Renungan Harian, Selasa 5 April 2016

Selasa Paskah II

Yohanes 3:7-15

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” 3:9 Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” 3:10 Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? 3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. 3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? 3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Renungan

Setiap kali seorang bayi lahir kedunia, hal pertama yang dilakukannya adalah menangis, siapapun bayi itu, entah anak presiden atau anak tukang kebun. Menangis menjadi ciri kehidupan yang pertama dalam kelahiran seorang bayi. Jika bayi yang dilahirkan tidak menangis, biasanya perawat atau dokter akan berusaha membuat bayi itu bersuara menangis, jika tidak menangis, tanda bahya mendekat. Pertanyaannya mengapa kok bayi yang baru dilahirkan selalu menangis? Tentu saja itu sebagai tanda bahwa ia hidup. Tetapi lebih dari itu adalah karena ia berpindah dari keadaan yang serba nyaman, hangat, terjamin di dalam Rahim, kemudian berpindah ke dalam dunia nyata yang serba tidak nyaman. Menangis menjadi tanda peralihan dari situasi yang serba pasti kepada dunia yang harus berjuang sendiri.

Peristiwa kelahiran disatu sisi sebagai peristiwa yang membahagiakan, namun disisi lain merupakan pergulatan antara hidup dan mati. Kelahiran baru membawa perjuangan yang tidak mudah, baik bagi si ibu maupun bagi sang bayi, juga orang-orang yang berada di sekitar persalinan. Kelahiran baru selalu disertai dengan ketidaknyamanan, kekuatiran, keragu-raguan, pergulatan yang panjang. Jika tidak hati-hati, akibat fatalnya adalah hilangnya kehidupan.

Pada hari ini, Injil berkisah tentang dialog Nikodemus dengan Yesus. Apa yang ditanyakan oleh Nikodemus dijawab oleh Yesus dengan persoalan kelahiran baru, kelahiran dalam Roh. Apakah Nikodemus menangkapnya? Tidak, ia mempunyai pola pikir yang berbeda. Yang ditangkapnya adalah persoalan kelahiran fisik seperti kelahiran bayi.

Secara manusiawi, Nikodemus memikirkan bagaimana seseorang dilahirkan kembali, terlebih bagaiman mungkin seorang yang sudah dewasa dan tua hendak dilahirkan kembali. Apakah bentuk seperti itu yang masuk kembali dalam Rahim seorang perempuan? Tidak mungkin dan tidak masuk akal. Sementara yang Yesus maksudkan adalah hidup dalam kebaruan, hidup dalam Roh, dilahirkan secara baru dalam Roh.

Kelahiran baru hanya bisa terjadi dalam iman akan Yesus Kristus, Ia yang telah turun dan surga dan kembali ke surga. Itulah kelahiran baru dalam Roh. Seperti kelahiran seorang bayi, peralihan dari hidup lama kepada hidup yang baru sering kali perlu melewati berbagai hal yang membuat tidak nyaman, membuat ragu-ragu, mungkin juga bertanya-tanya tentang hal itu. Peralihan kelahiran baru dalam Roh tidak mudah diterima oleh setiap orang. Seperti bayi yang tidak terima ketika lepas dari kenyaman dalam Rahim dengan menangis, demikian juga seorang yang dilahirkan kembali dalam Roh disertai dengan mungkin tangisan yang luar biasa.  Jika tangisan itu bukan berasal dari diri sendiri, sangat mungkin juga tangisan itu berasal dari orang lain, orang-orang yang ada disekitarnya, yang mungkin juga berusaha menghalagi proses kelahiran baru itu.

Peristiwa kebangkitan menjadikan para murid dilahirkan kembali dalam Roh. Mereka yang tadinya hidup dalam manusia lama, kini menjadi manusia baru dalam Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Manusia lama ditinggalkan, manusia baru dikenakan para murid. Mantel dari manusia baru itu adalah Yesus Kristus sendiri. Buahnya adalah mereka menjadi orang-orang yang berani dan cerdas dalam banyak hal, terlebih dalam hal mewartakan kebangkitan Tuhan. Kelahiran baru dalam Roh menjadikan cara hidup para murid juga dalam kebaruan, mereka bersekutu dalam doa dan dalam kehidupan harian.

Persekutuan dengan Yesus Kristus itulah yang menjadikan hidup kita baru. Tanpa itu kita masih dalam manusia lama. Persekutuan itu menjadikan hidup kita nyaman kembali, hidup kita bisa berbuah, kita mempunyai jaminan keselamatan di dalamnya.

Seberapa beranikah kita senantiasa lahir kembali dalam Roh? Janji harapan kelahiran baru dalam Roh adalah kehidupan kekal dan keselamatan.

Doa

Ya Tuhan, ampunilah kami orang-orang berdosa. Mampukan kami untuk mempunyai semangat pembaruan diri. Semoga kami berani senantasa membarui diri menuju yang lebih baik dan lebih kudus. Semoga apa yang kami perbuat menjadi perwujudan hidup baru kami dalam Roh dan kebenaran. Semoga kami tidak mudah lelah menjadi manusia baru dalam nama-Mu. Amin.

 

1769 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *