Tiongkok Memiliki 112 Uskup, 99 Masih aktif
RADIO SUARA WAJAR – Statistik terbaru Gereja Katolik di Tiongkok yang dibuat oleh Pusat Studi Roh Kudus Keuskupan Hong Kong menunjukkan jumlah uskup komunitas “terbuka” atau yang diakui oleh pemerintah adalah lebih dari dua kali lipat dari uskup komunitas “bawah tanah” yang tidak diakui. Tahun 2016, Tripod, sebuah jurnal triwulan dari pusat itu, telah merilis serangkaian statistik tentang Gereja Katolik di Tiongkok tahun 2015.
Menurut Tripod, ada 112 uskup berkarya di Tiongkok, termasuk 99 uskup masih aktif melayani di keuskupan, sementara 13 uskup sudah tidak aktif lagi.
“Uskup yang tidak melayani berarti uskup tersebut telah pensiun atau dipaksa untuk pensiun,” kata Anthony Lam Sui-ki, editor eksekutif Tripod, kepada ucanews.com.
Statistik 2015 menunjukkan bahwa ada 70 uskup komunitas Gereja terbuka, menurun 11 uskup dari tahun 2014. Untuk komunitas bawah tanah, ada 29, menurun 13 uskup dari tahun 2014. Menurut laporan, hanya Uskup Koajutor Joseph Zhang Yinlin dari Anyang dan Uskup Martin Wu Qinjing dari Zhouzhi ditahbiskan di Gereja terbuka tahun 2015. Sembilan uskup baru lainnya sebagai uskup dari Gereja terbuka, sebelumnya milik Gereja bawah tanah, kata Lam.
“Beberapa uskup tidak lagi berpikir bahwa mereka dari komunitas Gereja bawah tanah, jadi kami menganggap mereka sebagai milik komunitas terbuka,” katanya. Namun, ia menolak untuk mengungkapkan siapa mereka.
Seorang uskup bawah tanah mendapatkan pengakuan pemerintah berarti mereka telah sepakat untuk diatur oleh pemerintah.
Penurunan panggilan
Lam menyatakan bahwa panggilan religius di Tiongkok menurun seperti yang ditunjukkan dari jumlah imam, suster dan seminaris. Menurut statistik 2015, ada 2.500 imam dan 3.170 biarawati dalam Gereja terbuka, penurunan 100 imam dan 80 suster tahun 2014. Adapun Gereja bawah tanah, ada 1.300 imam dan 1.400 biarawati, masing-masing turun 100 dan 130.
Gereja terbuka memiliki sembilan seminari di seluruh Tiongkok. Jumlah seminaris menurun dari 560 menjadi 425. Gereja bawah tanah saat ini memiliki sepuluh seminari dengan jumlah seminaris menurun dari 300 menjadi 200 antara tahun 2014 dan 2015. Namun, ada perubahan signifikan di seminari menengah dalam Gereja terbuka dengan peningkatan tiba-tiba dari 11 menjadi 20 dalam satu tahun terakhir.




