Renungan Harian, Jumat 9 September 2016

Jumat Biasa XXIV

Bacaan: Lukas 6:39-42

6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? 6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. 6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? 6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Renungan

Di salah satu stasi di sebuah paroki, jalan menuju dan kembali dari stasi itu harus melalui perkebunan sawit yang sangat luas. Sepanjang jalan yang ada adalah pohon-pohon sawit yang rapi tersusun, juga jalan-jalan yang rapi tersusun. Ada banyak perempatan sepanjang perkebunan itu yang mirip satu sama lain, sekilas semuanya sama saja. Maka bagi yang belum terbiasa, atau yang baru beberapa kali lewat tempat itu, akan sangat mudah tersesat dan tidak bisa keluar perkebunan. Rasanya sudah mengambil jalan yang benar, tapi ternyata hanya berputar-putar dari gang satu ke gang lainnya di dalam kompleks perkebunan.  Melewati perempatan yang mirip-mirip, muncul perasaan ‘sepertinya tadi sudah lewat sini’. Atau bisa jadi keluarnya justru diarah yang bersebarangan dengan yang hendak kita tuju.

Untuk mengatasi itu, salah satu cara yang efektif adalah dengan memanfaatkan drone yang dilengkapi kamera untuk melihat secara keseluruhan perkebunan itu dari ketinggian. Baru dari sanalah didapati cara pandang yang jelas arah mana yang menuntun kita keluar dari perkebunan itu. Dari atas akan terlihat seperti miniatur lokasi sehingga kita bisa melihat keseluruhan dan mampu mengarah pada jalan keluar yang kita perlukan. Di dalam kendaraan kita menjadi tersesat karena kita hanya bisa memandang sekitar kita yang tertutup oleh perkebunan dan fenomena jalan yang mirip-mirip. Jika hanya bertahan di dalam kendaraan, kita tidak mempunyai orientasi arah yang jelas dan benar, membawa ke jalan keluar.

Dalam bacaan hari ini, kita bisa membayangkan bagaimana orang yang hanya mempunyai cara pandang di dalam kedaraan. Ia tidak mampu melihat yang lebih luas, hanya berkutik di lingkupnya, yang bisa ia lihat dan dengar, tidak mempunyai cakupan yang luas. Itulah orang yang hanya memandang balok dalam diri orang lain, sementara balok di depan matanya tidak ia lihat.

Secara lebih personal, kita bisa melihat atau membayangkan berkaitan dengan balok di mata kita, bukan pertama-tama baloknya yang besar, namun mata kita yang menjadi sempit, sehigga memandang balok itu menjadi besar, dan tidak mampu melihat di balik balok karena terhalang oleh balok itu. Supaya bisa melihat di balik balok itu, jika tidak mungkin mengecilkan balok itu, maka mata kitalah yang harus kita besarkan, kita perluas cara melihat kita. Balok adalah benda mati, kitalah yang mengendalikannya, maka mempersalahkan balok tidak ada gunanya. Jauh lebih berguna jika kita berusaha untuk mempunyai mata yang besar supaya mampu mengatasi balok itu.

Dalam banyak hal, kita perlu untuk menaikkan ‘drone’ kita, supaya kita mampu untuk memandang secara luas, menuju jalan keluar dari kebun kesesatan kita. Seringkali kita hanya berjibaku dengan diri kita sendiri di tengah kebun sawit, maka tidak akan mungkin menemukan jalan keluar. Kita tidak mampu untuk memandang yang baik yang ada di luar kebun.

Mari mohon rahmat Tuhan, agar kita mampu senantiasa membarui diri, terbuka terhadap kenyataan di luar diri kita, terbuka terhadap kebenaran-kebenaran yang membebaskan. Ketika kita membuka mata lebih lebar, siaplah untuk mengalami nyeri-nyeri, siaplah untuk sedikit menderita. Ketika balok itu kita keluarkan, mungkin saja akan menimbulkan luka yang dalam. Maka mari mohon rahmat Tuhan, supaya di dalam nama-Nya kita dimampukan untuk itu.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami Engkau beranikan untuk membuka mata secara lebih lebar. Ajarilah kami agar kami mampu keluar dari kenyamanan-kenyamanan yang membinasakan kami sendiri. Semoga karena kasih dan kerahiman-Mu, kami boleh mengalami sukacita karena boleh memandang Engkau sendiri. Semoga kami Engkau dapati setia sampai akhir hidup kami. Amin.

 

1749 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *