Lampung Terancam Puting Beliung

63angin

lustrasi angin puting beliung.

BANDARLAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR – Memasuki musim pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim hujan, angin kencang dan puting beliung mengancam Lampung. Ancaman bencana ini mengintai di seluruh kabupaten/kota di Lampung. Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Natar, Lampung, Sugiyono mengungkapkan, musim pancaroba ditandai dengan adanya angin kencang dan puting beliung.

“Hampir menyeluruh. Peluang terjadinya angin kencang bisa terjadi di seluruh wilayah Lampung. Tidak bisa dikotak-kotakkan. Misalnya, daerah A peluangnya besar, daerah B kecil, tidak bisa. Tetapi memang berpotensi di semua daerah,” ujar Sugiyono melalui ponsel, Selasa (10/11/2015).

Menurut Sugiyono, saat ini di beberapa daerah kecepatan angin di atas 20 knot atau sekitar 37,04 kilometer (km) per jam. Sedangkan untuk kecepatan angin normal berada di kisaran 7-8 knot atau sekitar 12 sampai 14 km per jam.

“Bahkan tadi (kemarin) kami mencatat di sekitar kantor (BMKG, daerah Natar) yang daerahnya datar, kecepatan anginnya berkisar antara 20-25 knot atau bisa dikatakan di atas 40 km per jam. Memang sudah luar biasa kencangnya,” papar Sugiyono seperti dirili tribunnews.com, Rabu (11/11).

Namun demikian, terjadinya angin kencang tidak terjadi secara terus menerus. Sugiyono mengungkapkan, angin kencang akan terjadi pada jam-jam tertentu saja.

“Secara umum angin kencang berpeluang terjadi pada siang menjelang sore hari. Antara pukul 13.00 Wib sampai 15.00 Wib. Tapi, belum tentu terjadi setiap hari. Lokasinya juga bisa berpindah-pindah,” jelas Sugiyono.
Ada Perbedaan

Sugiyono menjelaskan, angin kencang dan puting beliung tidak bisa disamakan. Karena, lanjut Sugiyono, sifat kedua angin tersebut berbeda. Untuk puting beliung, faktor utamanya berasal dari awan Cumulonimbus (Cb). Secara umum, awan Cb adalah awan vertikal yang menjulang sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya.

“Sifatnya merusaknya berbentuk spiral atau berputar dan tidak beraturan. Kemudian faktor utamanya dari awan CB. Kemudian memang sangat merusak dengan durasi yang sangat cepat sekali, antara tiga sampai 10 menit,” terang Sugiyono.

Sementara untuk angin kencang, lanjut Sugiyono, embusan angin tidak berbentuk spiral tetapi satu arah. Misalnya, sambung Sugiyono, angin dari arah barat menuju timur atau dari selatan ke utara.

“Biasanya angin kencang terjadi ketika daerah tetangga sudah terjadi hujan. Misalnya, di Bandar Lampung, sebelah selatannya itu sudah hujan, ya anginnya menuju ke sini (Bandar Lampung),” jelas Sugiyono lagi.

Puting beliung, tutur Sugiyono, potensi kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar. Sugiyono mencontohkan, jika angin besar terjadi dan ada pohon tumbang, tetapi arah tumbangnya terhalang bangunan besar, bisa saja tidak terjadi kerusakan. “Tetapi kalau angin puting beliung, walaupun ada bangunan, bisa terangkat itu bangunannya,” ucap Sugiyono.

 

1115 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *