Pemimpin Katolik Asia Diminta Mencari ‘Solusi Praktis’ Terkait Krisis Iklim

0819a

Kardinal Charles Maung Bo (tengah) membawakan homili dalam Misa, 18 Agustus di Bangkok.

RADIO SUARA WAJAR – Kardinal Myanmar Mgr Charles Maung Bo mendesak Gereja-gereja di Asia memimpin untuk memerangi perubahan iklim dengan mencari berbagai solusi praktis.

Seruan itu disampaikan Kardinal Bo  dalam homilinya pada Misa pembukaan seminar dua hari tentang perubahan iklim di Bangkok pada 18 Agustus, yang diselenggarakan oleh Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia (FABC).

Kardinal Bo meminta  para pemimpin Gereja Katolik yang berkumpul pada acara itu untuk mengembangkan “berbagai solusi praktis”.

“Kita perlu bergandengan tangan dengan erat dalam perjuangan demi perlindungan alam,” katanya, mengutip ensiklik Paus Fransiskus, Laudato si’.

“Pesan Bapa Suci adalah sebuah seruan tersebut membangkitkan Gereja di Asia Timur,” kata uskup agung Yangon itu.

Pada Juni, Paus mengeluarkan ensiklik baru yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang lingkungan yang membahas tanggapan global terhadap perubahan iklim dan negara-negara kaya bertanggung jawab atas kerusakan tersebut yang berdampak pada orang miskin.

Kardinal Bo, yang pada Februari menjadi kardinal pertama Myanmar, berbicara dalam homilinya tentang bencana alam mengerikan  di negaranya dalam beberapa tahun terakhir.

Topan Nargis, katanya, menewaskan lebih dari 150.000 orang tahun 2008 dan  800.000 orang kehilangan tempat tinggal mereka. Sementara itu, dalam dua pekan terakhir Myanmar telah berjuang mengatasi hujan deras dan banjir yang telah berdampak bagi sekitar 1,7 juta orang.

“Orang miskin kita tidak tahu tentang pemanasan global, tapi mereka telah menjadi korban perubahan iklim selama 10 tahun terakhir,” kata Kardinal Bo, ketua Kantor Pengembangan Sumber Daya Manusia FABC.

“Kita berdiri di persimpangan sejarah. Serangan sporadis pada ekosistem kita sekarang telah berubah menjadi penyakit kronis bagi planet kita. Jadi pertemuan kami di sini perlu memberikan kesan kepada kita semua bahwa urgensinya untuk mengatasi perubahan iklum.”

Berbicara pada pembukaan konferensi, Uskup Ubon Ratchathani Mgr Philip Banchong Chaiyara, ketua Karitas Thailand, memuji pesan Kardinal Bo dan meminta para peserta “mengembangkan strategi memelihara rumah kita masing-masing”.

“Kita semua memiliki peran dalam revolusi ekologi ini yang telah diajak Paus Fransiskus,” kata Uskup Chaiyara.

Pastor Allwyn D’Silva, sekretaris biro perubahan iklim FABC, mengatakan kepada ucanews.com bahwa para pemimpin Katolik di wilayah ini sangat responsif dalam beberapa tahun terakhir.

“(Pada awalnya), banyak orang benar-benar tidak memahami tentang perubahan iklim. Isu ini adalah sesuatu yang baru bagi para uskup,” katanya. “Sekarang ada kesadaran.”

Pastor D’Silva mengakui bahwa Gereja akan berjuang mempengaruhi pemerintah di negara-negara minoritas Katolik di wilayah itu, tetapi tantangan tersebut dapat diatasi melalui persatuan.

“Kita perlu bergabung dengan kelompok sekuler lainnya, maka kita dapat menempatkan tekanan. Kita harus bergandengan tangan dengan orang lain.”(ucanews.com)

1071 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *