Renungan Harian, Selasa, 27 Oktober 2015

12189037_10204931368751719_2103128347769843422_nSelasa, 27 Oktober 2015
Hari Biasa Pekan Biasa XXX

Injil: Luk 13:18-21

Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.” Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

RENUNGAN:

Kerajaan Allah diumpamakan sebagai biji sesawi yang ditanam di kebun, dan diumpamakan juga dengan ragi yang diadukkan ke dalam tepung terigu. Perumpamaan-perumpamaan ini diberikan Yesus seiring dengan semakin bertambahnya perlawanan terhadap diri-Nya. Dalam terang oposisi ini, Yesus mengundang para murid-Nya untuk memandang Kerajaan Allah seperti ini: “Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya ……Seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya” .

Dua perumpamaan ini memberikan gambaran bahwa Kerajaan Allah itu mulai ketika pertama kali diwartakan oleh Yesus, kepada sekelompok orang yang kebanyakan terdiri dari mereka yang disebut kelompok “orang kecil”. Namun demikian, justru dari kelompok tak berarti inilah Kerajaan Allah yang tak terbatas bertumbuh-kembang dengan pesat di dalam dunia kita yang terbatas. Menghadapi perlawanan atau tidak, Kerajaan Allah akan terus berlanjut di dalam dunia ini, sampai Kristus datang kembali dalam kemuliaan pada akhir zaman.

Yesus juga meminta agar para murid-Nya menerapkan dua perumpamaan ini pada tingkat personal. Apabila kita melihat dengan cara begini, maka kita menyaksikan bahwa bahkan hal-hal kecil sekali pun yang kita lakukan untuk membuat diri kita sebagai sarana Allah untuk turut membangun Kerajaan-Nya akan membawa dampak tidak kecil.

Bunda Teresa dari Kalkuta bekerja di India dan mendirikan sebuah kongregasi religius yang berdedikasi pada “orang2 miskin” di Kalkuta. Kongregasi ini bertumbuh-kembang dengan cepat dan diberkati oleh Allah secara berlimpah untuk menjadi “garam bumi” dan “terang dunia” di tengah masyarakat yang sebagian besar terdiri dari saudari-saudara yang beriman lain. Sekarang kongregasi ini telah menjadi kongregasi multi-nasional yang mengagumkan dalam spiritualitas maupun karya kerasulan mereka. Ini adalah bukti bahwa Allah menggunakan “biji sesawi” dan “ragi” yang ada dalam seorang Bunda Teresa dari Kalkuta guna mencapai karya kasih-Nya secara gemilang.

Pelajaran yang kita dapat tarik dari dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hariini adalah bahwa Kerajaan Allah mulai di hati kita secara kecil-kecilan, namun dapat bertumbuh menjadi sesuatu yang dapat mengubah dunia.

DOA:

“Ya Bapa surgawi, Engkau tidak menetapkan batas sampai mana Kerajaan-Mu akan berkembang. Melalui ketaatanku, datanglah Kerajaan-Mu, dalam hidupku dan dalam hidup orang-orang di sekelilingku. Amin.”

 

1980 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *