Pindah Sel harus Setor Rp 10 Juta

lpRADIO SUARA WAJAR – Geliat “bisnis” di balik jeruji besi menyeruak di Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II Kalianda, Lampung Selatan. Narapidana yang tak mau berdesakan di sel yang melebihi kapasitas, diperbolehkan pindah sel jika membayar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.

Kepala LP Kalianda, Gunawan Trisnadi, menepis adanya pungutan liar (pungli) di “hotel prodeo” yang dipimpinnya. Ia mengklaim sudah bekerja secara maksimal sesuai peraturan yang berlaku. Kondisi LP Kalianda saat ini memang sudah melebihi kapasitas. Idealnya napi di LP Kalianda sebanyak 300 orang, sesuai dengan daya tampung “hotel prodeo” tersebut. Namun, penghuni LP Kalianda saat ini tercatat 700 orang. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat daya tampung LP Kalianda.

Seorang napi di LP Kalianda berinisial AR, menyebutkan bahwa napi harus tidur dalam kondisi berdesakan di dalam sel. Pasalnya, satu sel tahanan ditempati 10 sampai 15 orang.

“Tidur saja harus kondisi menekuk kaki. Kami gak bisa lagi meluruskan kaki saat tidur karena sudah penuh,” kaya AR, kepada Tribun, Selasa (26/1).

AR menyebutkan, persoalan di LP kalianda bukan hanya kapasitas yang melebihi daya tampung. Ada “bisnis” terselubung di balik kondisi napi yang harus mendekam secara berdesakan di dalam sel.

Sejumlah napi berinisiatif untuk pindah sel dan blok tahanan. Pemindahan pun harus tetap disesuaikan dengan pengelompokan napi berdasarkan perbuatan tindak pidananya.
Namun, tutur AR, permintaan pindah sel itu gratis. Napi diminta sejumlah uang oleh oknum petugas. Ia menyebut nominal supaya proses pemindahan disetujui petugas berkisar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

“Di sini kita ditempatkan dalam satu sel tahanan sebanyak 10 sampai 15 orang. Jadi, kami tidur harus meringkuk dan tidak dapat selonjoran. Kalau minta pindah di sini harus bayar kisaran Rp 5 sampai Rp 10 juta,” ucap AR.

Setelah pindah sel, napi pun tetap harus mengucurkan sejumlah uang. Sebab, napi tersebut membayar lagi untuk keperluan seperti air dan kebersihan. AR menyebutkan, roda “bisnis” itu dikendalikan oleh oknum petugas melalui beberapa tamping, atau orang yang ditunjuk untuk mengurus suatu blok tahanan. Di LP Kalianda, sambung AR, terdapat empat orang tamping.

Selain pungli, napi lainnya berinisial DRT, mengaku kerap mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oknum LP. Menurut DRT, tindak kekerasan dialami napi jika jika ada masalah dalam hal pembayaran. Dia pun menyebutkan bahwa ada peraturan tidak tertulis terkait harga-harga kebutuhan di LP Kalianda. Misalnya, penggunaan ponsel di dalam sel tahanan.

 

788 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *