Renungan Harian Jumat 07 September 2018

Ilustrasi Yesus. Credits : https://www.facebook.com/thomas.suratno.7

Ilustrasi Yesus. (Foto : FB Thomas Suratno)

Pekan Biasa XXII

INJIL: Luk 5,33-39

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

RENUNGAN:

Kehidupan orang beriman terus menerus harus diperbaharui. Hal-hal yang sepele dan sifatnya tambahan harus ditinggalkan agar orang menemukan apa yang asli bagi kehidupan. Perlu terus menerus dikaji kembali apakah tawaran Yesus Kristus kepada orang zaman ini sungguh mengena.

Bagi kita orang Kristiani, puasa artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Puasa berarti juga berani untuk hidup baru yang awali dari sebuah pertobatan. Puasa akan menjadi sia-sia bila cara hidup yang lama masih kita pertahankan. Yesus mengajak kita untuk berpikir visioner, melihat dan membaharui diri melalui pantang dan puasa. Puasa dan pantang yang kita lakukan hendaknya memampukan kita untuk hidup baru. dan selain itu Puasa hendaknya menghasilkan buah-buah yang manis yaitu pembaharuan diri melalui pertobatan, kehidupan doa yang tulus, berbagi dengan sesama.

Injil pada hari ini berbicara tentang puasa. Ada dua hal yang ditonjolkan oleh penginjil Lukas bagi kita yaitu kain yang baru dan kantong kulit yang baru. Kantong kulit yang baru diperlukan karena kantong itu bebas dari semua bekas unsur fermentasi, mis. sel-sel ragi yang sudah matang. Apabila sari buah anggur yang baru dimasukkan ke dalam kantong kulit yang lama, maka sari buah itu akan lebih cepat meragi karena sudah ada sel-sel ragi di dalam kantong kulit yang lama itu. Fermentasi yang terjadi dengan demikian akan merusak baik sari anggur yang baru maupun kantong kulitnya (yang akan pecah karena tekanan proses peragian). Untuk menjaga agar sari buah anggur “tetap manis”, maka sari buah tersebut harus dimasukkan ke dalam suatu wadah baru yang tertutup rapat-rapat. Demikian pun kain yang baru, akan menjadi cocok dan indah bila tidak ditambalkan ke kain yang usang.

Perumpamaan ini juga bicara soal pembangunan yang mestinya tidak terjadi secara tambal sulam. Pembangunan hidup bukanlah soal tambal menambal, melainkan sungguh sebuah perubahan yang mendalam sehingga mutu kehidupan ditampilkan. Bagaimanakah usaha meningkatkan mutu ini kita perjuangkan bersama? Bila ini belum dilakukan maka itu ibaratnya anggur yang baru disimpan dalam kantong yang lama, akan merusak kantong itu sendiri, akan merusak kehidupan itu sendiri. Usaha ini bisa direnungkan sebagai gerak transformasi. Seperti telur katak menjadi berudu, berudu menjadi precil, dan baru kemudian menjadi katak, demikian pula kehidupan ini mengalami transformasi menuju kesempurnaan dalam Kristus. Kita pun diharapkan berkembang demikian. Apakah kita mau dan mampu untuk bertransformasi dalam iman yang semakin menjadi baik?

DOA:

Ya Tuhan Allah, curahkanlah Roh-Mu dan mampukanlah aku untuk terus menerus berubah dan sekaligus bertobat demi kemajuan iman dan kehidupanku. Di dunia ini. Amin.***

Oleh : RP Thomas Suratno, SCJ

1651 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *