Renungan Harian, Jumat 29 April 2016

Jumat Paskah V

Injil: Yohanes 15:12-17

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Renungan

Mengasihi merupakan keutamaan yang universal, semua orang mengenal hal itu. Mungkin saja bentuk dari mengasihi itu berbeda satu tempat dengan tempat lainnya. Tetapi yang jelas kasih menjadi keutamaan universal dimana setiap orang perlu mengalami dan membagikan kasih. Secara sederhana bahkan, binatang pun jika kita amati, sepertinya juga mempunyai rasa kasih itu. Walau tentu saja mereka bergerak berdasarkan insting. Namun memang bisa jadi bahwa rasa kasih itu muncul karena insting, karena naluriah.

Entah itu naluriah atau tidak naluriah, yang jelas dalam injil hari ini Yesus mengajak kita semua untuk saling mengasihi. Bagaiman kita harus mengasihi? Yakni seperti Yesus yang telah mengasihi kita. Atau dengan kata lain, ketika kita memberikan kasih kepada orang lain alasan utamanya bukanlah karena dari diriku sendiri ingin melakukan itu, namun yang seharusnya menjadi alasan kita adalah karena kesadaran bahwa kita sudah mendapat kasih yang besar dari Allah.

Kasih yang besar dari Allah itu mendapatkan wujud nyatanya dalam pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Kasih Yesus tidak hanya berhenti di bibir, namun kasih Yesus sampai menembus kaki, tangan, lambung, dan kepala-Nya. Dengan kata lain, kasih Yesus adalah kasih yang melibatkan seluruh tubuh fisik-Nya. Pengorbanan-Nya tidak hanya sekedar tenaga dan waktu-Nya. Pengorbanannya sampai pada nyawanya, inti dari hidup-Nya.

Yesus menegaskan bahwa “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. Semua orang bisa mengasihi, semua orang bisa memberi perhatian pada sesamanya. Sekelompok pembunuh bisa sangat mengasihi temannya dalam satu kelompok. Seorang yang ateis bisa mememberhatikan perhatian kepada sesamanya jauh lebih baik dari pada orang yang beragama. Kitapun bisa memberikan sumbangan yang sangat besar kepada orang yang membutuhkan. Pertanyaannya, apa bedanya kasih kita dengan kasih mereka? Jika kita mengasihi seperti mereka mengasihi, nilai kasih apa yang kita perjuangkan?

Alasan utama kita dalam mengasihi sesama adalah karena kita murid Kristus. Kasih yang kita perjuangkan bukan dengan tujuan supaya mendapatkan sesuatu, tetapi justru karena kita sudah mendapatkan kasih dari Yesuslah maka kita memberikan kasih kepada sesama.

Semoga kita tidak jemu-jemu untuk senantiasa berbuat kasih. Hanya berbuat kasih saja pada dasarnya bukan menjadi identitas kita sebagai orang Kristiani. Semua orang bisa melakukan itu. Tetapi mengasihi seperti Yesus mengasihi, itulah yang menjadi identitas Kristiani, yakni mengasihi dengan cara Yesus mengasihi.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk senantiasa berani mewujudkan iman kami dalam tindakan kasih kepada sesame kami. Semoga kami tidak takut untuk berbuat baik kepada sesame kami. Ajarilah kami untuk bisa menjadi penyalur kasih di dalam kehidupan kami. Tuhan, sertailah kami senantiasa dengan kasih-Mu. Amin.

 

3000 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *