romo Fritz.

Lagu-lagu yang diciptanya, sebagaian besar muncul dibenaknya saat dia berada pada tempat-tempat sunyi atau hening.

“Ada beberapa karya lagu itu yang tercipta justru dibalik kemudi mobil atau di atas sepeda motor. Di atas sepeda motor itu langsung, wah ada lagu ini. Kalau saya masih ingat saya bawa sampai rumah, nanti sampai rumah saya tulis. Tapi kalau tidak ingat saya berhenti untuk menulis sebentar gitu. Itu motif awal yang saya tangkap, lalu diolah. Nah itu akhirnya menjadi kekayaan nuansa keuskupan kita bahwa, punya ordinarikum motif Lampung. Itu awalanya dari situ” jelasnya.

Kesetiaan adalah menjadi kunci alumnus SMA Yos Sudarso Metro ini menjawab tantangan yang muncul dimanapun dia ditugaskan di Keuskupan Tanjungkarang. Karna menurutnya yang dituntut Tuhan padanya adalah kesetiaan.

“Kalau saya tidak setia, sudah mandeg, berhenti dan saya kalah dari tantangan yang datang dari luar itu. Rampung ket disik. Tapi karna saya tahu ini perjuangan saya belum sampai pada tujuannya, maka saya harus berani melihat harapan, kan harus ditunjang dengan ketekunan, kesetianku ini. supaya saya tidak lari dari jalur. Tuhan itu hanya menuntut kesetiaan”! pungkasnya.

Diakhir perbicangan, Romo Fritz menyayikan reffrain salah satu lagu inkulturasi gereja ciptaannya yang disajikan pada Mazmur 147.

“Pujilah Tuhan hai umat Allah, Pujilah Tuhan hai umat Allah…” ***

Reporter : Robert

1314 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *