Cermin Kerukunan, Tarian Sawat dari Umat Islam untuk Peresmian Gereja di Ambon

sawat buru

Ilustrasi

Cermin Kerukunan, Tarian Sawat dari Umat Islam untuk Peresmian Gereja di Ambon

AMBON, KOMPAS.com – Setelah dilanda konflik sosial bernuansa agama selama bertahun-tahun sejak Januari 1999, masyarakat Maluku sempat tenggelam dalam kondisi yang sangat terpuruk. Kini, dengan berbagai upaya, semua pihak terus merajut dan mempererat kembali tali silaturahim.

Mereka bertekad mewajudkan Maluku sebagai laboratorium perdamaian dan pendidikan multikultural. Hal itu tampak dalam acara peresmian Gereja Katolik St Jacobus Paroki Ahuru, Kota Ambon, Minggu (31/5/2015) kemarin.

Gereja tersebut pernah terbakar ketika konflik. Proses pembangunan kembali memakan waktu sembilan tahun 10 bulan dengan anggaran lebih kurang Rp 10 miliar. Dalam acara peresmian itu, semua warga terlibat.

Tarian Sawat diiringi alat musik rebana dimainkan umat beragama Islam untuk menjemput Gubernur Maluku Said Assagaff berserta rombongan. Grup suling bambu dari Jemaat Gereja Kristen Protestan Petra turut menghimbur para tamu. Mereka juga mengikuti Perayaan Ekaristi dari luar gedung gereja.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy yang beragama Kristen Protestan, mengikuti perayaan misa di dalam gereja. Perayaan berlangsung lebih kurang dua jam.

Dalam sambutannya, Said meminta semua pihak mendukung terwujudnya Maluku sebagai laboratorium perdamaian dan pendidikan multikultural. Kondisi saat ini semakin meyakinkan pemerintah bahwa masyarakat Maluku tidak butuh waktu lama untuk memulihkan kembali kondisi yang pernah terpuruk.

Said berharap agar masyarakat terus merajut kembali tali silaturahim dan mempererat jalinan persahabatan yang sudah tertanam sejak dahulu. Ikatan persaudaraan di Maluku dikenal dengan sebutan pela gandong. Masyarakat diharapkan tidak terpengaruh dengan provokasi yang menginginkan Maluku tidak aman. Pengalaman konflik menjadi pelajaran berharga.

Uskup Diosis Amboina Mgr PC Mandagi MSC mengimbau umat Katolik agar menjadi pewarta perdamaian. Pembangunan gedung gereja katanya, bukan menjadi ukuran. “Umat Katolik harus menunjukkan dalam sikap hidup dan perilaku keseharian di tengah masyarakat. Hal itu diawali dengan mendekatkan diri dengan Yesus,” ucap dia.

Wisata rohani
Richard Louhenapessy menambahkan, gereja yang pernah terbakar itu dijadikan sebagai wisata rohani sehingga akan dipromosikan dalam program “Mangente Ambon” (mengunjungi Ambon). Wisatawan yang datang akan diarahkan ke tempat itu.

Selain gereja, di Ahuru terdapat pula Gua Maria yang menjadi tempat ziarah umat Katolik. “Pemerintah akan mendukung penataan wisata rohani, dan tempat ini menjadi milik kita bersama, bukan hanya umat Katolik saja. Oleh karena itu, mari kita jaga dan rawat bersama,” katanya.

1253 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *