Way Tuba Bakal Menjadi Bandara Komersial
RADIO SUARA WAJAR – Pemerintah Provinsi Lampung akan memfasilitasi perizinan perubahan Bandara Gatot Subroto yang terletak di Way Tuba, Way Kanan, dari pangkalan udara TNI Angkatan Darat menjadi bandara komersial. Sejumlah maskapai juga siap beroperasi di bandara baru tersebut.
“Tinggal selangkah lagi, kami bantu perizinan ke Kemenhub dan KSAD TNI agar segera menjadi bandara komersial. Kami juga sudah mendapat dukungan dari lima kabupaten di sekitar bandara, yaitu Pesisir Barat, Lampung Barat, Martapura, OKI, dan Baturaja,” kata Kepala Dinas Perhubungan Lampung Idrus Effendi, Jumat (8/4/2016).
Sebanyak lima maskapai juga telah menyatakan siap beroperasi di Way Tuba, di antaranya Garuda ATR, Sriwijaya Air, Express Air, Wings Air, dan Avia Star.
“Kami sudah ada pembicaraan, nantinya melayani beberapa rute, seperti Way Kanan—Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandar Lampung—Palembang transit di Way Kanan,” kata mantan Sekkab Pringsewu ini.
Pihaknya optimistis rencana tersebut dapat terealisasi, apalagi dengan bantuan dana dari APBD 2016 Pemkab Way Kanan senilai Rp2 miliar untuk perbaikan sarana-prasarana bandara.
“Ada fasilitas yang diperbaiki, di antaranya untuk landasan runway-nya sepanjang 2.100 meter,” kata Idrus.
Kadishub Way Kanan Nasaruddin mengatakan setelah 10 tahun berjuang, akhirnya Way Kanan sebentara lagi memiliki bandara komersial. Dijadikannya Lanud TNI AD Gatot Soebroto menjadi bandara sipil akan memangkas jarak tempuh antara Jakarta dan Way Kanan yang biasanya memakan waktu 12 jam melalui darat.
“Jadi, kalau ditempuh melalui udara, hanya perlu waktu 45 menit. Kami juga berharap ada bantuan dari Pemprov nantinya. Secepatnya saya bersama Danlanud akan mengurus perizinan ke Jakarta dibantu Pemprov Lampung,” ujar Nasaruddin.
Ketua DPRD Lampung, Dedi Afrizal, mengatakan Landasan Udara (Lanud) Astra Ksetra Menggala, Tulangbawang, juga layak dikembangkan untuk menjadi lapangan udara alternatif dan bisa didorong menjadi lapangan udara sipil.
“Misalnya terjadi gangguan di Bandara Radin Inten II, tentunya bisa dialihkan untuk pendaratan pesawat. Jangan sampai transportasi udara terputus,” kata Dedi, Sabtu (9/4/2016).
Dedi juga melihat apabila landasan tersebut didorong untuk landasan sipil, tentunya bisa mem-backup beberapa kabupaten, seperti Way Kanan, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Mesuji, bahkan perbatasan Sumatera Selatan.
“Kami juga nanti akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan. Bagaimana untuk melakukan pengkajian atau melihat sisi kelayakan dan lain sebagainya. Apabila memungkinkan, kami akan men-support anggaran secara bertahap membuat landasan secara permanen,” kata dia.
Untuk merealisasikan hal tersebut, pihaknya berharap dapat dimulai pada 2017 atau 2018, tetapi dengan melihat skala prioritas pembangunannya. Dikatakan Dedi pihaknya baru saja melakukan musrenbang. Paling tidak di tahun 2017 atau 2018 proyek ini sudah dimulai.





