Renungan Injil Matius 14: 13-21

11811485_10204469104235395_45349820228791209_n

Injil Mat. 14: 13-21

Setelah Yesus mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis, menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: ”Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka: ”Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: ”Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata: ”Bawa¬lah ke mari kepada-Ku.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

RENUNGAN:

Sejak awal sebenarnya Gereja telah melihat dan mengartikan peristiwa “penggandaan roti dan ikan” itu sebagai peristiwa yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: Ekaristi, di mana Yesus memberi makan jutaan manusia setiap hari dengan tubuh dan darah-Nya.

Bayangkanlah rahmat yang tersedia bagi kita pada Misa Kudus, kalau saja kita mau mendengarkan Sabda Tuhan. Lalu apa lagi yang dapat lebih mengubah hidup kita daripada persatuan kita dengan Yesus, karena Dia sendiri memperkenankan tubuh dan darah-Nya menyatu dengan tubuh dan darah kita lewat Ekaristi yang kita santap. Konsili Vatikan II menyatakan: “Jadi dari Liturgi, terutama dalam Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya” (Konstitusi Liturgi 10)

Namun demikian, kita semua mengetahui bahwa betapa mudahnya kita ke gereja untuk merayakan Ekaristi tanpa mengharapkan diri kita diubah, hanya sebatas menjalankan kewajiban saja. Dan juga kita harus mengakui bahwa kurangnya persiapan yang baik sebelum Misa. Misal meluangkan waktu untuk membaca bacaan-bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa, sehingga ketika sabda Tuhan diwartakan dalam liturgi kita pun akan mendengar Yesus sendiri berbicara kepada kita secara pribadi.

Dengan permenungan ini semoga kita semua dapat merayakan Misa Kudus dan meresapkan sabda-Nya serta mengalami seperti apa yang diajarkan oleh Gereja yang kudus di atas.

DOA:

“Tuhan Yesus, aku sungguh takjub menyaksikan dan mengalami belarasa-Mu dalam hidupku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengurbankan hidup-Mu sendiri di atas altar salib agar aku mempunyai hidup-Mu dalam diriku. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.”

4189 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *