Tak Hanya untuk Katolik, Gua Maria Ngison Nando Terbuka bagi Semua

Gua Santa Perawan Maria Bunda Allah di kawasan Rumah Khalwat Ngison Nando, Kalianda, Lampung Selatan. Foto : Romo Roy
RADIO SUARA WAJAR, LAMPUNG SELATAN — Gua Santa Perawan Maria Bunda Allah di kawasan Rumah Khalwat Ngison Nando, Kalianda, Lampung Selatan, bukan sekadar tempat doa umat Katolik. Lebih dari itu, lokasi yang dibangun sejak 2015 ini menjelma menjadi ruang spiritual lintas iman, tempat siapa pun boleh datang, berdoa, dan mencari ketenangan.
Berada di Jalan Soekarno Hatta (samping Kodim 0421), RT 3/RW 7, Dusun VII, Kedaton, Gua Maria ini berdiri di tengah kawasan Rumah Khalwat Ngison Nando yang memiliki luas sekitar 8 hektar. Meski berada di area rumah religius, pintu Gua Maria terbuka lebar bagi masyarakat umum.
Pimpinan Komunitas (Piko) Rumah Khalwat Ngison Nando, Suster Stefani HK, mengatakan keterbukaan menjadi prinsip utama pengelolaan tempat doa tersebut.
“Di sini tidak dibatasi, semua boleh datang ke Gua Maria ini,” ujar Sr. Stefani saat ditemui Radio Suara Wajar, Senin (9/2/2026).

Pimpinan Komunitas (Piko) Rumah Khalwat Ngison Nando, Suster Stefani HK.
Menurutnya, peziarah yang datang tidak hanya berasal dari satu latar belakang agama. Selama dirinya bertugas, ia menyaksikan langsung keberagaman itu.
“Ada orang Buddha, ada orang Kristen, ada orang Islam berdoa di sini. Syaratnya cuma datang saja,” tuturnya.
Meski terbuka, pengelola tetap menerapkan sistem penjagaan demi keamanan bersama. Setiap tamu yang masuk diminta melapor di pos penjagaan.
“Masuk gerbang itu pasti ditanya, mau ngapain, dari mana. Bukan membatasi, tapi jaga-jaga saja,” jelasnya.
Suasana hening dan penuh toleransi tersebut membuat sebagian peziarah datang bukan hanya sekali. Sr. Stefani mengungkapkan adanya sejumlah kesaksian peziarah yang merasa doanya dikabulkan setelah berdoa di Gua Santa Perawan Maria Bunda Allah.
“Ada yang berdoa di sini, doanya dikabulkan, lalu datang lagi,” katanya.
Dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir, ia mendengar langsung sekitar lima kesaksian dari peziarah, sebagian besar berasal dari Pulau Jawa seperti Semarang dan Yogyakarta.
“Mereka cerita langsung ke saya. Saya baru setahun di sini, tapi sudah dengar beberapa kesaksian,” ungkapnya.
Tak hanya menyediakan ruang doa, Rumah Khalwat Ngison Nando juga menjadi tempat peristirahatan bagi para peziarah. Tersedia 40 kamar dengan kapasitas total sekitar 90 orang. Setiap kamar diisi tiga orang dan dilengkapi AC, lemari, serta kamar mandi.
Bagi peziarah yang menginap, pengelola menyediakan paket lengkap berupa makan tiga kali dan dua kali snack, dengan tarif Rp400 ribu per kamar. Selain itu, terdapat kapel doa di lantai tiga yang mampu menampung 30–40 orang.
Pengelolaan Rumah Khalwat Ngison Nando didukung oleh 18 karyawan dan empat suster, yakni Sr. Stefani HK, Sr. Sita HK, Sr. Veronika HK, dan Sr. Oleta HK. Seluruh kegiatan di tempat ini berada di bawah naungan Kongregasi Suster-suster Belas Kasih dari Hati Yesus yang Mahakudus.
Di tengah perbedaan keyakinan, Gua Santa Perawan Maria Bunda Allah di Ngison Nando hadir sebagai simbol keteduhan, doa, dan persaudaraan, tempat iman bertemu dengan toleransi.***
Penulis : Robertus Bejo





