Dialog Antaragama Harus Penuh Hormat dan Persahabatan

0948544berita2780x390

Paus Fransiskus dan Suasana Audiensi Para Peziarah di Lapangan Basilica St. Petrus, Roma, Rabu (28/10/2015)

RADIO SUARA WAJAR – Meski pada awalnya hujan deras seakan tiada ada tanda akan berhenti, audiensi mingguan dengan Paus Fransiskus tetap diadakan. Hanya audiensi kali ini sedikit berbeda dengan kebiasaan.

Rabu itu adalah hari terakhir dari tiga hari konferensi internasional peringatan 50 tahun dokumen Nostra Aetate (Jaman Kita) yang diresmikan Paus Paulus VI pada akhir Konsili Vatikan II, pada 28 Oktober 1965.

Oleh karena itu selain ratusan ribu para peziarah yang memadati Basilica St. Petrus, audiensi itu juga dihadiri para perwakilan dari beberapa agama seluruh dunia, para tokoh, serta peserta konferensi yang berjumlah 300 orang.

Dalam awal pidatonya, Paus menyambut para pemuka dan pemeluk agama berbeda terutama yang mereka yang melakukan perjalanan jarak yang sangat jauh untuk bisa bersama. Paus mengungkapkan, dialog antaragama tidak bisa tidak harus terbuka dan penuh hormat, dan harus memberikan “buah”.

Kondisi saling menghormati, dan pada saat yang sama, tujuan dialog antaragama adalah menghormati hak orang lain untuk hidup, menghormati keutuhan fisik mereka, dan menghormati kebebasan dasariah yakni kebebasan hati nurani, kebebasan pikiran, kebebasan ungkapan, serta kebebasan beragama.

Dunia, demikian Paus menambahkan, melihat orang-orang beriman dan mendorong umat beragama untuk saling bekerja sama dengan laki-laki dan perempuan yang berkehendak baik yang tidak menganut agama.

Dunia meminta jawaban-jawaban efektif untuk berbagai pokok persoalan terkait dengan persoalan perdamaian, kelaparan, penderitaan jutaan orang, krisis lingkungan, keluarga yang mengalami krisi ekonomi, keuangan, dan terutama harapan. Paus mengakui bahwa sekalipun tidak memiliki resep untuk masalah-masalah tersebut, orang-orang beriman memiliki sumber daya yang besar yakni doa dan orang yang percaya harus berdoa.

Doa dan pelayanan

Doa adalah harta orang percaya, yang darinya ditarik menurut tradisi keyakinan masing-masing, untuk memohon karunia-karunia yang dirindukan manusia.

Oleh karena itu, dialog antaragama harus berbuah menjadi tunas persahabatan dan kerja sama dalam berbagai bidang terutama dalam pelayanan kepada orang miskin, orang kecil, warga lanjut usia, menerima para imigran, dan perawatan orang-orang terlantar. Oleh karena itu, Paus juga menyerukan agar dunia bersatu untuk membantu Pakistan dan Afghanistan yang dilanda gempa yang kuat.

Ketika terjadi aliran imigran dari Timur Tengah akibat perang saudara, Paus Fransiskus juga memerintahkan institusi gereja untuk menerima dan membantu para imigran dari Timur Tengah.

Sebelumnya, kepada Paus Fransiskus, Jean Louis Kardinal Tauran – Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan mengutip harapan Nabi Yesaya, menjelaskan, bahwa, “Di atas gunung itu akan dikoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa.”

Meski oleh Tauran dikatakan perjalanan ke “gunung” itu terkadang sulit tetapi selalu membanggakan, setelah 50 tahun berjalannya Nostra Aetate di hadapan Paus Fransiskus berdiri para saksi, para ahli waris, dan para tokoh utama.

Pada kesempatan itu, Tauran mengucapkan terima kasih kepada para peserta konferensi dan seluruh para pihak yang “bercahaya” untuk terus berada di jalan dialog dan saling bertemu dalam rasa hormat dan persahabatan.

Oleh karena itu, Tauran mengatakan bahwa mereka yang berkumpul di Lapangan Basilica St. Petrus akan berdoa untuk perdamaian dunia dan bersaksi pada dunia bahwa persaudaraan universal adalah mungkin.

Sementara Presiden Dewan Kepausan Untuk Persatuan Umat Kristiani, Kurt Kardinal Koch kepada Paus Fransiskus menjelaskan sejarah dikeluarkannya Dokumen Nostra Aetate yang antara lain ditandai dengan dialog antara Paus Yohanes XXIII (Paus sebelum Paus Paulus VI) dan ahli sejarah Yahudi, Jules Isaak pada tahun 1960.

Kepada Yohanes XXIII, Jules Isaak menyampaikan sebuah memorandum tentang permintaan mendesak yang mempromosikan pandangan baru hubungan Gereja Katolik dan Yahudi. Pandangan Jules Isaak antara lain adalah tidak mungkin menjadi Kristen dan anti-Semit pada waktu yang sama.

Memorandum itu kemudian menjadi cikal-bakal dari sebuah deklarasi yang akhirnya diperkenalkan sebagai Artikel Keempat dalam Dekalarasi Tentang Hubungan Gereja dengan agama-agama NonKristen, Nostra Aetate (Jaman Kita).

Dari tanggal 24 -31 Oktober 2015, Hermawi Franziskus Taslim – Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (FORKOMA PMKRI) dan AM Putut Prabantoro – Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) mengunjungi Italia. Kunjungan itu terutama untuk menghadiri Konferensi Internasional di Universitas Gregoriana, Roma, Italia dalam perayaan peringatan 50 Tahun diluncurkannya dokumen Nostra Aetate oleh mendiang Paus Paulus VI. Nostra Aetate (Jaman Kita) adalah dokumen independen Konsili Vatikan II yang menjelaskan keterbukaan Gereja Katolik dalam hubungannya dengan Agama Non-Kristiani. Inilah bagian dari rangkaian catatan kunjungan mereka.(kompas.com)

 

1289 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *