Petani Banting Setir

budidaya-tanaman-singkongBANDARLAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR – Petani adalah pihak yang paling terpukul gara-gara harga komoditas anjlok. Pantauan Radar Lampung dan grup Jawa Pos yang memiliki banyak lahan kebun sawit, kakao, serta kopra, para petani bertahan hidup dengan bekerja seadanya. Harga jual hasil panen yang sangat murah membuat mereka terpaksa menelantarkan lahan. Sebab, makin digarap, makin besar kerugiannya.

Di Lampung, harga komoditas perkebunan pun serupa. Pemicunya, pola musim tanam petani hingga memengaruhi stok hasil perkebunan yang ada di provinsi ini.

’’Tren harga komoditas perkebunan di Lampung masih normal. Namun, perubahan harga tidak bisa diprediksi, karena sewaktu-waktu bisa berubah,” kata Kepala Dinas Perkebunan Lampung Edi Yanto didampingi Kepala Seksi P2HP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan) Cahyani Anggraini di ruang kerja P2HP kemarin.

Untuk di Lampung, ada beberapa komoditas yang harganya sudah masuk ke pihaknya. Yakni kopi dengan harga Rp24.675 per kilogram di tingkat pengumpul. Sedangkan di produsen Rp23.500/kg. Lalu di tingkat eksporter Rp25.900/kg.

Untuk tanaman kakao per kilogramnya di tingkat produsen kini Rp25 ribu, pengumpul Rp26.250, dan eksporter Rp27.860. ’’Lada Rp120 ribu di tingkat produsen, di pengumpul Rp126 ribu, dan eksporter Rp132.300 per kg-nya,” rincinya seperti dilansir radarlampung, Selasa (29/9).

Beralih ke sawit, disebutkannya, harga sawit yang biasa dijual di umur 10-20 tahun terjadi naik-turun. Yakni di 8 September 2015 harganya Rp940,72. Lalu pada 17 September 2015 harga per kg-nya Rp1.037,67.

’’Meski ada kenaikan harga, masih rendah dari sebelumnya pada 5 Agustus Rp1.375.40 per kg. Lalu di 18 Agustus Rp1.218,63 per kg,” terangnya.

Di Mesuji sendiri, harga petani nonmitra kini Rp600 per kg. Untuk Lampung Timur Rp650 per kg, Lampung Utara Rp577 per kg, dan Lampung Selatan hanya Rp435 per kg.

’’Perbedaan ini karena mitra dan nonmitra. Kalau bermitra dengan perusahaan, harga dipatok tidak boleh turun dari kontrak yang telah disepakati. Tetapi kalau tidak bermitra, harga bisa seperti harga pasar dan dapat menjual ke siapa saja,” terangnya.

Selain itu, diketahui dari website http://pip.pertanian.go.id/ untuk tanaman pangan seperti ubi kayu di Bandarlampung harganya Rp2.500. Harga tersebut terlihat terendah kedua setelah Kendari Rp2 ribu per kg. Untuk harga ubi kayu tertinggi yakni di Ambon dengan harga Rp10 ribu.

Sedangkan harga ubi kayu di Bandarlampung tersebut adalah yang tertinggi di provinsi ini. Sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Lampung Tengah Rp900 per kg-nya.

Selanjutnya di hortikultura di Lampung, seperti pisang harga rata-ratanya Rp7 ribu. Di Bandarlampung Rp9 ribu, Lampung Tengah Rp8 ribu, dan Lampung Selatan Rp6 ribu.

Sumatera Ekspres (Sumeks) melaporkan, sejak harga karet dan sawit anjlok, banyak petani yang beralih mata pencaharian dengan menjadi buruh bangunan atau tukang ojek di Sumatera Selatan. Ada pula yang merelakan pohon karet di kebunnya ditebang karena terlilit utang.

Itu terjadi di Kayuagung, harga karet di tingkat petani Rp5.000-Rp6.000 per kg. Padahal, dua tahun lalu harganya Rp12 ribu per kg. Akhirnya, petani menebang karet dan mengganti dengan tanaman singkong. ’’Hasil singkong lumayan, Rp12 juta sekali panen,” ujar Ansori, petani karet Sungai Menang.

Di Tebing Tinggi, petani karet Amsi mengganti kebun karetnya dengan kopi. ’’Harga kopi bagus, bisa Rp19 ribu per kg,” ujarnya. Sambil menunggu panen, Amsi menanam sayuran. Di Muratara, Yansen, pengepul karet Karang Jaya, mengatakan bahwa dampak harga karet rendah adalah petani malas menyadap. ’’Biasanya angkut 20 ton per tiga hari, sekarang 10 ton,” kata dia.

Pengusaha karet Ogan Ilir, Hipni (45), menyebutkan, sekarang banyak petani karet yang menjadi pekebun palawija atau buruh harian. Di OKU Timur, banyak petani yang terlilit utang. ‘‘Sekarang petani sawit sengaja membiarkan sawitnya busuk di pohon,” kata Iwan, warga Madang. Karena tidak ada pemasukan, petani pun terlilit utang. ’’Mereka terpaksa jual rumah dan kebun,” paaprnya.

Petani kelapa sawit Usman mengungkapkan, biaya panen dan angkut hasil sawit kini sudah tidak sebanding dengan harga jual. ’’Malah merugi. Jadi mending tidak usah panen saja, biarkan busuk di batang. Harganya saat ini Rp400-Rp600 per kg. Padahal, tiga bulan lalu masih Rp1.500 per kg,” terang Usman.

Di Baturaja, sebagian petani juga berhenti menyadap. ’’Terpaksa beralih karena getah karet selama kemarau panjang menurun drastis, bahkan banyak yang tidak menetes,” kata Nur, warga SP 7, Desa Mitra Kencana, Kecamatan Peninjauan, OKU. Panen yang semakin sedikit membuat penghasilan petani karet pun turun 60 persen.

Bukan hanya petani komoditas kebun yang merana, pemilik area komoditas tambang juga mengelami masa-masa suram. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Selatan Salim Fachry mengungkapkan, pada 2011-2013 ada sekitar 1.200 perusahaan batu bara. Namun sekarang yang tersisa hanya sekitar 270 perusahaan. ’’Artinya, sekitar 950 perusahaan batu bara di Kalsel rontok dalam kurun dua tahun terakhir,” ujarnya kepada Radar Kalteng (grup Radar Lampung) kemarin.

Di Jambi, Jambi Ekspress (grup Radar Lampung) melaporkan, kalangan petani kehilangan pendapatan 70 persen gara-gara semakin murahnya harga komoditas yang mereka tanam. ’’Susah-susah nian kiniko,” ucap petani sawit di Rantau Gedang, Jambi, Ardi. Petani yang memiliki tanaman sawit sekitar 3 hektare tersebut biasanya sekali panen (15 hari) menerima Rp1,5 juta per hari. Tetapi kini dia hanya mendapat Rp500 ribu. ’’Itu sayo dewek yang manen, dak ngupah lagi,” ungkapnya.

Keluhan yang sama disampaikan petani karet. Saat harga mencapai Rp16 ribu per kg, setiap hari Redo, petani karet di Rantau Gedang, bisa mengantongi uang Rp1 juta. Tapi sekarang uang tersebut baru bisa diperoleh setelah bekerja menderas getah sepekan. ’’Hargo karet murah, getahnyo dikit,” ujar Redo.

Petani karet di Kalimantan Selatan juga mulai beralih pekerjaan. Radar Banjarmasin (grup Radar Lampung) melaporkan, di Kalsel, harga karet dahulu bisa mencapai Rp9.000 per kg. Namun, harga itu terus merosot sejak tahun lalu sehingga tinggal Rp5.000-Rp6.500 per kg. Di sisi lain, musim kemarau membuat daun-daun karet rotok dan memengaruhi produksi getah. Akhirnya, petani karet harus bekerja lebih keras agar dapurnya tetap mengepul. Selesai menyadap, mereka turun ke sawah untuk menanam padi.

1744 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *