Renungan Harian Sabtu, 05 September 2015

11951324_10204649487744870_3890813968344876724_nSabtu, 5 September 2015
Hari Biasa Pekan Biasa XXII

Injil: Luk 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus ber­jalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: ”Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: ”Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

RENUNGAN:

Para murid Yesus memetik bulir gandum dan kemudian memakannya. Bagi orang Farisi, tindakan para murid Yesus ini melanggar hukum Sabat Yahudi karena dilakukan pada hari Sabat. “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Yesus menanggapi dan mengingatkan mereka pada waktu di mana Daud memberi makan pasukannya yang lapar dengan roti kudus, yaitu roti sajian yang ditempatkan dalam tabernakel (1Sam 21:1-6). Menurut hukum yang berlaku roti seperti ini hanya dapat dimakan oleh para imam dari Rumah Allah (Im 24:9), akan tetapi diberikan kepada Daud dan pasukannya atas dasar pertimbangan unsur kemanusiaan. Lalu Yesus bersabda, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus mengungkapkan dua buah kebenaran yang penting ini. Yesus menunjukkan bahwa Dia dan para murid-Nya tidak melanggar hukum Sabat. Sebaliknya, sebagai “Tuhan atas hari Sabat”, Dia sedang mengungkap makna sesungguhnya dari hari Sabat itu. Hari Sabat ditetapkan sebagai karunia Allah bagi umat manusia, satu hari yang disisihkan bagi orang-orang agar mereka memalingkan hati dan pikiran mereka kepada Allah. Kemudian, Dia menyatakan siapa diri-Nya sebenarnya – Anak Manusia dengan otoritas, bahkan atas hari Sabat juga.

Sekarang marilah kita memusatkan pikiran dan hati kita kepada Anak Manusia, Yesus Kristus, agar Dia sudi mengajar kita dan kita pun dapat semakin mengenal-Nya. Bagaimana? Antara lain dengan menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk berdoa dan memuji-muji Allah, kemudian melakukan pemeriksaan batin/nurani kita setiap hari, dan dengan membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci serta dengan membuat serta bertindak atas rencana-rencana pertumbuhan spiritual.

DOA:

“Ya Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Roh Kudus yang Kauutus, memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dan mengenal diri-Mu. Amin.”

 

2915 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *