Uskup Tanjungkarang: Diklat Pemuda Katolik Fondasi Kepemimpinan Pelayan di Tengah Ancaman Bencana

RADIO SUARA WAJAR, BANDAR LAMPUNG – Uskup Tanjungkarang, Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo, menegaskan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Dasar Pemuda Katolik bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan proses pembentukan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan kemanusiaan, terutama di tengah ancaman bencana alam yang rawan terjadi di Provinsi Lampung.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam Diklat Dasar Pemuda Katolik Gelombang III yang digelar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, Kota Bandar Lampung, selama tiga hari, 16–18 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti 133 peserta dari total 163 pendaftar yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung.

“Dalam kemanusiaan tidak ada sekat. Ketika orang menderita, di situlah kita dipanggil untuk hadir dan melayani. Kepemimpinan sejati lahir dari semangat pelayanan, bukan dari kekuasaan,” ujar Mgr Vinsensius.

Ia menilai, diklat ini menjadi respons nyata Gereja dan kaum muda Katolik terhadap tantangan zaman, khususnya potensi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir yang mengancam wilayah pesisir Lampung akibat aktivitas Megathrust.

Uskup Tanjungkarang juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab generasi muda dalam menjaga lingkungan hidup. Menurutnya, krisis ekologis tidak hanya berdampak hari ini, tetapi akan diwariskan kepada generasi mendatang jika tidak disikapi secara serius.

“Bumi ini adalah rumah bersama. Jika kita merusaknya demi kepentingan sesaat, maka kita sedang mewariskan penderitaan bagi anak cucu kita. Itu adalah tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan,” tegasnya.

Melalui Diklat Dasar ini, Uskup Tanjungkarang berharap Pemuda Katolik Lampung tumbuh menjadi generasi pelayan yang tangguh, berbelarasa, dan siap hadir bagi siapa pun tanpa membedakan latar belakang, khususnya dalam situasi darurat dan bencana.

Diklat ini dirancang untuk membangun kesiapsiagaan bencana, memperkuat aksi kemanusiaan, serta menanamkan nilai bela negara. Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Lampung, Falentinus Andi, menjelaskan bahwa isu Megathrust menjadi fokus utama materi pelatihan karena Lampung memiliki sejumlah wilayah pesisir yang berpotensi terdampak langsung jika terjadi gempa besar.

“Pemuda Katolik ingin hadir bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi sudah siap sejak tahap mitigasi. Pengetahuan ini penting agar masyarakat tidak panik dan korban dapat diminimalkan,” ujarnya.

Pelatihan dilaksanakan di lingkungan SPN Polda Lampung untuk membentuk kedisiplinan dan respons cepat peserta, mulai dari manajemen waktu, baris-berbaris, hingga simulasi kedaruratan. Selain itu, peserta juga dibekali materi bela negara serta konsolidasi organisasi hingga tingkat kabupaten, kecamatan, dan ranting.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menekankan bahwa diklat ini juga menjadi ruang penguatan persatuan dan toleransi di tengah tantangan intoleransi dan disinformasi.

“Tantangan kita adalah memperkuat kesatuan bangsa. Kader Pemuda Katolik harus mampu meng-counter hoaks di media sosial dan menjadi penjaga toleransi di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana menuntut kesiapan kader untuk terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan lintas daerah jika terjadi bencana di wilayah lain seperti Aceh atau Sumatera Barat.

Dukungan pemerintah daerah disampaikan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Lampung, Senen Mustakim. Ia menilai diklat ini sebagai fondasi pembentukan karakter pemuda yang sigap, disiplin, dan beretika.

“Pemuda yang terdidik harus dilengkapi dengan ketangguhan mental, kepedulian sosial, dan kesiapan melayani. Lampung yang majemuk membutuhkan pemuda yang mampu menjaga kerukunan dan menjadi solusi di tengah masyarakat,” ujarnya.***

Kontributor : Robertus Bejo

45 Total Views 6 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *