Renungan Harian, Senin 30 Mei 2016

Senin Biasa IX

Bacaan: 2 Petrus 1:1-7

1:1 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. 1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. 1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. 1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. 1:5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 1:7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Renungan

Perjalanan iman adalah perjalanan hidup. Demikian juga perjalanan hidup merupakan perjalanan dalam beriman. Hidup konkret dan hidup beriman seharusnya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hidup harian lah yang menjadi medan perwujudan iman. Tidak jarang rasanya orang merasa beriman hanya ketika dalam perayaan ekaristi atau ketika ibadat tertentu dan doa-doa tertentu.

Ketika dalam ibadat tertentu, atau dalam perayaan ekaristi, bisa jadi seorang Kristiani begitu hebat doa-doanya. Penghayatannya dalam ibadat juga mengagumkan. Tidak ada yang salah sedikitpun berkaitan dengan ritus yang harus dijalani langkah demi langkah. Namun ketika selesai doa, ketika jalan pulang kerumah, sikap yang sama sebelum berdoa muncul kembali. Entah di sadari atau tidak, hal demikian sering kali menjadi bagian dari hidup kita. Pulang dari Gereja, tetap saja tidak ada perbuhan pola hidup menuju yang lebih baik.

Dengan demikian, tidak cukup kita hanya mengandalkan pada keyakinan iman begitu saja. Artinya hanya percaya tanpa mendalami. Maka Petrus dengan jelas dalam suratnya yang kedua ini mengingatkan kita supaya di dalam beriman, kita menambahkan unsur kebijaksanaan dan pengetahuan supaya iman kita menjadi iman yang sadar. Sudah selayaknya orang beriman mampu mempertanggungjawabkan imannya dengan pengetahuan dan akal budi. Namun tetap sebagai unsur utamanya adalah percaya terlebih dahulu.

Tidak cukup di situ, Petrus menambahkan unsur-unsur manusiawi untuk semakin mendukung keimanan itu. Ketekunana, kesalehan, pengusaan diri, dan pada ujungnya adalah kasih kepada sesama merupakan satu rangkaian iman yang tidak bisa dipisahkan. Itulah iman yang integral, iman yang mampu dipertanggungjawabkan secara nalar, iman yang seimbang dengan moral.

Mari mohon rahmat Tuhan, supaya kita mampu untuk beriman secara sadar. Iman kita bukan iman yang buta, namun iman yang harus mampu dipertanggungjawabkan dengan akal budi. Iman Kristiani merupakan iman yang harus sampai pada tindakan moral, tindakan kasih kepada sesama dan lingkungan sekitar. Jika belum sampai pada sikap itu, kita masih dalam iman yang egois.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk mampu hidup dengan iman yang benar. Teguhkanlah perjuangan kami untuk berani bertanggung jawab atas iman kami. Semoga kami senantiasa menyadari bahwa iman kami adalah iman yang hidup. Semoga dengan demikian, sebagai orang beriman kami semakin berani untuk terlibat dalam kehidupan sesama kami. Amin.

 

1130 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *