Kontroversi Gembok Cinta di Taman Tematik Malang

gembokcinta1-660x330RADIO SUARA WAJAR – Bingkai Gembok cinta ala Paris yang dipasang di Jalan Veteran, Kota Malang, Jawa Timur, belum genap sebulan, namun keberadaannya sudah mulai populer di kalangan anak muda. Ini terjadi, karena keberadaan gembok cinta tersebut di tempat strategis, tepat berada di kawasan mal dan kawasan kampus yang cukup terkenal.

Awalnya, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang sebagai penggagas gembok cinta ala Paris itu berharap keberadaannya mampu menjadi objek menarik. Gembok cinta bernuansa pink tersebut diharapkan juga memperkaya taman tematik. Namun fakta yang ditemui di lapangan justru menimbulkan pro kontra dan menjadi kontroversi.

Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang pun harus mengeluarkan statement-nya. MUI menganggap bingkai gembok cinta itu berpotensi menggiring generasi muda ke arah negatif.

“Saya sudah mendapat laporan sekitar sepekan lalu dan keberadaan gembok cinta itu mengakrabkan anak-anak muda kita dengan budaya barat,” kata Ketua MUI Kota Malang Baidlowi Muslich seperti dilansir okezone.com, Jumat (08/12).

Ia menilai tujuan dibuatnya taman dan bingkai gembok cinta tersebut tidak jelas dan cenderung meresahkan masyarakat, terutama para orangtua.

“Kami memang belum meninjau secara langsung bagaimana bentuk dan kondisi gembok cinta itu. Namun berdasarkan laporan masyarakat, keberadannya seolah mendukung budaya barat, apalagi lokasinya juga di kawasan pendidikan,” ucapnya.

Menurut dia, jika keberadaan bingkai gembok cinta itu tidak diubah, akan merusak citra Kota Malang sebagai kota pendidikan, apalagi Kota Malang juga mengikrarkan diri sebagai Kota Bermartabat. Oleh karena itu, keberadaan gembok cinta itu akan merusak citra sebagai Kota Pendidikan dan Kota Bermartabat.

Selain MUI, kritikan pedas dan penolakan terhadap keberadaan gembok cinta itu juga datang dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jatim simpul Malang. Walhi menilai pemasangan gembok cinta tersebut sebagai bentuk pelanggaran Perda Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pertamanan dan Dekorasi Kota. Juru bicara Walhi Purnawan D Negara, mengatakan dalam ketentuan peraturan itu (Perda), setiap badan atau orang dilarang merusak taman.

“Taman yang merupakan bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) tidak boleh dirusak siapapun, begitu amanat Perda itu,” kata Purnawan.

Menurut dia, pagar gembok cinta yang tepat berada di area taman Jalan Veteran itu dianggap mengurangi lahan RTH, sehingga asas manfaatnya tidak ada sama sekali. Alangkah baiknya jika monumen semacam itu dihindarkan dari RTH, sehingga tidak mengurangi atau merusaknya.

Atas kritikan dari MUI maupun Walhi tersebut, Kepala DKP Kota Malang Erik S Santoso berdalih spot yang ada di depan Malang Town Square (Matos) bukan dikonsep untuk gembok cinta, tapi untuk gantungan bunga.

“Kalaupun ada memasang gembok, ya itu sebagai bentuk kreativitas anak-anak muda saja,” katanya.

Erik menjelaskan tulisan “Ngalam I’m in Love” yang terpampang di spot berbentuk hati dan bernuansa pink itu memiliki filosofi tersendiri, di mana DKP mengajak warga mencintai Kota Malang. Simbol cinta tidak hanya untuk lawan jenis, tapi cinta itu luas maknanya, termasuk mencintai Kota Malang.

Saat ini, lanjutnya, DKP tengah berupaya menumbuhkan spirit Malang Kota Bunga dengan memanfaatkan ruang kosong untuk ditanami, termasuk spot yang saat ini digunakan untuk gembok cinta.

“Sebenarnya DKP akan memasang bunga dalam pot-pot kecil dan kalau soal gembok, karena jumlahnya tidak banyak jadi gak masalah,” ucapnya.

Spot bunga dalam pot kecil yang digantungkan di sebuah papan yang didesain sedemikian rupa untuk meletakkan bunga dalam pot-pot kecil itu juga sudah dipopulerkan di Kota Bandung. Pot-pot kecil yang ditanami bunga dan spotnya pun juga dimanfaatkan untuk mengunci gembok sebagai simbol cinta itu berlokasi di kawasan Alun-alun Kota Bandung.

Jika di Kota Bandung spotnya cukup tinggi dan lebar, di Kota Malang tidak terlalu lebar. Namun, yang ada di Kota Malang lebih “kinclong” karena dicat dengan warna terang, yakni nuansa putih dan pink.

Sorotan dan kritikan dari MUI maupun Walhi terkait keberadaan gembok cinta di kawasan pendidikan tersebut tak menyurutkan Wali Kota Malang Moch Anton untuk tetap mempertahankan keberadaannya, bahkan orang nomor satu di Pemkot Malang itu mengatakan jika ada salah persepsi dari MUI terkait bingkai Gembok Cinta, karena bingkai itu dibuat sebagai bentuk kecintaan kepada Kota Malang.

“Masalah memasang gembok, saya tidak mengerti itu gembok cinta atau gembok putus asa. Tapi yang penting adalah bagaimana masyarat mencintai Kota Malang ini. Kalau mencintai, paling tidak mereka tidak akan merusak lingkungan,” katanya.

Namun demikian, katanya, bukan berarti pemkot melakukan pembiaran terkait stigma dan pemahaman yang tidak lengkap terkait keberadaan taman dan gembok cinta tesrebut. Untuk menghindari stigma negatif, Anton sudah menginstruksikan Dinas Kebersihan dan Pertamanan setempat agar tidak menamai taman di lokasi bingkai itu dengan sebutan “Taman Cinta”.

Ia mengaku pihaknya memang harus menjelaskan konsep dan hal-hal lain yang berkaitan dengan taman tersebut kepada masyarakat, tak terkecuali kepada MUI Kota Malang agar bisa ditemukan persamaan persepsi.

“Kita akan memberitahu bahwa tidak ada maksud buruk dalam pembuatan bingkai dan taman itu, kami hanya ingin membuat taman tematik seperti taman-taman tematik lainnya di Kota Malang, seperti Taman Kunang-kunang, Taman Trunojoyo, dan Taman Merbabu,” ucapnya.

Bahkan, Anton membandingkan “I Love Ngalam” di bingkai itu sama maknanya dengan tulisan “I Love Batu” di jalan masuk Kota Batu. Jadi, sebenarnya yang dimiliki Kota Malang saat ini masih kalah besar dengan Kota Batu. Dalam waktu dekat ini mungkin DKP segera membuat tulisan “I Love Ngalam” yang lebih besar lagi dan lokasinya mungkin di pintu masuk dari arah Suranaya.

Pemilihan lokasi taman di sekitar kampus, katanya, juga bukan tanpa maksud. Pemkot Malang berharap bisa menularkan perasaan mencintai Malang dengan memasang bingkai Gembok Cinta di Jalan Veteran.

Lokasi gembok cinta itu berada di lingkungan kampus, yakni Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, serta beberapa sekolah, yakni SMA Negeri 8, SMK Negeri 2, SMP Negeri 4 serta tidak jauh dari kompleks pendidikan madrasah dan aliyah di Jalan Bandung.

Anton mengemukakan, selain MUI, penolakan juga pernah datang dari DPRD Kota Malang. Namun, dengan pemberian pengertian, dewan bisa memahami keberadaan bingkai Gembok Cinta tersebut.

Dukungan keberadaan gembok cinta yang menjadi kontroversi itu juga datang dari Sosiolog Universitas Brawijaya (UB) Haris El Mahdi. Ia menilai pandangan religius yang disampaikan MUI terlalu berlebihan. Pandangan tersebut dinilai sebuah cerminan dari pola pikir dogmatis.

Menurut dia, keberadaan bingkai serupa, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, belum membuktikan berdampak negatif. Gembok serupa bisa ditemui juga di Taman Gembok Cinta di Bandung, dan di pagar jembatan di atas Sungai Seine, Paris, Prancis.

“Dari sisi religius, terutama dalam konteks Indonesia, keberadaan taman seperti itu memang sering mendapat penolakan. Pertimbangan syariah dan fikih merupakan argumentasi yang kerap diajukan. Pertimbangan etika religius seperti ini sering menjadi kontroversi di ruang publik, terutama dalam ajaran Islam,” katanya.

 

1311 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *