Renungan Injil Yoh 6: 24-35

11781855_10204464509960541_5316041560058139722_n

Injil Yoh 6: 24-35

Di seberang danau Galilea ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: ”Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: ”Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Maka kata mereka kepada-Nya: ”Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.” Maka kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: ”Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: ”Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

RENUNGAN:

Tuhan Yesus prihatin atas berbagai kebutuhan kita yang mendasar dan kesejahteraan kita. Dia menyediakan makanan fisik (menggandakan roti dan ikan) dan juga makanan spiritual. Itulah sebabnya Yesus “bersembunyi” di dalam roti dengan segala kuat-kuasa-Nya guna menjadi makanan bagi jiwa para pengikut-Nya.

Kita tahu bahwa Tubuh dan Darah Kristus (Ekaristi) tidak akan mengubah kodrat manusia kita yang sangat rentan terhadap kejahatan. Juga tidak akan mengubah kecenderungan-kecenderungan kita dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Lalu bagaimana? Sadarilah bahwa dalam Ekaristi Allah memberikan diri-Nya sebagai makanan sbg tanda kasih-Nya. Namun dari diri kita yang lemah dan cenderung berdosa, kita harus menanggapi dengan membalas mengasihi Dia.

Kasih kita kepada-Nya harus membuat kita merasa malu untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya. Memang kita masih memiliki kodrat yang cenderung berdosa, berkeinginan untuk mencuri, berbohong, tergila-gila main perempuan, sibuk mabuk “miras” atau narkoba, berdosa, melakukan korupsi dlsb. Namun sekarang, memikirkan hal-hal seperti itu memuakkan karena semua itu menyakitkan hati-Nya, Dia yang kita kasihi.

Akhirnya kita sadari bahwa Ekaristi memberi makanan dan memperkuat kita, membuat kita menjadi lebih berani. Tidak dengan menghapuskan godaan, melainkan dengan membuat kita lebih kuat untuk mengatakan “tidak” terhadap godaan tersebut. Bukan dengan membuat hidup menjadi empuk-nyaman, melainkan dengan memberikan kepada kita keberanian untuk dengan gigih berjuang melawan segala godaan tersebut.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkan kami semua dari dosa dan maut. Walaupun iman kami lemah, Engkau datang ke tengah-tengah kami dan memberi makan untuk iman kami yang kecil ini agar bertumbuh terus. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.”

2832 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *