In Memoriam: Sr. M. Bernadin, FCh (24 Desember 1942 – 6 September 2025)

Sr. M. Bernadin, FCh. Foto : Romo Piet

RADIO SUARA WAJAR, PALEMBANG — Sr. M. Bernadin, FCh, seorang biarawati yang dikenal karena kesederhanaan, semangat melayani, dan hidup doa yang mendalam, telah dipanggil Tuhan pada hari Sabtu malam, 6 September 2025, dalam usia 82 tahun. Ia dikenal bukan hanya oleh komunitas religiusnya, tetapi juga oleh keluarga, termasuk keponakannya, RD. Piet Yoenanto Sukowiluyo, Ketua Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Tanjungkarang.

Dalam sebuah wawancara dengan Radio Suara Wajar pada Senin malam, 8 September 2025, Romo Piet mengenang sosok Sr. Bernadin sebagai pribadi yang rendah hati dan penuh dedikasi dalam karya pelayanannya, terutama sebagai bidan di daerah terpencil, seperti Pasang Surut.

Ia melayani masyarakat tanpa memandang imbalan materi — pasien yang tidak mampu sering membayar jasanya dengan sayur-mayur atau hasil bumi lainnya, sebuah gambaran nyata dari cinta kasih Kristiani yang tulus.

Dedikasinya tak berhenti di sana. Ketika bertugas di Timika, Sr. Bernadin turut melayani sejak dibuka rumah sakit di sana.

“Di awal-awal hidup membiara di Pasang Surut sana, kalau ada orang yang berobat eggak punya uang itu boleh membawa sayuran atau hasil bumi yang lain sebagai bayaran semacam itu lah, sehingga itu sangat menarik memberi inspirasi bagi banyak orang,” ungkap Romo Piet.

Di tengah keterbatasan lanjut Romo Piet, ia tidak pernah terdengar mengeluh. Sebaliknya, ia banyak membagikan kisah panggilannya dan memberikan semangat kepada para imam maupun umat.

“Dan bahkan ketika di Timika itu membuka rumah sakit suster juga memulai di sana dengan penuh semangat dan saya cukup sering dengan perjumpaan dengan beliau mengeluh itu tidak pernah. Tapi banyak bercerita ya pengalam panggilan, tapi juga menyemangati,” tambahnya.

Romo Piet juga membagikan kisah pribadi: meskipun pada awalnya Sr. Bernadin sempat ragu atas pilihan keponakannya untuk menjadi imam diosesan, namun akhirnya ia mendukung sepenuhnya. Bahkan, ia hadir secara khusus dalam Misa Perdana Romo Piet pada tahun 1991, datang jauh-jauh dari Palembang — sebuah kenangan yang sangat berarti, mengingat kini telah 34 tahun berlalu.

“Bahkan pada tahun 1991 ketika saya Misa Perdana dan tahbisanya juga beliau datang dari Palembang kala itu, 34 tahun yang lalu,” kata Romo Piet.

Foto: Romo Piet

Kesehatan Sr. Bernadin mulai menurun menjelang akhir hidupnya. Sekitar sebulan sebelum wafat, ia sempat mengajukan cuti dan harus mengurus ulang KTP yang sudah lama tidak diperbarui sejak di Timika. Karena kondisi fisiknya yang lemah, petugas Dukcapil datang ke tempat tinggalnya untuk memproses dokumen, bahkan sempat memotret beliau dalam keadaan tiduran.

Meski demikian, ia tetap semangat dan menjalani masa cuti dengan sukacita, tinggal bersama keluarga di Jawa dan menikmati kebersamaan yang penuh damai. Tak disangka, dua minggu setelah itu, ia jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit pada malam Sabtu. Diagnosis menunjukkan adanya gangguan jantung. Ia menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit, dan esok paginya, pukul 07.30 WIB, Sr. Bernadin berpulang dengan tenang.

Foto : Romo Piet

Pemakaman Sr. Bernadin dilaksanakan pada hari Minggu, 7 September 2025 pukul 10.00 WIB di Kapel Biara Induk Charitas, Palembang, diawali dengan Misa Requiem yang dipimpin oleh Romo Yohanes Kristianto, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, dan Romo Piet sebagai konselebran serta banyak umat yang hadir.

Jenazah dimakamkan di Pemakaman Biara Charitas Pusat, Palembang, dalam ruangan yang nyaman dan sejuk, memberi kesempatan bagi umat untuk mengantar kepergian beliau dengan penuh rasa syukur dan damai.

Selamat jalan, Sr. M. Bernadin, FCh.

Terima kasih atas kesaksian hidup, cinta kasih, dan pelayanannya yang tiada henti. Semoga engkau beristirahat dalam damai abadi di hadapan Allah yang telah engkau layani seumur hidupmu.***

251 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *