Paus Menyerukan Umat Katolik Berdialog Dengan Umat Beragama Lain

0202c-e1454380537890RADIO SUARA WAJAR – Paus Fransiskus mendesak umat Katolik di Asia berkomitmen untuk mengadakan “dialog kehidupan” dengan penganut agama-agama lain dalam pesan video pada Misa penutupan Kongres Ekaristi Internasional ke-51 di Kota Cebu, Filipina, 31 Januari.

“Kita tahu saksi profetis paling sering dilakukan melalui dialog kehidupan,” kata Paus Fransiskus kepada lebih dari 1 juta orang, termasuk sekitar 12.500 delegasi dari 73 negara, yang menghadiri pertemuan internasional itu selama sepekan.

Melalui “kesaksian hidup yang diubah oleh kasih Allah,” umat Katolik memberitakan harapan untuk “rekonsiliasi, keadilan dan persatuan bagi umat manusia,” katanya.

Seperti dilansir ucanews.com, Paus mendesak umat Katolik untuk “pergi sebagai misionaris membawa pesan kelembutan Bapa dan rahmat-Nya” serta mengikuti teladan Yesus dengan menjangkau orang lain dalam “semangat menghormati dan keterbukaan untuk berbagi dengan mereka dengan karunia yang kita terima.”

“Kita dipanggil membawa ikatan kasih Allah kepada seluruh umat manusia,” kata Paus Fransiskus, seraya menambahkan bahwa setiap orang Katolik dipanggil membawa kabar baik dari “cinta penebusan Kristus kepada dunia yang membutuhkan seperti rekonsiliasi, keadilan dan perdamaian.”

“Kehadiran Kristus di antara kita tidak hanya menghibur, tapi juga janji dan panggilan,” katanya, seraya menambahkan bahwa penting bagi setiap orang Kristen “menjadi murid misionaris sejati” di tengah-tengah konflik, ketidakadilan dan krisis kemanusiaan yang sedang dialami di seluruh dunia.

“Kita tahu Yesus tidak hanya berbagi makanan dengan murid-murid-Nya, tetapi juga, dan terutama, dengan orang-orang berdosa dan terbuang,” katanya, seraya menambahkan bahwa Yesus “mampu mendengarkan orang lain, mendengar cerita-cerita mereka, menghargai harapan dan aspirasi.”

0202d

Para perempuan Filipina bergabung dalam Misa penutupan Kongres Ekaristi Internasional di Cebu.

Memuji keteguhan warga Filipina

Paus Fransiskus memuji iman dan keteguhan rakyat Filipina di tengah bencana saat ia mengenang kunjungannya ke negara itu pada Januari tahun lalu.

“Saya bisa menyaksikan langsung iman yang mendalam dan keteguhan umat,” kata Paus, seraya menambahkan bahwa keteguhan ini karena orang-orang Filipina menerima iman sekitar 500 tahun lalu, “mereka telah menyuguhkan kepada dunia contoh kesetiaan dan devosi yang mendalam kepada Tuhan dan Gereja-Nya.

Agama Katolik tiba di Filipina tahun 1521 ketika penjelajah Portugis Ferdinand Magellan mendarat di Pulau Cebu. Paus mengatakan Filipina sejak saat itu menjadi misionaris, “menyebarkan terang Injil di Asia dan sampai ke ujung bumi.”

Paus Fransiskus mencontohkan bahwa meskipun topan Haiyan menghancurkan negara itu tahun 2013, “bencana itu juga mendorong kebaikan orang lain … rasa solidaritas, belarasa, dan kebaikan mereka.”

0202e

Lebih dari 1 juta orang menghadiri Misa penutupan Kongres Ekaristi Internasional.

Masa depan Gereja

Dalam homilinya, Kardinal Charles Maung Bo, Uskup Agung Yangon, Myanmar, utusan pribadi Paus ke kongres tersebut, mengucapkan terima kasih kepada warga Filipina atas keramahan mereka dan “membuat kami bangga menjadi orang Katolik.”

“Buah (Kongres Ekaristi Internasional) harus memperbaharui semangat kerasulan dan misionaris,” kata kardinal Myanmar itu.

Uskup agung itu meminta umat Katolik untuk menjangkau orang-orang muda, seraya mengatakan bahwa “bukan mengharapkan kaum muda untuk kembali ke gereja, sebaliknya Gereja harus kembali kepada kaum muda.”

Dia mengatakan Filipina diberkati dengan integritas keluarga yang kuat dan banyak orang-orang muda, mengutip sebuah survei yang menunjukkan bahwa 52 persen dari penduduk negara itu berada di bawah usia 25 tahun.

“Kaum muda ini adalah masa depan Gereja,” kata Kardinal Bo, seraya mendesak para pemimpin negara untuk melakukan investasi pada orang muda sehingga “Anda akan menjadi negara terkuat dan terkaya.”

“Banyak negara kaya tidak memiliki anak. Masa depan bukan milik negara yang memiliki minyak dan senjata. Masa depan adalah milik bangsa dengan orang-orang muda,” kata Kardinal Bo.

 

1256 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *