Gua Maria Kerep Ambarawa Jadi Mercusuar Iman Bagi Umat Katolik, Muslim

1510605_10153039649928439_7276138504940611173_n

Ikon baru Di Gua Maria Kerep – Patung Maria Assumpta

RADIO SUARA WAJAR – Kehadiran Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) yang terletak di Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah, menjadi daya tarik khusus bukan hanya bagi umat Katolik tapi juga umat Islam seperti Susilo.

“Awalnya saya ke sini untuk cari ketenangan pikiran dan batin. Ternyata cocok,” kata pria berusia 36 tahun itu.

Susilo yang masih bujang tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah yang terletak di seberang GMKA. Dulu ia mengunjungi GMKA hanya sesekali saja. Namun sejak tiga bulan terakhir, ia mengunjungi GMKA setiap malam.

“Saya sampai GMKA sekitar jam 23.30 WIB, pulang sekitar jam 1.00 WIB. Pulang mengikuti kata hati,” kata buruh bangunan itu. “Kalau saya ke GMKA biasanya berdoa menurut keyakinan saya. Saya cuma meminjam tempat untuk berdoa. Doa yang saya sering panjatkan adalah untuk keluarga.”

Susilo yakin bahwa semua doa yang dipanjatkan dengan tulus akan dikabulkan.

“Banyak teman saya bilang doa-doa mereka terkabul,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia akan tetap mengunjungi GMKA untuk berdoa sampai doa-doanya dikabulkan.

Selain Susilo, setiap hari ada banyak umat non-Katolik yang mengunjungi GMKA untuk berdoa atau sekedar jalan-jalan.

“Kalau yang non-Katolik sekitar 15-50 orang datang ke sini setiap hari,” kata Yohanes Aris Widyatmoko, kepala kantor sekretariat GMKA.

Menjadi magnet

GMKA yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Semarang (KAS) telah menjadi magnet wisata rohani sejak diberkati oleh Mgr Albertus Soegijapranata SJ yang saat itu menjabat sebagai vikaris apostolik Semarang pada 15 Agustus – Hari Raya Maria Diangkat ke Surga – tahun 1954.

“Banyak anak muda (datang ke sini) karena di sini ada magnet yaitu taman GMKA. Jadi mereka biasa menghabiskan waktu di sana. Meskipun mereka berkerudung, mereka sudah merasa tidak tabu,” kata Widyatmoko.

Salah satunya adalah Marwiyah, seorang perempuan Muslim yang bekerja sebagai pengasuh untuk seorang wanita lanjut usia Katolik yang tinggal di Kota Semarang. Ia biasa menemani majikannya saat mengunjungi GMKA sekali dalam seminggu.

“Saya berjilbab, tapi saya merasa nyaman masuk ke sini. Saya punya agama sendiri, mereka punya agama sendiri. Jadi saya merasa menghormati,” katanya.

Tapi bukan hanya taman GMKA yang menjadi magnet wisata rohani. GMKA yang berdiri di atas lahan seluas 5,5 hektar juga memiliki ruang doa, 14 stasi Jalan Salib dan sebuah kapel serta beberapa fasilitas lain seperti enam unit gedung transit berlantai dua, aula, toko devosional, kantin dan lahan parkir.

“Yang membuat saya tertarik untuk datang adalah patung Bunda Maria. Kalau dilihat, Bunda Maria itu tersenyum, cantik. Dia seperti dewi. Hati saya merasa tenang, senang,” kata Putrimah, seorang wanita Muslim berusia 51 tahun yang tinggal di Dusun Ngampon.

Ibu dari empat anak yang bekerja sebagai tukang pijat itu mengunjungi GMKA setidaknya sekali dalam sebulan. Terkadang ia membawa serta anak-anaknya.

“Saya tidak tahu soal Bunda Maria. Cuma saya senang melihat Bunda Maria,” katanya.

Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta tidak keberatan jika GMKA dianggap sebagai sebuah tempat wisata rohani.

“Boleh dikatakan sebagai wisata rohani. Baik, justru ini yang kita harapkan. Ada berbagai cara untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Masing-masing agama mempunyai habitus sendiri, punya tata ibadah sendiri. Kita tidak menutup untuk diri kita sendiri,” katanya.

IMG_1883

Lebih dari 7.500 peziarah mengikuti upacara pemberkatan ikon baru -patung Maria Assumpta pada 15 Agustus 2015

Devosi

Bagi umat Katolik seperti Rosalina Budi Astuti, 54, GMKA menjadi tempat yang paling tepat untuk melakukan devosi. Ia rutin mengunjungi GMKA sejak setahun lalu.

“Kalau ke sini setiap malam Selasa kliwon dan malam Jumat kliwon. Pasti ke sini sama Bapak (suami). Saya berdoa Rosario,” kata umat Paroki St. Paulus di Sendangguwo, Semarang, itu.

Menurut Mgr Pujasumarta, iman umat Katolik setempat bisa dilihat dari devosi mereka yang begitu kuat terhadap Bunda Maria.

KAS sendiri, misalnya, memiliki 32 Gua Maria: delapan di Kevikepan Semarang, tiga di Kevikepan Kedu, 12 di Kevikepan Surakarta, dan sembilan di Kevikepan Yogyakarta.

Di tingkat nasional, Gua Maria yang paling populer adalah Gua Maria Sendangsono yang diberkati pada 8 Desember 1929. Gua Maria ini dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes di Promasan, Yogyakarta.

Sendangsono berasal dari kata “sendang” yang berarti mata air dan “sono” yang merupakan nama pohon. Sendangsono, atau mata air di bawah pohon, merupakan tempat di mana benih-benih pertama iman Katolik ditaburkan lebih dari 100 tahun lalu di Jawa. Pada 14 Desember 1904, Pastor Frans van Lith SJ memberkati mata air itu dan menggunakannya untuk membaptis 171 umat Katolik Jawa yang pertama.

Namun alasan geografis membuat banyak umat Katolik lebih memilih untuk mengunjungi GMKA dan bukan Gua Maria Sendangsono.

“GMKA menjadi besar karena dikunjungi banyak orang. Dibandingkan Sendangsono, GMKA banyak dikunjungi. Alasannya mudah dicapai, geografis,” kata Mgr Pujasumarta.

IMG_1786

Rosalina Budi Astuti berdoa Rosario di depan Gua Maria di GMKA

Ikon baru

Semakin banyak peziarah nampaknya akan mengunjungi GMKA khususnya setelah tanggal 15 Agustus tahun ini ketika sebuah patung Maria Assumpta setinggi 30,7 meter yang dibangun di GMKA diberkati oleh Mgr Pujasumarta.

Untuk pemberkatan patung itu sendiri yang berlangsung pada Sabtu sore, sekitar 7.500 peziarah dari berbagai wilayah di Indonesia dan bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia memadati GMKA.

“Ada keinginan supaya kawasan ini ada ikon yang memukau. Lalu salah satunya adalah memanfaatkan momentum ulang tahun setiap tanggal 15 Agustus. Itu adalah Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Itu menjadi pelindung dari GMKA ini. Supaya bisa didatangi orang, harus ada sesuatu yang mengikat,” kata Mgr Pujasumarta.

Tiga pemahat Katolik membutuhkan waktu selama setahun untuk menyelesaikan pembuatan patung yang terbuat dari pasir silika dan resin itu. Ketiganya adalah kakak-beradik.

“Patung itu wujud dari kami bertiga untuk persembahan,” kata Nugroho Adi Prabowo, salah seorang pemahat. Kedua pemahat lainnya adalah Koentjoro Budi Pranoto dan Hartanto Agung Yuwono.

Ada alasan historis mengapa ikon baru tersebut dibangun di GMKA.

“GMKA diberkati berkaitan dengan peringatan 100 tahun dogma ‘Maria Terkandung Tanpa Noda’ pada tahun 1954. Tahun itu pula merupakan tahun syukur Gua Maria Lourdes Sendangsono yang diresmikan pada 8 Desember 1929, yang berarti juga 50 tahun setelah peristiwa pembaptisan 171 orang di Kalibawang oleh Romo Frans van Lith SJ,” kata Mgr Pujasumarta.

Pemberkatan Patung Maria Assumpta disusul dengan prosesi replika patung dan lilin bernyala. Lalu Misa Kudus untuk memperingati Ulang Tahun GMKA ke-61 digelar dan dilanjutkan dengan adorasi Sakramen Mahakudus.

“Kami tahu (soal pemberkatan itu) dari YouTube. Kami merasa bahagia,” kata Levita Michael, seorang peziarah dari Sabah, Malaysia.

Arfiana, 23, seorang remaja Muslim asal Kalimantan Timur, mengunjungi GMKA untuk melihat ikon baru tersebut menjelang pemberkatan. “Saya tahu tempat ini dari teman. Lumayan bagus tempatnya, patungnya,” katanya.

Ikon baru itu diharapkan mampu meningkatkan kerukunan antaragama khususnya antara umat Katolik dan Islam di masa yang akan datang.

“Kehadiran Patung Maria Assumpta GMKA bukan langkah mundur dialog antar-umat beragama lain, sebaliknya menjadi tonggak kokoh untuk memajukan dialog antar-umat beragama untuk membangun persaudaraan sejati berdasarkan cinta kasih, pokok pengalaman akan Allah pada setiap orang beragama,” kata Mgr Pujasumarta.

IMG_1888

Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta menaiki crane saat memberkati patung Maria Assumpta

Kerukunan antaragama

Terletak di Ambarawa, satu dari 19 kecamatan di Kabupaten Semarang yang memiliki polulasi sekitar 970.000 jiwa dan 87 persennya adalah Muslim, GMKA telah menawarkan berbagai kegiatan antaragama sejak diberkati 61 tahun lalu.

“Salah satunya Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS setiap enam bulan sekali mengadakan temu kebatinan di sini. Panitia banyak mengundang narasumber dari Muslim,” kata Widyatmoko.

Suhadi Maskur, seorang tokoh Muslim dari Mesjid Agung Palagan Ambarawa, tidak pernah melarang umat Islam untuk mengunjungi GMKA.

“Saya tidak masalah jika ada umat Islam yang datang ke tempat ziarah GMKA. Umat Islam mau datang ke sana, ya silakan. Tapi jangan mengganggu,” katanya.

Menurutnya, kehadiran GMKA turut membantu meningkatkan kerukunan antaragama di wilayah itu.

“Tidak pernah ada masalah antaragama di sini. Take and give, menerima dan memberi. Itu bentuk kerukunan antaragama di sini. Kasih sayang antarumat beragama modalnya,” kata pria berusia 86 tahun itu.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Semarang Sinwani mengatakan bahwa ketegangan yang sering muncul biasanya berkaitan dengan pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk tempat ibadah.

Bukan hanya di wilayah itu, Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah telah menciptakan sejumlah masalah di berbagai wilayah di Indonesia.

“Tidak pernah ada konflik. Masalah itu pendek tapi terselesaikan. Di sini tidak ada konflik, adanya perbedaan. Perbedaan itu tidak sampai menimbulkan konflik yang besar, bisa kami tangani. Perbedaan itu indah. Dalam Islam, perbedaan itu rahmat,” katanya.(ucanews.com)

Katharina R. Lestari, Kerep

 

3055 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *