Renungan Tri Hari Suci

Pengantar

Trihari suci adalah perayaan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Perayaan ini diawali dengan Kamis Putih dan berpuncak pada Paskah. Paskah bukan hanya sebagai puncak perayaan Tri Hari Suci, namun puncak seluruh tahun liturgi. Tengok saja, Paskah disiapkan selama 40 hari (pra-Paskah) dan setelah paskah ada 50 hari masa paskah.

Kamis Putih

yesusbasuhkakimurid
Dalam Kamis Putih (Holy Thursday), kita merayakan Perjamuan Malam terakhir yang dilakukan Yesus bersama murid-muridNya (versi Injil sinoptik: Matius arkus , Lukas). Dalam Injil Yohanes dikisahkan: Yesus membasuh kaki para rasul dan menetapkan Ekaristi, setelah itu Yesus yang berdoa di Taman Getsemani mempersiapkan kesengsaraanNya, menuju salib.

Sejarah Perayaan Trihari Suci
Sejak abad pertama: umat Kristen memang meyakini bahwa peristiwa Paskah (sengsara-wafat-kebangkitan Yesus) adalah inti pokok (dasar) iman kristen. “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14)

Sejak abad ke 4, Kamis Putih ditetapkan oleh Konsili Hippo (tahun 393) sebagai perayaan khusus perjamuan Ekaristi yang diadakan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Terakhir. Selain itu, sejak dulu juga dilaksanakan upacara pemberkatan minyak-minyak (minyak katekumen, minyak krisma, dan minyak pengurapan orang sakit) serta penerimaan kembali para penitent (petobat) masal yang dikeluarkan dari persekutuan umat sejak hari Rabu Abu itu.

Praktek membasuh/mencuci kaki, mulai ada sejak abad keempat. Sebelum abad keempat gereja dilarang oleh Negara. Gereja Kristen sudah diakui oleh negara, sehingga umat bebas berekspresi. Praktek basuh kaki dilakukan: para uskup atau kardinal di dalam gereja: mencuci kaki para imam dan akolit. Abbas (pemimpin biara laki) dan Abdis (pemimpin biara perempuan) juga membasuh kaki semua biarawan/ti di biaranya. Sementara di Roma, Paus akan mencuci kaki para Kardinal dipilih. Ini dipandang sebagai memenuhi mandat yang terbesar di antara saudara-saudara akan menjadi pelayan dari semua.

Sejak tahun 1955 misa Kamis Putih biasa dilaksanakan pada sore hari, sedangkan upacara pemberkatan minyak-minyak itu dilaksanakan di dalam Misa Krisma yang dilaksanakan pada Pagi Hari (di Katedral). Dalam Misa Krisma itu, para imam bersama dan di hadapan Bapak Uskup membaharui janji imamatnya.

Komuni yang disambut pada hari Kamis Putih dan Jumat Agung dikonsekrir / disucikan pada hari ini (Kamis Putih). Oleh karena itu, sebelum misa, Tabernakel dikosongkan. Hosti yang masih tersedia di dalamnya (yang disediakan untuk orang sakit) dipindahkan ke tabernakel cadangan di luar upacara tanpa upacara.

Hari Kamis Putih dirayakan dengan meriah. Upacara ditandai dengan pembunyian bel/lonceng pada waktu mengidungkan lagu Kemuliaan/Gloria (sesudah itu lonceng tidak dibunyikan lagi sampai Malam Paska) dan juga dipakai Prefasi khusus. Sesudah khotbah diadakan upacara pembasuhan kaki. Sesudah Misa, diadakan Perarakan Sakramen Maha Kudus (Sakramen biasanya untuk komuni pada Jumat Agung) menuju ke altar samping, ke tempat Sakramen itu akan disemayamkan, dilanjutkan dengan Upacara Tuguran / Berjaga Bersama Yesus.

Sesudah Misa, altar dibersihkan dari hiasan, kain altar dicabut. Tempat air suci juga dikosongkan untuk diisi dengan air baru yang akan diberkati pada Malam Paska. Oleh sebab itu, Misa Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis Putih tidak diakhiri dengan berkat penutup; melainkan berkat diberikan di akhir Misa Malam Paskah.
Catatan: jika ada paus meninggal pada kamis Putih, ia dimakamkan secara sederhana, atau ditunda setelah minggu paskah

Pada Kamis Putih ini, kita bisa merenungkan teks: Yoh 13:1-15: Yesus membasuh kaki para rasul dan Luk 14:16-21: Penetapan Ekaristi

Pembasuhan kaki (Yoh 13:1-15)

Basuh kaki merupakan tradisi dari bangsa Yahudi sejak lama. Biasanya, seorang pelayan atau budak yang bertugas menyambut tamu, ia mencuci kaki para tamu (lih. 1 Sam 25:41). Bila tidak ada pelayan, seorang tuan rumah menerima tamunya dengan menawarkan air kepada tamu agar mereka mau membasuh kakinya. Basuk kaki, menjadi tanda penerimaan tuan rumah terhadap tamu.

Maka, membasuh kaki yang ditunjukkan oleh Yesus kepada murid-muridNya adalah sebagai bagian dari tradisi Yahudi. Tradisi itu dipandang sebagai suatu hubungan yang penting antara Kristus dengan murid-muridNya. Kisah pembasuhan kaki murid-murid Yesus ini merupakan bagian dari wejangan atau pesan-pesan terakhir Yesus, sebelum Ia wafat: Yoh 13-17. Mari kita lihat adegan Yesus mencuci kaki para murid:

Ayat 1-3: Yesus sadar bahwa saatNya sudah hampir tiba. Injil Yohanes ingin menegaskan: Yesus harus mati dan dimuliakan.

4-8: Yesus mebasuh kaki merupakan lambang puncak perendahan diri Yesus, Yesus yang wafat di salib besok. Saat Yesus membasuh kaki para murid, menjadi simbol bahwa ia melepaskan jubahnya. Wafat Yesus di salib, bukan kegagalan tetapi penyelamatan; wafat yesus adalah jalan yang ditentukan Allah bagi Yesus.

Bagaimana reaksi para rasul:
8-10: faham yang keliru dari Petrus:
11: pembasuhan adalah lambang pembersihan diri oleh sengsara dan wafat Yesus
12-17: aspek moral dari lambang pembasuhan, yaitu para murid semestinya mau melayani sesama dengan rendah hati. Para murid berbuat seperti yang dibuat Yesus, melayani sampai mati.

Maka menjadi pengikut Yesus tidak mungkin hanya hidup enak-enak menyalahgunakan tubuh, tetapi harus berjuang keras, mati raga melayani sesama sampai mati. Menjadi pengikut Yesus, bukan hanya teologi gloria (hanya Alleluya-alleluya di sana-sini), tetapi teologi Golgota: melayani sesama adalah bagian dari hidup kita sebagai murid Yesus. Kita semua mesti yakin, setelah Golgota ada kebangkitan: setelah kita lakukan pelayanan, melayani sesama kita akan mengalami (jiwa raga)… (bukan hanya merasakan: inderawi saja) damai, sukacita dan berkat: shalom..

Melayani sesama, di manapun kita berada: kita tidak usah mencari-cari orang yang sungguh membutuhkan bantuan, namun kita bisa melayani sesama dengan melaksanakan tugas dan tanggungjawab kita di sini, tugas kita masing-masing dengan penuh kesadaran dan semangat. Ibu Teresa dari Kalkuta: Do ordinary things with extraordinary love: melakukan hal-hal biasa dengan cinta luar biasa. Kita bisa melayani saudari sekomunitas dengan cinta yang besar.

Perjamuan Malam Terakhir: Penetapan Ekaristi (Lukas 22:14-23)

Apakah PMT (Perjamuan Malam Terakhir) bisa disebut Ekaristi? Tidak: PMT, dilakukan sebelum Yesus, sengsara, wataf dan bangkit, padahal: Ekaristi adalah perayaan untuk mengenangkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Tetapi: unsur-unsur dalam PE (Perayaan Ekaristi) saat ini adalah kelanjutan dari PMT, bahkan Perayaan Ekaristi ditetapkan dalam PMT

Makna kata-kata konsekrasi yang diucapkan Imam pada saat Doa Syukur Agung ( Luk: 22:14-23)

1. Yesus sungguh hadir dalam Perayaan Ekaristi: Yesus berkata: “Inilah tubuhKu” (Luk 22:19). Dengan kata-kata itu, di dalam Perayaan Ekaristi, hosti dan anggur sungguh-sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Itu adalah iman Gereja Katolik. Maka, Gereja mengenal juga ada adorasi atau sembah sujud di hadapan Sakramen Maha Kudus, dan Hosti Kudus disimpan di Tabernakel. Itu semua karena, Gereja mengakui dan mengimani, bahwa roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan darah Kristus, dalam perayaan Ekaristi.

2. Penebusan dan pengampunan dosa: Dalam perjamuan malam terakhir Yesus berkata: “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu… darahKu yang ditumpahkan bagimu.” (Luk 22:19, 20). Melalui kata-kata itu, yesus menegaskan bahwa Tubuh dan darahNya menghapus dosa-dosa umat manusia. Secara khusus, dalam Perayaan Ekaristi, ada Rahmat pengampunan dosa yang diterima oleh umat yang merayakannya. Maka, disadari atau tidak: walaupun umat sambil ngantuk-ngatuk, saat merayakan Ekaristi: dosa umat diampuni. Dengan kata lain, Ekaristi berdaya menyucikan: merayakan Ekaristi membuat seseorang menjadi lebih suci. Maka Gereja mendorong umat untuk merayakan Ekaristi sesering mungkin (setidaknya pada Hari Minggu atau Hari Raya).

3. Penatapan Ekaristi: Dalam Perjamuan Malam Terahir, Yesus bersabda: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Melalui kata-kata itu, Perayaan Ekaristi ditetapkan oleh Yesus. Yesus memerintahkan kepada Gereja, untuk merayakan Ekaristi. Dengan demikian, Ekaristi diadakan oleh Gereja, bukan karena hobi Gereja, tetapi karena Yesus yang menetapkan dan memerintahkannya.

Perjamuan Malam Terakhir itu dilakukan oleh Yesus dan para Rasul. Maka para rasul-lah yang mendapat legitimasi atau perintah untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Dan dalam perkembangan Gereja, hanya orang-orang yang ditahbiskan saja yang dapat menjadi pemimpin Ekaristi. Oleh karena itu, pada Perayaan Kamis Putih ini terjadi ulang tahun imamat. Dalam perayaan kamis Putih: dirayakan penetapan Ekaristi, dan penetapan pemimpin perayaan Ekaristi.

Oleh karena itu: saat perayaan Kamis putih ini, kita juga perlu berdoa untuk para imam agar mereka tetap setia dalam panggilan dan semakin menjadi berkat bagi umat. Kita perlu memaafkan sekaligus mendoakan secara khusus imam-imam yang kadang-kadang tidak baik, suka marah, kurang tulus melayani, atau memiliki kekurangan yang lain. Semoga para imam semakin setia.

Doa:

Bapa.. anugerahilah para imam kesabaran tatkala terjerumus dalam kesulitan hidup; kerendahan hati saat menikmati kegembiraan; ketabahan tatkala menghadapi cobaan; kemenangan ketika harus melawan musuh yang berniat menghancurkan batin. Bapa.. berilah mereka rasa pedih terhadap dosa-dosa yang mereka buat; rasa terimakasih atas anugerah2Mu; ketakutan akan pengadilanMu, cinta atas kasihMu, kesadaran akan kehadiranMu di segala tempat dan aktivitas, dan tiap hela nafasnya kini dan selamanya. Amin.

Jumat Agung

mahkota-duri_med_hr

Jumat Agung adalah hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota. Hari Jumat Agung, hari mengenangkan wafat Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, Gereja tidak merayakan Ekaristi. Mengapa? Kita tahu bahwa Ekaristi merupakan sakramen Paskah Kristus, sakramen keselamatan, artinya dalam Ekaristi Gereja mengenangkan/merayakan wafat dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa dan maut. Pada hal hari Jumat Agung, hari dimana Gereja mengenangkan Wafat Kristus, sedangkan kebangkitanNya nanti dikenangkan/dirayakan dengan meriah pada hari Paskah raya; maka pada hari Jumat Agung Gereja larut dalam suasana ‘kesedihan’ karena wafat Kristus ini.

Dalam merenungkan sengsara dan wafat yesus di salib, kita bisa merenungkan sejenak, tujuh perkataan yang diucapkan Yesus saat disalib. Tujuh sabda tersebut adalah:

1. Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ dalam lukas 23:34. Dari sabda ini, kita bisa merenungkan dan bertanya diri: apakah aku mampu mengampuni sesama yang bersalah kepdaku?

2. Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ Lukas 23:43 Perkataan itu ditujukan bagi seorang penjahat yang disalib juga di samping Yesus Kristus yang kemudian meminta ampun kepadaNYA. Dari sabda ini kita boleh yakin, orang yang bertobat dan mohon ampun kepda Yesus akan mengalami sukacita.

3. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’: dari sabda ini kita bisa merenung: apakah dalam keadaan tak berdaya, lemah, dan terbatas, kita masih ingat Ibu Maria? maukah kita memohon bantuannya?

4. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ : apakah dalam keadaan terpuruk, jauh dari Allah, jatuh dalam lumpur dosa, kita masih tetap mengaduh, menjalin relasi dengan Allah?

5. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci-:’Aku haus!’ ¬: Apakah kita juga haus (punya kerinduan kuat) untuk selalu melaksanakan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari?

6. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Apakah kita sudah siap menghadap Bapa, karena kita sudah menyelesaikan segala tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita?

7. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Apakah dalam kehidupan sehari-hari aku sudah sungguh-sungguh pasrah kepada Allah?

HIDUP ABADI
Dalam perayaan Jumat Agung, kita juga bisa merenungkan tentang HIDUP ABADI. Sebab, dalam Jumat Agung, kita memperingati sengsara dan wafat Yesus, yang menjadibagian dari HIDUP ABADI yang dialami Yesus. Artinya, HIDUP ABADI itu diawali dengan peristiwa kematian. Kematian sebagia bagian dari hidup. Maka, saudari-saudari terkasih, di manapun pikiran anda berada: di darat, laut, udara; di dunia maya atau dunia nyata, di rumah atau di dalam gereja… bersiaplah… sejenak kita merenung tentang kematian, hidup abadi, akhir kehidupan manusia di dunia ini.

Ada Seorang penyair yang menggambarkan peristiwa kematian itu dalam sebuah puisi:
Suatu hari lonceng akan berbunyi,
Suatu hari hatiku akan berdebar-debar
Seiring dengan teriakan, sekolah usai,
Pelajaran selesai, aku berlari pulang.

Melalui puisi tersebut, penyair ingin mengatakan kepada kita semua bahwa kematian itu sesuatu peristiwa yang pasti akan datang. Setiap orang akan mengalaminya. Seorang pastor, suster, bruder, dokter maupun pak koster akan meninggal. Seorang direktur dan kondektur pasti akan menemui ajal. Seorang yang berwajah imut maupun amit-amit tidak akan hidup di dunia selamanya. Seorang penjahat atau penjahit akan menjumpai maut. Orang yang berbeban berat dan berbadan berat pasti akan memiliki gelar almarhum. Dengan demikian, kita perlu menyambutnya dengan penuh semangat, antusias, dan sukacita. Namun dalam kenyataan sehari-hari: kita sering menjumpai orang yang sedang menghadapi kematian, diliputi kegelapan dan kesedihan. Bisa jadi, kita juga merasa takut menghadapi kematian. Ya, terkadang orang memilih ingin segera meninggal dunia saat ia menderita penyakit yang sulit disembuhkan; saat ia menghadapi masalah yang menyita pikiran, perasaan dan tenaga, yang membuatnya tidak kuat menghadapinya. Atau saat seseorang berumur tua, sendirian, dan tidak dapat menikmati kegembiraan hidup. Sekali lagi, bisa jadi kita juga demikian. Namun, sebagai orang beriman, tentu saja kita akan memegang hidup kita erat-erat dengan naluri untuk mempertahankan hidup yang sudah dianugerahkan Allah.

Saudari-saudariku yang terkasih, kita semua yakin: Allah menentukan waktu yang tepat bagi setiap orang untuk dipanggil menghadap hadirat-Nya. Kita semua yakin bahwa hidup itu berasal dari Allah, kita hanya bertugas memeliharanya. Allah yang berhak mengambilnya dari kita. Namun, ada banyak orang yang melukiskan kematian merupakan sebuah kegelapan di atas kegelapan. Penderitaan di atas penderitaan. Kepedihan di atas kepedihan. Sebab, seringkali, kematian membawa ketakutan, kecemasan, dan ketidaknyamanan. Sebab kematian itu merenggut orang-orang yang berarti dalam hidup kita, mengambil orang-orang yang kita cintai dari antara kita. Kematian membuat kita meratap, berdukacita, dan bertanya-tanya tentang arti hidup.

Saudari-saudariku, Gereja Katolik mengajarkan bahwa: KEMATIAN MEMISAHKAN KITA dengan orang-orang yang kita cintai UNTUK SEMENTARA WAKTU SAJA. SEBAB YESUS KRISTUS akan MENYATUKAN KITA UNTUK SELAMANYA. Yesus benar-benar menyatakan hal itu! Yesus pernah bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25). Hal itu juga ditegaskan St. Paulus dalam: 1 Tes 4: 14, 17: “Jika kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita juga percaya bahwa mereka yang telah meninggal dalam Kristus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Kita selama-lamanya akan bersama dengan Tuhan.”

Saudari-saudariku yang terkasih, kita semua yakin bahwa saudari-saudara kita yang telah berpulang, beriman kepada Yesus, mereka percaya kepada Yesus. Maka kita semua boleh yakin, bahwa jiwa saudara-saudari kita yang telah berpulang itu juga akan tetap hidup di surga, walaupun tubuhnya yang telah dimakamkan, menjadi tanah. Maka, sebagai orang katolik yang percaya kepada Yesus, kita mesti semakin percaya bahwa kematian tidak memutuskan tali kasih kita dengan saudara-saudari kita yang meninggal. Sebab kasih itu ada pada jiwa, bukan pada tubuh. Bayangkan saja, ketika orang-orang yang kita kasihi harus melakukan suatu perjalanan yang panjang, pikiran mereka dapat melintasi jarak yang jauh sehingga seolah-olah jarak itu hanya tinggal sejengkal, dan kasih mereka menyelimuti kita seolah-olah mereka di sisi kita. Begitu pula yang terjadi dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului kita. Walau mereka telah pergi dan kita tidak dapat melihat lagi tubuhnya, kita tak dapat lagi memegang tangannya, mencubit pinggangnya, atau mencium pipinya, kita dapat mengalami kedekatan dengannya dalam roh.

PASKAH

paskah-salib

Kata “Paska” ini sendiri berasal dari kata Ibrani “Pesach” yang artinya passover, ‘dilewati/ diluputkan’ yang mengacu kepada pembebasan bangsa Israel dari penjajahan Mesir, ketika malaikat maut melewati/ meluputkan rumah-rumah orang Israel yang ditandai dengan darah anak domba (lih. Kej 12:21-24). Bangsa Israel kemudian memperingati peristiwa ini dengan perjamuan anak domba, yang disebut sebagai perjamuan paska. Bangsa Israel memperingati perjamuan paska ini setiap tahun untuk memperingati perayaan penebusan, perjanjian Allah dengan mereka, dari penjajahan perbudakan menuju kebebasan, dari kematian menuju kehidupan. Nah bagi kita umat Kristen, peristiwa ini diperingati dan disempurnakan dalam perayaan Paskah, di mana Kristuslah Sang Anak Domba Paska yang dikurbankan, untuk membebaskan kita manusia dari penjajahan dosa. Ini merupakan perayaan penebusan kita sebagai umat Kristiani. Dan karena Baptisan merupakan perayaan disatukannya kita dengan kematian dan kebangkitan Kristus Sang Anak Domba Allah yang oleh-Nya kita menerima penebusan dosa, maka dalam perayaan Paska, kita juga memperingati Baptisan kita.

Menurut Romo Raniero Cantalamessa OFMCap, pengkhotbah Kepausan, penafsiran misteri Paska menurut para Bapa Gereja dapat disimpulkan mencakup empat dimensi:

1) Sejarah. Kejadian-kejadian sejarah membentuk pondasi bagi misteri Paska dan diperingati dalam liturgi Paska.

2) Sakramen dan mistagogi. Kejadian-kejadian historis tentang wafat dan kebangkitan Kristus dinyatakan di dalam diri umat sebagai jalan dari kematian menuju kehidupan. Pertama-tama hal ini dicapai dalam Baptisan dan Ekaristi, tetapi perayaan Paska sebagai keseluruhan, itu sendiri adalah sebuah sakramen, yaitu sakramen Paska, paschale sacramentum.

3) Moral dan kehidupan rohani. Paska merupakan peralihan- pemutusan hubungan dengan kejahatan, pertobatan menuju kebaikan, dan kemajuan dalam kehidupan rohani, sampai mencapai tempat peralihan abadi di Kerajaan Allah.

4) Eskatologis. Di tahun-tahun awal Gereja merayakan Misteri Paskah dengan pengharapan yang jelas akan kedatangan Kristus kembali. Namun lambat laun, komunitas-komunitas Kristen telah memusatkan diri kepada kehadiran Kristus di dalam Gereja sebagai antisipasi liturgis tentang Parousia (kedatangan Kristus yang kedua di akhir zaman). Eskatologi Paskah juga mendorong kerinduan bagi Paska surgawi, maka Misteri Paska menjadi janji akan kehidupan kekal.

Kata “Misteri” berasal dari kata “mysterium (Latin)/ mysterion (Yunani)”, artinya rahasia. Dari keempat dimensi di atas, nyatalah:

1) Adanya suatu ‘rahasia’ rencana Allah, yang bekerja di sepanjang sejarah manusia, yang mencapai puncaknya dalam pengorbanan Kristus di kayu salib, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke Surga.

2) Demikian juga adalah suatu ‘rahasia’ rencana Allah yang terus berkarya dalam sakramen-sakramen Gereja untuk menghadirkan kembali peristiwa pengorbanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus Putera-Nya ke Surga, terutama dalam Baptisan dan Ekaristi.

Dan oleh kuasa Roh Kudus-Nya peristiwa pengorbanan Kristus, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, dihadirkan kembali secara sakramental dalam perayaan Ekaristi. Maka Ekaristi tidak menjadikan misteri Paska sebagai kenangan biasa. Kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi merupakan kurnia-Nya yang terbesar kepada Gereja. Dalam Ekaristi, Kristus menggenapi janji-Nya, “Akulah Roti Hidup yang turun dari Surga. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup… Ia yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku akan memperoleh hidup yang kekal… tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…. (lih. Yoh 6:51,54,56)

Dalam perayaan Ekaristi, kurban Kristus dihadirkan kembali, sebagai peringatan/ kenangan akan Tuhan Yesus yang berpesan, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku,” dan sebagai perjamuan kudus yang melaluinya kita dapat mengambil bagian dalam kurban Paska dan memperbaharui perjanjian baru yang telah dibuat oleh Allah dengan ditandai dengan darah Kristus (lih. Eucharisticum Mysterium 3).

3) Juga dalam kehidupan rohani seseorang, adanya misteri Paska, yang artinya peralihan/ pertobatan, dari kehidupan lama ke kehidupan baru bersama Kristus, tak jarang menyimpan misteri/ rahasia tersendiri, yaitu, bagaimana seseorang dapat sungguh bertobat dari dosa yang telah lama mengikatnya. Sesuatu perubahan yang tak terpikirkan dapat terjadi, sebagai bagian dari misteri/ rahasia karya Allah dalam hidup kita masing-masing.

4) Akhirnya, jika kita menyadari bahwa penggenapan rencana Allah akan tercapai dengan sempurna di akhir zaman, kita juga akan melihat bahwa hal ini merupakan misteri/ rahasia Allah yang belum dapat kita ketahui dengan pasti sekarang ini. Sebab kita tidak tahu kapan saatnya akan tiba, dan seperti apakah kesempurnaan Paska surgawi itu. Yang jelas akan ada persatuan/ persekutuan yang tak terpisahkan antara kita dengan Allah, sebagaimana telah kita alami di dunia ini dengan menyambut Kristus dalam Ekaristi.

Paus Yohanes Paulus II menghubungkan Misteri Paska dengan penciptaan di awal mula dunia, puncak sejarah keselamatan (yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga) dan penggenapan eskatologis di akhir zaman: “Misteri Paska Kristus adalah pewahyuan penuh akan misteri asal usul dunia, puncak dari sejarah keselamatan dan antisipasi dari penggenapan eskatologis tentang dunia. Apa yang diselesaikan dalam Penciptaan dan ditempakan bagi umat-Nya dalam kitab Keluaran, telah menemukan penggenapan yang sepenuhnya dalam Wafat Kristus dan kebangkitan-Nya, meskipun penggenapannya secara definitif tidak akan datang sampai saat Parousia, ketika Kristus datang kembali dengan mulia… (Dies Domini, 18)

Akhirnya, mari mengacu kepada surat Rasul Paulus yang telah mengajarkan betapa rahasia/ musterion kehendak Allah telah ada sejak semula, dan telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus, sebagai persiapan akan penggenapannya di akhir zaman kelak saat segala sesuatunya telah dipersatukan di dalam Kristus. Demikian yang dikatakan oleh Rasul Paulus: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia (musterion) kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi…” (Ef 1:3-10).

JANGAN TAKUT

Pada paskah 2015 ini, bacaan Injil dalam misa Malam paskah diambil dari Mrk 16:1-8. Dalam perikopa itu, terdapat kata takut sebanyak tiga kali. Yaitu: jangan takut (ayt 6), berlarilah mereka meninggalkan makam, karena sangat ketakutan. (ayt. 8). Karena sangat takutnya… (ayt. 8). Mari kita lihat dan merenungkan kata takut.

Rasa takut itu manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Coba, jika ada yang tidak pernah merasa takut, kedipkan mata? Nah.. nggak ada yang kedipkan mata kan? Kita semua pernah mengalami takut. Menurut orang takut atau ketakutan adalah suatu tanggapanemosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus atau rangsangan tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, marah dan sedih.

Takut karena ada suatu pengalaman traumatis masa lalu, takut terhadap sesuatu: benda, orang, situasi, peristiwa, tempat, cerita atau keadaan yang akan terjadi di masa depan.
Contoh: takut kegelapan, takut makan sambel cabe, krn pernah mules, takut melihat hantu, padahal blm pernah melihat haya karena cerita atau lihat di TV,

(Ada OMK yang takut MOBIL.. yaitu MOBILang cinta takut ditolak, takut membangun hidup berumah tangga takut gagal di masa depan,)

Ada juga takut kan sama TUHAN? Takut akan ada hukuman dari TUHAN… dsb.

Takut juga bisa disebabkan karena kita punya standar, aturan, atau keyakinan yang harus dipenuhi, kalau tidak kita akan merasa gagal. Misal: seorang anak sekolah tahu harus disiplin, jika keluar dari kompleks sekolah harus ijin, maka saat ada anak sekolah keluar tanpa ijin, ia merasa takut… Takut juga terjadi saat anak sekolah, mencontek saat ulangan atau ujian, takut diketahui dan dikeluarkan… dsb.
Ada 1001 bentu dan penyebab takut atau ketakutan.

Ketakutan juga diekspreikan secara beragam: menangis, tak bisa berkata apa-apa, menjerit, lari bersembunyi, seperti orang mati (para penjaga kubur), menangis, shock, dan sebagainya

Dalam Injil Mrk 16:6 seorang pemuda (mungkin ini adalah malaikat) berkata JANGAN TAKUT, kepada Maria Magdalena dan maria yg lain, dan kepada kita semua.

Jangan takut untuk apa? Untuk memberitahukan KABAR KEBANGKITAN, WARTA SUKACITA, BAHWA YESUS BANGKIT, kepada murid-murid YESUS.
Dengan kata lain, janganlah kalian TAKUT untuk MEWARTAKAN KEBANGKITAN.

Warta kebangkitan adalah warta sukacita; adalah kabar gembira, adalah kabar keselamatan, warta keabngkitan adalah inti dari iman orang kristen,
1 Kor 15:17 : jika kristus tidak dibangkitkan maka sia-salah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu

Maka, PASKAH, atau kebangkitan YESUS adalah sumber sukacita kita. Maka perlu kita wartakan, sebar-luaskan- pancarkan-gemakan kita bagikan-beritakan kepada sesama…

Bagaimana cara mewartakan kabar sukacita ini?
Mari belajar dari para wanita atau perempuan yang ditampilkan oleh gereja di dalam sekitar paskah ini: selama masa prapaskah ini kita semua secara bersama setiap JUMAT melakukan doa jalan salib. Kita semua hafal atau setidaknya masih ingat akan peristiwa-peristiwa di sekitar sekitar jalan salib itu. Kita bisa menarik sebuah benang merah, ternyata banyak ditampilkan wanita-wanita PEMBERANI yang menunjukkan kualitas imannya akan YESUS.

Saudari-saudariku,  JANGAN TAKUT, adalah kata-kata untuk kita semua, JANGAN TAKUT untuk mewartakan KABAR KEBANGKITAN, JANGAN TAKUT UNTUK BERBUAT BAIK, MEWUJUDKAN IMAN dalam kedidupan sehari2: mari seperti para perempuan HEBAT, PERKASA, PEMBERANI yg mau dan mampu mewujudkan IMAN-nya, yg mau dan mampu menunjukkan kebaikan kepada sesama:
Secara khusus:

1. Jangan takut dalam menolong sesama yg membutuhkan, seperti Veronika: tanpa harus dipaksa seperti simon dri kirene

2. JANGAN TAKUT menghibur sesama yg berduka, putus asa, sedih, banyak beban, mendekati ajal, dalam situasi sulit…

3. BERBAGI SUKACITA, berbagi DAMAI TUHAN pada sesama…
Semoga dengan demikian, iman dan harapan kita semakin berkebang sehingga kita semakin boleh menjadi berkat bagi sesama. Amin. Selamat Merayakan PASKAH…. GBU

3868 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *