Tips Mendidik Anak Agar Pantang Menyerah

Anak pantang menyerah

Anak pantang menyerah

Tips Mendidik Anak Agar Pantang Menyerah

Ada anak yang sangat gigih untuk melakukan sesuatu bahkan pantang menyerah kendatipun ia sebenarnya tidak mampu melakukannya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berbuat ‘sesuatu’ sebelum ia benar-benar ‘tidak bisa’. Namun, ada pula anak yang tidak mau bersusah payah inginnya menerima yang instant-instan saja, tidak mau ia berpikir atau mengeluarkan tenaga. Sedikit-sedikit ia meminta bantuan orang terdekatnya, bisa kakaknya, orang tuanya, bahkan temannya.

Memiliki anak yang gigih dan pantang menyerah memang membanggakan. Sesungguhnya semua anak terlahir dengan kegigihan, Benarkah…? Tentu saja. Anak yang gigih akan tumbuh menjadi seorang yang berjiwa kuat, tidak gampang mengeluh, dan biasanya menjadi seorang yang berhasil, karena mampu menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan.

Mendidik anak agar pantang menyerah adalah justru PR besar bagi setiap orang tua. Berikut kami sampaikan Tips mendidik anak agar pantang menyerah.

1. Bersikaplah optimis dalam keseharian Anda. Orangtua adalah role model anak, dia akan mengamati dan meniru perilaku Anda. Jika Anda belum bisa menerima kondisi saat ini, usahakan untuk tidak berkeluh kesah di hadapan anak. Keluhan Anda atas gagalan atau rencana yang belum tercapai akan menular pada anak.

2. Ikut sertakan anak dalam kompetisi atau lomba. Persaingan salah satu pola perilaku masa kanak-kanak awal. Ketika Anda melihat balita suka berlomba minum susu dengan kakaknya atau saling membandingkan tinggi badan dengan para sepupu, itu tanda perkembangan psikologis balita sehat. Tugas Anda mengarahkan agar persaingan berlangsung sehat, tanpa campur tangan orang dewasa sehingga mendorong anak meningkatkan keterampilan dan daya juangnya.

3. Semangati anak untuk terus mencoba. Jelaskan bahwa kegagalan bukanlah kesalahan terbesar. Anak yang tabah dan pantang menyerah akan memahami bahwa sebuah keberhasilan akan diperoleh melalui usaha yang keras dan menganggap kegagalan sebagai sebuah tantangan. Katakan padanya, “Tidak apa-apa kamu tidak menang kali ini. Besok kita coba lagi. Siapa tahu kamu bisa menang!”

4. Biarkan anak berusaha sendiri, jangan selalu dibantu. Beri anak kesempatan untuk mengerahkan kemampuannya untuk memupuk rasa percaya diri dan mengasah kemandiriannya. Beri contoh di awal cara menyusun balok agar tidak mudah tumbang. Setelah itu Anda dapat mengawasinya dan memberinya semangat agar berhasil melakukannya sendiri.

5. Hargai usahanya, meski gagal. Jangan menuntut kesempurnaan anak tetapi perhatikan proses dan kemajuan anak. Anak yang selalu ‘diteropong’ kesalahannya takkan pernah berani melakukan sesuatu. Hindari komentar negatif, “Kan, sudah diajari berkali-kali. Kok masih belum bisa?” Sebaliknya katakan, “Wah, gambarmu sudah semakin bagus. Lain kali ikut lomba lagi yuk, siapa tahu kamu menang.”

6. Tidak menghina hasil karyanya, karena setiap anak ingin tahu bahwa usaha yang dilakukannya bermanfaat dan menimbulkan reaksi positif dari orang-orang di sekitarnya. Apapun hasil karya anak, dia membuatnya dengan tulus dan usaha maksimal. Gambar wajah Bunda dan Ayah meski tak mirip sama sekali, katakan saja, “Terima kasih, Bunda dan Ayah tampak cantik dan ganteng.”

7. Ajak anak untuk mengenali dan menerima keterbatasan sekaligus kelebihan dirinya. Misalnya, ia ingin naik sepeda roda dua yang besar dan tinggi seperti punya sang kakak. Biarkan ia mencoba sambil terus didampingi dan katakan bahwa nanti ada saatnya ia bisa mengendarai sepeda macam itu, tapi tidak saat ini. Beri pengertian dan alasan yang masuk akal untuk anak. Katakan bahwa tinggi badannya belum cukup untuk menjangkau pedal sepeda dan sepeda yang berukuran besar juga berat sehingga badannya yang kecil sulit mengimbanginya.

8. Beri contoh melakukannya bila ia menyerah ketika mencoba sesuatu. Ajari anak mengatasi rasa kecewanya dengan membiasakan anak mencari alternatif kegiatan atau pemecahan masalah yang dihadapi. Misalnya, ia tak berhasil menggambar tokoh Angry Bird favoritnya, ajarkan ia hingga berhasil. Tunjukkan cara menjiplak gambar yang dia inginkan, tapi selanjutnya ajarkan menggambar tanpa menjiplak. Kalau anak mengeluh nggak bisa, dukunglah anak dengan “Kamu bukan tidak bisa, tetapi belum mencoba. Ayo kita coba lagi bersama,” agar rasa percaya dirinya muncul kembali.

1733 Total Views 2 Views Today

One comment

  • Tetap harus ada kerja sama antara orang tua dengan anak, sehingga terjalin komunikasi dan team work yang baik, ketika mereka merasa lelah, orang tua harus bisa membangkitkan semangatnya dan membangun kembali kinerja yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *