Kardinal Hong Kong desak otoritas Beijing hentikan pembongkaran salib

Hong Kong cardinal John Tong Hon attends a mass at the St Peter's basilica before the conclave on March 12, 2013 at the Vatican. Cardinals moved into the Vatican today as the suspense mounted ahead of a secret papal election with no clear frontrunner to steer the Catholic world through troubled waters after Benedict XVI's historic resignation.The 115 cardinal electors who pick the next leader of 1.2 billion Catholics in a conclave in the Sistine Chapel will live inside the Vatican walls completely cut off from the outside world until they have made their choice.  AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS

Uskup Hong Kong, Kardinal John Tong Hon

Uskup Hong Kong Kardinal John  Tong Hon telah mengeluarkan “seruan dengan mendesak” ketua Partai Komunis di Beijing, menghentikan  kampanye pembongkaran salib yang sedang berlangsung di Provinsi Zhejiang.

“Saya menyerukan pemerintah pusat untuk menghubungi pemerintah Provinsi Zhejiang dan melakukan investigasi terhadap situasi tersebut dan menghentikan pembongkaran salib  ilegal,” kata Kardinal Tong dalam sebuah pernyataan pada 12 Agustus.

Pihak berwenang Tiongkok harus “kembali ke jalan yang benar, pentingnya menempatkan konstitusi pada posisi yang tertinggi,” kata prelatus itu.

Kardinal juga meminta umat Katolik di Hong Kong berdoa dan berpuasa untuk penghargaan terhadap martabat dan kebebasan beragama guna berbagi penderitaan dengan saudara-saudara mereka yang teraniaya di Tiongkok.

Seruannya muncul setelah pemerintah Tiongkok pada 11 Agustus bahwa ada rumor yang beredar di antara para pemimpin Kristen dan di media sosial bahwa kampanye 20 bulan, yang telah menyeksikan  penghapusan lebih dari 1.200 salib, akan dihentikan.

Seruan ini juga terjadi kurang dari seminggu setelah Uskup Agung Anglikan di Hong Kong, Paul Kwong, meminta otoritas Tiongkok untuk menghentikan pembongkaran salib di Provinsi Zhejiang, yang merupakan rumah bagi sekitar 2 juta orang Kristen, termasuk 210.000 umat Katolik.

Pengamat di media sosial mengkritik para pemimpin Kristen di Hong Kong, yang lamban mengeluarkan tanggapan terkait pembongkaran salib.

Segera setelah itu mingguan keuskupan itu, Kung Kao Po, mem-posting pernyataan Kardinal Tong pada halaman Facebook-nya, blogger Anthony Yuen menulis pesan di Facebook tersebut dengan mengatakan seruan Gereja sangat terlambat.

“Mengapa respon muncul sedikit terlambat?” tanyanya.

Sebagai tanggapan, Suster Pauline Yuen mengatakan pernyataan kardinal  ”lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali”.(indonesia.ucanews.com)

 

1067 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *