Sejarah Berdirinya Paroki Ratu Damai Telukbetung Bandar Lampung

Gereja Paroki Ratu Damai, Telukbetung Bandar Lampung Jl. Ikan Kakap 4, Telukbetung, Bandar Lampung.

Gereja Paroki Ratu Damai, Telukbetung Bandar Lampung Jl. Ikan Kakap 4, Telukbetung, Bandar Lampung.

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR – Gereja Paroki Ratu Damai, terletak di dataran rendah Bandar Lampung. Tepatnya di Jl. Ikan Kakap 4, Telukbetung, Bandar Lampung. Tahukah Anda, bagaimana sejarah gereja ini berdiri? RD Yohanes Kurniawan Jati, Romo Kepala Paroki Maria Ratu Damai Telukbetung Bandar Lampung, saat ditemui Nuntius Sabtu 08 Agustus 2015 menjelaskan sejarah berdirinya Paroki yang genap 66 tahun 22 Agustus 2015.

Sejarah paroki Telukbetung tidak terlepas dari sejarah awal Gereja Katolik di Lampung. Sejak awal Telukbetung menjadi bagian dari pos misi Tanjungkarang ketika diresmikannya prefektur Apostolik Sumatera (1911-1923). Pada saat awal ini, Lampung menjadi bagian dari distrik Padang yang meliputi pantai Barat Padang, Tapanuli dan Lampung. Prefektur Apostolik Sumatera ini dilayani oleh imam-imam Kapusin.

Tahun 1923 karya misi di sumatera dibagi dalam tiga wilayah atau pos misi, yakni Sumatera bagian Selatan yang diserahkan kepada imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ); Bangka Belitung yang diserahkan kepada imam-imam Picpus (SSCC) dan Padang yang tetap dipegang oleh imam-imam Kapusin (OFM Cap).

Sejarah paroki Telukbetung tidak terlepas dari sejarah awal Gereja Katolik di Lampung. Sejak awal Telukbetung menjadi bagian dari pos misi Tanjungkarang ketika diresmikannya prefektur Apostolik Sumatera (1911-1923). Pada saat awal ini, Lampung menjadi bagian dari distrik Padang yang meliputi pantai Barat Padang, Tapanuli dan Lampung. Prefektur Apostolik Sumatera ini dilayani oleh imam-imam Kapusin. Tahun 1923 karya misi di sumatera dibagi dalam tiga wilayah atau pos misi, yakni Sumatera bagian Selatan yang diserahkan kepada imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ); Bangka Belitung yang diserahkan kepada imam-imam Picpus (SSCC) dan Padang yang tetap dipegang oleh imam-imam Kapusin (OFM Cap).

Pos misi Sumatera bagian Selatan semula berpusat di Bengkulu yang menjadi cikal bakal keuskupan Palembang dan Tanjungkarang, pada awalnya wilayah ini dilayani oleh tiga misionaris SCJ. Tahun 1926 dijajaki kemungkinan mendirikan pos misi keempat di Sumatera yang letaknya di keresidenan Lampung yang beribu kota di Teluk betung. Teluk betung menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda, namun Pastor Neilen, SCJ justru membeli tanah dari jawatan kereta api, namun usaha itu belum berhasil. Tidak diketahui pasti sejak kapan pastor menetap di Lampung, namun perkembangan daerah Lampung ikut serta membawa perkembangan penduduk yang beragama Katolik, baik orang Belanda, Thionghoa, maupun transmigran Jawa. Tahun 1928 tercatat secara pasti didirikannya gedung gereja baru di Lampung yang terletak di pusat kota yang berdekatan dengan stasiun kereta api (sekarang Katedral Tanjungkarang). Telukbetung menjadi bagian dari pos misi Tanjungkarang ini. Pos misi tanjungkarang ini menjadi paroki yang membuka stasi di daerah-daerah baru yang bermula dari Pringsewu, Gisting, Karang sari dan Pasuruhan di bagian Selatan Lampung, dan Metro.

Telukbetung untuk sementara belum dimekarkan menjadi stasi tersendiri mengingat jaraknya yang dekat dengan Tanjungkarang dibandingkan wilayah lain. Telukbetung dan Tanjungkarang menjadi kota kembar yang berdekatan. Telukbetung adalah menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda, dalamsejarahGerejamenjadi pusat pelayanan pendidikan para misionaris pada awalnyabagianak-anakketurunanBelandadanTionghoa. Semula didirikan taman kanak-kanak di Telukbetung oleh Pastor Van Oort, SCJ bersama seorang ibu Nyonya Voorsmit-de Laan, sembari menjanjikan pengelolaan akan diserahkan kepada suster-suster Hati Kudus yang belum datang dari Belanda. Sekolah Taman kanak-kanak ini menempati kamar bola De Phoenix tahun 1929. Kemudian mulai dipikirkan kelanjutan sekolah setelah tamat dari TK. Pada 1Juli 1930 dibeli tanah dan bangunan di kampung Kupang, Telukbetung dan kemudian pada 1 Agustus 1930 diresmikan sekolah dasar (HIS) yang dibangun di kompleks ini. Sekolah ini pada awalnya melayani anak-anak Thionghoa dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.

Tahun 1927 sebenarnya suster Hati Kudus telah melayani di wilayah Palembang, namun belum menjadi prioritas bagi kongregasi ini untuk menambah tenaga dan memperluas wilayah pelayanan, apalagi memberi tenaganya untuk pendidikan di Telukbetung. Usaha Pastor Van Oort meminta bantuan tenaga suster HK ini sampai-sampai meminta izin Vatikan untuk membuka biara di Telukbetung bagi kongregasi Suster Hati Kudus. Tanggal 1 Juli 1931, melalui Propaganda Fidei, Vatikan merestui pembukaan biara baru ini. Maka pada Oktober 1931 Pastor Van Oort kembali ke Indonesia dari masa cuti di Belanda bersama empat suster misionari Hati Kudus, namun hanya Sr. Helen yang akan menetap dan bertugas di Telukbetung. Kemudian Sr. Margaretha menjadi pimpinan biara dan bertugas sebagai perawat keliling. Menyusul kemudian Sr. Wilhelmina yang menetap di Telukbetung. Perkembangan sekolah di Telukbetung menjadi pesat dan pelayanan para suster Hati Kudus bukan hanya dalam pendidikan, namun juga memberi pelajaran agama bagi murid yang berniat pada agama Katolik.

Pada masa berikutnya adalah masa penjajahan Jepang yang menjadi masa berat bagi Gereja Katolik di Lampung yang banyak berisi orang-orang dari Belanda dan Thionghoa. Gedung gereja dan sekolah, termasuk kompleks sekolah Telukbetung menjadi tangsi tentara Jepang. Telukbetung menjadi mati dari aktivitas pemerintahan dan juga aktivitas gereja. Hanya Tanjungkarang yang tetap dihitung sebagai stasi yang dilayani dari Pringsewu oleh para imam dari Keuskupan Semarang yang diutus ke Lampung (1947). Tahun 1949 Pastor Wilhelmus Boeren, SCJ menetap di Tanjungkarang, namun belum bisa berbuat banyak. Bahkan suster-suster Hati Kudus Yesus yang melihat keadaan biara dan sekolah di Telukbetung pada Juni 1949 belum berani mengelola kembali sekolah yang dulu dikelola. Tahun itu juga, Pastor Albertus Hermelink dan Petrus Tromp membantu pelayanan di Tanjungkarang. Pada akhirnya, Pastor Koevoets pada Agustus 1949 diutus ke Lampung dan mempersiapkan Telukbetung agar layak dihuni kembali oleh suster-suster Hati Kudus. Pada 4 November 1949, suster Hati Kudus bisa kembali berkarya di Telukbetung.

Tahun 1951 keadaan di Lampung benar-benar telah pulih dan pada saat itu Vikariat Apostolik Palembang terasa tidak efektif karena meliputi keresidenan Jambi, Bengkulu, Palembang dan Lampung. Pada 19 Juni 1952 Vatikan memutuskan daerah Lampung menjadi Prefektur Apostolik Tanjungkarang yang terpisah dari Vikariat Palembang. Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras diangkat menjadi Prefek yang bertempat tinggal di Pringsewu. Tercatat pada saat pendirian Prefektur Apostolik Tanjungkarang terdapat empat paroki, yakni Tanjungkarang, Telukbetung, Pringsewu dan Metro. Telukbetung sendiri masih menempati kapel biara yang dipakai bersama sebagai gereja Paroki.

Tercatat buku baptis pertama untuk paroki Telukbetung tertanggal 29 September 1949. Sementara pelayanan pastoral masih bergantung dari Tanjungkarang. Pada Bulan September 1949 Pastor Gerardus Antonius Koevoets, SCJ menetap di Telukbetung. Lokasi yang ditempati adalah di sudut bundaran jln. Patimura. Pada tanggal 6 November 1949, beliau memberkati Gereja Maria Ratu Damai, Telukbetung. Tanggal berdiri sebagai paroki susah untuk ditentukan, namun secara tahun dipastikan berdiri terpisah dari Paroki Kristus Raja Tanjungkarang pada 1949. Hingga tahun 2015 ini sudah berumur 66 tahun.

Mengapa dipilih nama Paroki Ratu Damai Telukbetung? Merunut dari sejarah perkembangan kota di Lampung dan Gereja Katolik pada masa Kolonial Belanda, Tanjungkarang-Telukbetung adalah kota kembar yang berdekatan. Pemerintahan Belanda membangun kota yang berdekatan dengan pelabuhan. Pemerintah Kolonial Belanda membangun kota di Lampung yang bernama Onder Afdeling Telokbetong yang terdiri dari Telokbetong dan Tanjungkarang. Kota Telokbetong menjadi tempat pusat keresidenan Lampung, sementara Kota Tanjungkarang menjadi ibukotanya yang menjadi pusat transportasi, khususnya kereta api.

Konsep kota kembar ini menjadialasanpenyatuanpelayanan pastoral pada awal sejarah Gereja di Lampung. Tanjungkarang menjadi paroki dan didirikan bangunan gereja di pusat kota, sementara di Telukbetung didirikan sekolah, serta di gedung sekolah ini menjadi pusat kegiatan kerohanian dan menggereja. Setelah dirasakan semakin banyak perkembangan umat sesudah masa kemerdekaan, maka Telukbetung menjadi paroki sendiri, terpisah dari Katedral Tanjungkarang. Nama Paroki Tanjungkarang sejak semula adalah Kristus Raja, sehingga untuk paroki baru di kota kembar dipilih nama Maria Ratu Damai.***

Sejarah berdirinya Paroki Ratu Damai Telukbetung Bandar Lampung, telah disiarkan pada menu acara Features Radio “Potret Suara Wajar” edisi Minggu 09 Agustus 2015 pukul 19.00 wib.***

Reporter : Robert

Sumber  : Dokumen Paroki Santa Maria Ratu Damai Telukbetung Bandar Lampung, Keuskupan Tanjungkarang.

3260 Total Views 1 Views Today

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *