Pak Cip, Sosok Pendiam yang Sedikit Bicara dan Banyak Berkerja

Markus Cipto Suyono (71) di Kediamannya, Desa Marga Kaya, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. (Foto : Robert - Radio Suara Wajar)

Markus Cipto Suyono (71) di Kediamannya, Desa Marga Kaya, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. (Foto: Robert – Radio Suara Wajar)

“Sebab kalau saya enggak menjadi orang pendiam saya takut salah omongan saya, kadang keliru. Sebab jika omongan kita keliru, Tuhan dengar dan juga tahu, saya juga takut itu. Saya hati-hati benar itu (menjaga perkataan). Maka saya pendiam”, jelas Markus Cipto Suyono (71), salah satu tokoh umat di Stasi Paroki Santo Andreas Marga Agung Lampung Selatan, Keuskupan Tanjungkarang.

LAMPUNG SELATAN, PORTER SUARA WAJAR – Kepemimpinan dalam gereja merupakan kepemimpinan yang erat kaitanya dengan keteladanan. Kepemimpinan dalam gereja katolik adalah suatu “pembauran” antara kwalitas alami dan kwalitas spiritual. Disitulah bertindih tepat antara kemampuan dan iman, antara keahlian dan karakter. Seorang pemimpin dalam gereja bukan hanya di nilai kemampuannya saja tetapi juga kesaksian hidupnya.

Demikianlah gaya kepemimpinan yang diterapkan Markus Cipto Suyono (71) di berbagai tempat, yakni dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan gereja.

Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini tak menyangka Suara Wajar akan menginjakan kaki di kediamannya Desa Marga Kaya, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan pada Sabtu 28 November 2015. Istri tercinta Pak Cip, begitu panggilan terkenalnya, Afra Musinah (70) dengan wajah berbinar-binar menyambut kedatangan kami.

Suasana rumah yang begitu asri, dengan corak hijau dan biru kontras terlihat di berbagai sudut rumah Pak Cip. Pria yang dikaruniai tiga anak ini ternyata merupakan salah satu pelaku dan saksi sejarah berdirinya Gereja Paroki Santo Yohanes Marga Agung, Lampung Selatan Keuskupan Tanjungkarang.

Imbas dari meletusnya Gunung tempat bersemayamnya Nenek Lampir pada kisah dongeng, Gunung Merapi, pada tahun 1960, mengakibatkan pemerintah kala itu mengugsikan hampir semua penduduk di area terdampak, salah satunya ke Lampung. Termasuk Pak Cip dan semua keluarganya serta wanita yang bakal menjadi pendamping hidupnya hingga saat ini, Afra Musinah. Benih-benih cinta dua sejoli yang kebetulan satu desa di Jawa ini, tumbuh saat dalam perjalanan ke Lampung di dalam kereta. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengucapkan janji suci sehidup semati pada Desember 1961.

Selain aktif di lingkungan gereja, Kakek yang saat ini mempunyai tujuh cucu ini, juga genap sebelas tahun yakni tahun 1985 sampai 1996 dipercaya masyarakat tempat tinggalnya sekarang menjadi Sekretaris Desa.

Walau Pak Cip seorang Katolik, tapi tantangan untuk memimpin Desa Marga Kaya diakuinya hampir tidak ada. Dengan keteladanan, sedikit bicara dan banyak bekerja menurut Pak Cip, ternyata sangat ampuh untuk memimpin warga desa saat itu. Sikap toleransi antar warga yang berbeda keyakinan terbangun subur di Desa Marga Kaya.

“Saya diangkat menjadi Sekretaris Desa itu dari tahun 1985 sampai tahun 1996. Saya dari tahun 1961 pertama disini Bapak (Ayahanda Pak Cip) menjadi Kepala Desa, saya rasa sampai tahun 1996 itu, semua jabatan perangkat desa sudah pernah saya emban, seperti ; RT, Kepala Dusun, Hansip, Ketua LKMD, Ketua Kelompok Tani, kemudian Penjabat Sementara Kepala Desa, saya sudah empat kali mengemban. Dengan apa adanya yang ditugaskan oleh pemerintah saya emban dan laksanakan dengan apa adanya. Saya engak kepingin hidup mewah, saya sederhana saja, tenang” kata Pak Cip.

Selalu bersyukur dan berserah pada Sang Pencipta dan hidup sederhana diterapkan Pak Cip hinga sekarang. Maka tak heran jika Afra Musinah, wanita setia yang mendampinginya sampai saat ini mengaku begitu bahagia bersama Pak Cip. Afra Musinah dalam bahasa jawa, karena kurang terampil berbahasa Indonesia mengaku, tidak pernah walau sekali terjadi pertengkarang dalam rumah tangga yang meraka bina.

“Rasana ya enaklah, bebrayan karo Bapake. Enggak ono kendala opo-opo. Pokoe yo nyaman, ora nopo-nopo. Pokoe yo rumah tangga yo tentrem. Momong mantu, momong anak putu ora enek kendalane opo-opo. Ora tau tukar padu-padu, ora tau.

Ditemui terpisah, sementara itu, Tokoh Pemuda Stasi Paroki Santo Andreas Marga Agung Yulius Urip Prasojo (38) mengungkapkan rasa kagumnya dengan gaya kepepimpinan yang diterapkan Pak Cip. Menurut Mas Urip, begitu dia biasa akrab dipanggil, Gereja saat ini mengalami krisis keteladanan. Apalagi, sangat sedikit dijumpai tokoh umat yang bisa menjadi panutan. Nah, Pak Cip ini salah satu tokoh gereja yang dapat menjadi panutanan.

“Cara hidup beliau, teladan hidup beliau menurut aku sangat pas jika dijadikan sosok. Misalnya gotong royong, baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di Gereja, beliau pun tidak pernah banyak bicara. Tapi bagaimana beliau memberikan contoh, karena ya bisa dibilang, orang lebih mudah ngomong, tapi tidak mudah untuk berbuat. Tapi kalau Pak Cip tidak banyak bicara, tapi beliau langsung banyak berbuat, jadi memberi contoh atau teladan” pungkas Urip.***

Reporter : Robert

 

 

949 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *