Renungan Injil Yoh 13: 16-20

yesus-membasuh-kaki-para-murid-1112

Injil  Yoh 13:16-20

Dalam perjamuan malam terakhir Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Sudah itu Ia berkata: ”Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

RENUNGAN:

Kita sering mendengar seorang pewarta mengatakan bahwa mengikuti jalan Tuhan pasti akan mengalami kesuksesan, dan dijauhkan dari masalah dan kesulitan hidup. Benarkah demikian? Pertama-tama memang kita tidak berharap mendapat duka-derita dengan mengikuti jalan Tuhan. Kalau mungkin, kita berharap perjalanan hidup kita indah dan sesuai harapan. Namun dalam kenyataannya, banyak kali hidup kita justru sulit, apalagi bila sungguh mau hidup dalam kebenaran Tuhan.

Menjadi murid Kristus berarti juga kita siap untuk menghadapi tantangan dan kesulitan. Yesus tidak menjanjikan hidup yang nyaman, namun Ia menjanjikan penyertaanNya yang tak berkesudahan. Panggilan hidup menjadi murid Kristus dan diutus, bukan untuk memperoleh sukses duniawi melainkan untuk memperoleh kemuliaan Ilahi, sebagaimana yang sudah diteladankan Kristus. Kitapun dipanggil untuk mengikuti jalan Tuhan, keteguhan iman kita akan teruji melalui berbagai tantangan dan gelombang kehidupan yang kita hadapi.

Melalui Injil hari ini, Yesus mengingatkan kepada para muridNya dalam perjamuan terakhir bahwa seorang utusan tidaklah lebih tinggi dari pada dia yang mengutusnya. Kerendahan hati tidak sama dengan berkecil hati (minder), tetapi berbesar hati bahwa dipilih dan diutus. Tidak juga menjadi sombong (mengandalkan kekuatan sendiri) tetapi bersandar pada rahmat dan kekuatan Allah.

Dari diri seorang utusan yang rendah hati akan mengalir, melalui kata dan perbuatannya apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Seorang yang rendah hati akan dibimbing utnuk menjadi bijaksana, kapan berkata-kata dan kapan untuk berdiam diri, menjadi pendengar.

Kepada kita Yesus menghendaki hal yang sama, yaitu menjadi murid yang rendah hati dan berani mewartakan Dia. Hanya dengan sikap dasar tersebut, kita akan mengalami betapa rahmatNya mengalir tanpa henti, meneguhkan dan menguatkan kita dalam perjalanan di dunia ini.

DOA:

Ya Tuhan, aku bersyukur atas segala berkat yang aku alami selama ini, semoga aku selalu teguh untuk hidup seturut panggilanMu. Amin.

4261 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *