Perancis Bersatu Dukung Kaum Muslim Untuk Persatuan Nasional dan Perdamaian

1553577tricolor051447569303-preview780x390

Orang berdiri dekat layar besar yang menampilkan bendera nasional Perancis di Los Angeles, Amerika Serikat, Sabtu, 14 November 2015. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas untuk mengenang ratusan orang yang tewas dan terluka dalam aksi serangan teroris yang terjadi di paris pada 13 November malam.

RADIO SUARA WAJAR – Saat ISIS bersorak sorai dan mendapat kredit dari salah satu serangan teroris paling mematikan di masa Perancis modern, emosi semakin tinggi, terutama diantara 5 juta populasi Muslim di negeri itu, yang terbiasa diawasi secara ketat dan menerima ancaman setelah para ekstrimis yang juga menyebut diri mereka Muslim menyebarkan malapetaka.

Menurut berbagai laporan berita, para jemaah di Masjid Besar Paris yang terletak di distrik 5 dan pusat-pusat Muslim di penjuru negara itu menguatkan diri menunggu adanya serangan balasan setelah ada berita tentang aksi-aksi anti-Islam mulai bermunculan.

Warga Muslim pun turut menjadi korban terorisme, lapor situs berita Islam, Saphirnews. Menurut situs tersebut, pada akhir pekan, simbol-simbol keagamaan yang mencerminkan sentimen anti-Islam dicatkan di dinding mesjid di Paris bagian timur. Sementara menurut harian Perancis Le Parisien, slogan-slogan bertuliskan “Perancis, bangunlah!” dituliskan di dinding masjid-masjid lain di seputar kota itu.

Pada saat bersamaan, beberapa warga Perancis, yang dilarang polisi berdemonstrasi di Paris hingga Kamis besok, menyampaikan dukungan mereka bagi warga Muslim Perancis dan seluruh dunia di media sosial dan mengorganisir pertemuan lintas iman.

Pada hari Minggu (15/11/2015), 3,000 orang telah berikrar untuk menghadiri unjuk rasa lintas iman dengan para Muslim di Perancis untuk persatuan nasional dan perdamaian, yang dijadwalkan pada akhir pekan ini di dekat Masjid Besar Paris. Masih ada 6,000 lainnya yang tertarik untuk berpartisipasi.

Beberapa pertemuan lainnya diorganisir melalui Facebook setelah larangan berdemonstrasi usai, termasuk “Saya Muslim, ISIS bukan (Muslim),” dan sebuah unjuk rasa “Doa untuk Paris” yang kemungkinan akan dihadiri 13.000 orang pada Minggu sore mendatang di Arc de Triomphe.

“Terorisme tidak memiliki agama maupun kebangsaan,” tulis penyelenggara demonstrasi Masjid Besar, Samia Edd Cardi, seorang Muslim dan tech entrepreneur, di akun Facebook untuk acara itu, yang juga akan dihadiri para ateis dan penganut Kristiani. Cardi tidak membalas pesan Huffington Post di Facebook, dan Masjid Besar Paris juga tidak membalas pesan yang meminta informasi mengenai acara tersebut.

Di Katedral Tritunggal Maha Kudus di Paris, para ulama dari seluruh dunia dijadwalkan hadir dalam Pertemuan Ahli Islam Dunia untuk Perdamaian dan Melawan Kekerasan, yang sudah dirancang sebelum serangan terjadi dan saat ini semakin terasa mendesak untuk dilakukan.

Uskup Pierre Whalon dari Persatuan Gereja Episkopal Eropa akan bertindak selaku tuan rumah dalam pertemuan tersebut.

“Setelah serangan keji ini, kami berharap Tuhan akan datang dan menyapu bersih musuh kami. Namun, Yesus yang tersalib menunjukkan pada kita bahwa hanya kasih yang bisa menang atas kebencian, kejahatan bahkan kematian,” demikian bunyi pernyataan Whalon yang berbasis di Paris.

Acara lintas iman selama 10 hari juga dijadwalkan di Paris pada 12-22 November, termasuk unjuk rasa pada hari Minggu. Belum jelas apakah akan dilangsungkan setelah larangan berunjuk rasa berakhir, ataukah akan diubah sebagai reaksi atas serangan itu.

Serangan teroris jangan sampai menghentikan “semangat kita bekerja untuk perdamaian, solidaritas dan saling memahami satu sama lain, persahabatan Islam-Kristen,” tulis salah satu organisasi yang terlibat dalam penyelenggaraan kerja lintas iman di situs webnya.

Beberapa jam setelah serangan pada hari Jumat lalu itu, kaum Muslim di Paris waspada akan tindakan balas dendam. Banyak dari mereka takut, tidakan ISIS itu akan berimbas pada semua Muslim, walaupun kelompok teroris itu tak pandang bulu dalam aksi pembunuhan mereka di Timur Tengah dan mengakibatkan ribuan warga Muslim, Kristen dan Yazidi harus lari untuk menyelamatkan diri.

“Saya takut beberapa orang Perancis akan berpikir bahwa Islam-lah pelaku semua ini, bahwa semua umat Muslim adalah teroris,” kata Kaber Bouchoucha, 24 tahun, kepada Guardian.

Sentimen anti-Islam sudah meningkat sejak serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo, Januari lalu. Kejadian anti-Islam naik hingga 281 persen pada tiga bulan pertama tahun 2015 dibanding tahun sebelumnya. Demikian menurut data Kantor Nasional Observasi Islamophobia.

“Orang-orang Perancis sudah memiliki pandangan buruk tentang kami,” kata Bouchoucha kepada Guardian. “Disamping rasisme yang sudah ada, kejadian (serangan) ini akan semakin memperburuk.”

Namun di tengah kemarahan, banyak orang di penjuru dunia menyampaikan solidaritas pada umat Islam yang sama terkejutnya dengan umat lainnya atas serangan yang terjadi Jumat lalu. Di Twitter, tagar #MuslimsAreNotTerrorists menjadi tren selama akhir pekan dengan ribuan orang meminta masyarakat internasional tidak mencampuradukkan Islam dengan terorisme.

Pada hari Minggu, dalam sebuah video yang beredar di dunia maya, sekelompok ulama Perancis menyanyikan lagu kebangsaan “La Marseillaise,” di dekat teater Bataclan yang merupakan tempat terbunuhnya 87 orang di distrik 11.

Cinta suci untuk tanah air, memimpin, menyokong lengan kami. Kebebasan, kebebasan yang berharga, berjuanglah dengan para pembelamu,” lantunan syair lagu kebangsaan Perancis. “Di bawah bendera kita, demi melihat keperkasaanmu semoga kemenangan segera tiba, semoga musuhmu yang dikalahkan akan melihat kemenanganmu dan kejayaan kita.”(kompas.com)

 

911 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *