Renungan Harian, Selasa 12 April 2016

Selasa Paskah III

Injil: Yohanes 6:30-35

6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? 6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.” 6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” 6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Renungan

Kelaparan dan kehausan menjadi persoalan serius yang banyak terjadi di berbagai belahan penjuru dunia. Ada sementara sebagian yang tidak pernah kekurangan makanan dan minuman, bahkan cenderung berlimpah sisa. Namun ada juga sebagain besar orang yang menderita karena lapar dan haus. Ada sebagian kecil orang yang biaya makannya jauh lebih besar dari pada biaya keseluruhan hidup orang lainnya. Jangankan harga makanan pokoknya, makanan pembukapun ada yang harganya sangat fantastis, tidak mungkin mampu dijangkau sebagian besar orang pada umumnya.

Fenomena umum yang terjadi dalam kehidupan kita, saat ini ada banyak kelompok yang membentuk komunitas karena perkara makanan. Acara-acara televisi juga tidak jarang menampilkan wisata kuliner di berbagai tempat dengan kekhasan makanan masing-masing. Pencinta kuliner rela berburu makanan yang belum pernah ia makan sampai kemanapun makanan itu ada. Mereka membentuk jejaring komunikasi untuk saling memberi informasi berkaitan dengan makanan-makanan yang menjadi andalan didaerah tertentu.

Perkara makan dan minum di satu sisi menjadi perkara yang menjadi keprihatinan bersama karena ada sebagian yang sangat menderita karenanya, namun di sisi lain perkara makan minum mampu menjadikan suata kelompok bersatu dan membangun kekeluargaan yang saling menguatkan. Meski begitu, baik disisi yang sana maupun di sisi yang sini, makan minum itu pada masanya akan berakhir. Sesolid apapun sebuah komunitas kuliner pasti akan mengalami pembubaran. Seenak apapun makanan yang kita makan, pada akhirnya akan berakhir sama. Tidak jarang orang mengatakan enak atau tidaknya makanan itu hanya di lidah saja, selebihnya tidak. Maka ada makanan sehat dan ada makanan enak, dan tubuh membutuhkan makanan yang sehat, sementara lidah membutuhkan makanan yang enak. Kehendak tubuh sering kali diabaikan oleh kekuasaan lidah. Meski tubuh tidak mampu menerimanya, jika lidah sudah memasukkan makanan maka yang masuk dari lidah itulah yang terpaksa diterima oleh tubuh.

Kekuasaan lidah dan kehendak tubuh sering kali tidak bisa disamakan. Padahal lidah adalah bagian tubuh, sementara tubuh justru malah harus ikut kehendak lidah. Kekuasaan lidah tidak jarang justru membuat seluruh tubuh masuk dalam kesengsaraan. Perkara makanan bisa menjadi perkara seluruh tubuh. Apa yang dimakan sangat mungkin mempengaruhi pola pikir dan cara bertindak. Makanan tertentu pasti mempunyai struktur yang berbeda dengan metabolisme yang sebenarnya diperlukan oleh tubuh. Makanan yang berhawa panas sering kali membuat tubuh menjadi lebih panas, mungkin juga emosi menjadi lebih tinggi. Makanan yang segar dan mengandung banyak gizi tentu saja akan membawa orang yang mengkonsumsinya mempunyai tubuh dan segar dan begizi. Kondisi tubuh yang baik mendukung aktivitas tubuh dalam berkarya.

Sesegar atau sebergizi apapun makanan yang kita makan, pada akhirnya akan mempunyai masa kedaluwarsa. Pada masa tertentu tubuh  kita tidak lagi bisa menerima bentuk makanan apapun. Pada masa tertentu tubuh kita akan berhenti. Lalu apa yang akan kita lakukan?

Menyantap makanan yang kekal adalah satu-satunya jalan untuk memelihara tubuh dan jiwa kita. Roti Ekaristi menjadi makanan rohani yang kekal, memberi janji keselamatan yang abadi. Santapan Suci senantiasa memelihara hidup kita, baik fisik maupun rohani. Memang tubuh fisik kita akan berakhir, namun janji kebangkitan badan dan kehidupan kekal menjadi jaminan Kristus sendiri.

Lidah dan tubuh kita tidak hanya memerlukan makanan yang enak dan begizi, tetapi juga memerlukan asupan rohani yang memelihara kesegaran baik tubuh maupun jiwa. Jika kita menyantap Tubuh Kristus setiap hari, memeliharanya dalam diri kita setiap hari, tubuh dan hidup kita akan mempunyai kesegaran yang terus menerus. Suka atau tidak suka, tahu atau tidak tahu, kita memerlukan santapan kekal yang tidak lagi membuat kita haus dan lapar. Santapan itu adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri yang memberi janji kepuasan kekal.

Apa yang kita makan mempunyai peran besar untuk menentukan siapa dan apa diri kita. Makanan yang bergizi dan segar akan membuat hidup kita lebih produktif, hidup lebih adem dan tenang. Sementara makanan yang bernuansa panas juga akan membuat hidup kita cenderung lebih bergerak cepat dan mungkin mudah naik darah. Jika yang kita makan adalah Ekaristi, hidup kita akan penuh syukur dan kerelaan besar untuk membagikan hidup itu menjadi milik kita.

Doa

Ya Tuhan, syukur atas santapan Ekaristi yang senantiasa bisa kami nikmati. Ajarilah kami untuk bisa memilih makanan yang tidak hanya membuat lidah kami menari-nari, namun juga membuah tubuh kami bersorak-sorai. Semoga kami sanggup memilih mana yang kami butuhkan, bukan sekedar apa yang kami inginkan. Tuhan, ajarilah kami menghayati hidup dengan penuh syukur dan sukacita. Amin.

 

1370 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *