Renungan Injil Markus 6: 34-44

1. PENGANTAR

Saudara pendengar yang budiman,
Pada hari ini, Selasa 06 Januari 2015 kita bersama-sama diajak untuk mendengarkan firman Tuhan dan merenungkannya, yakni firman Tuhan yang tersurat dari Injil Markus bab atau pasal 6 ayat 34 sampai dengan ayat 44. Maka untuk membantu permenungan kita sore hari ini terlebih dahulu kita dengarkan firman Tuhan tersebut.

2. Bacaan Injil: Markus 6:34-44

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.” Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

3. RENUNGAN

Saudara pendengar yang budiman,
Allah adalah kasih.
Ini pernyataan luar biasa tentang Allah. Relasi Allah dan manusia ditandai dan dibentuk oleh kasih. Berbagai perbuatan Allah bagi manusia adalah tindakan kasih.

Kedatangan Yesus ke dunia adalah bukti nyata kasih Allah. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Kematian-Nya memberi hidup kepada manusia yang percaya pada-Nya, dan ini bukan karena manusia mengasihi Allah. Oleh sebab itu kita tidak dapat memahami kasih Allah jika itu dilepaskan dari kematian Yesus di kayu salib.
Dalam Injil yang baru saja kita dengar, melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan. Yesus tidak membiarkan mereka pergi dengan perut kelaparan, melainkan memberi mereka makan hingga kenyang, lain halnya dengan para Murid.

Kalah sebelum bertanding adalah sebuah ungkapan untuk orang-orang yang menyerah sebelum berupaya menyelesaikan masalah dan sikap seperti itulah yang diperlihatkan murid-murid Yesus ketika mereka harus memberi makan lima ribu orang. Mereka mengusulkan agar orang-orang itu disuruh mencari makan sendiri. Namun bukan itu yang dikehendaki Yesus. Yesus ingin mengajar para murid dan juga orang banyak untuk datang kepada Dia dalam segala kebutuhan mereka. Perintah Yesus kepada murid-murid-Nya agar mereka memberi makan orang banyak juga bertujuan agar murid-murid memahami keterbatasan mereka dan menyadari siapa Yesus sesungguhnya.

Dalam saat genting demikian, mereka memang bukan datang kepada Yesus, melainkan menghitung-hitung biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli makanan. Bisa jadi alasannya karena mereka memang tidak memiliki uang sebanyak itu. Disinilah di tuntut rasa belas kasih, belas kasih menunjukkan kepekaan serta kelembutan hati terhadap kebutuhan sesama. Namun, belas kasih tergantung juga pada tingkat kegentingan situasi. Gereja kerap dikritik kelewat sibuk dengan urusan rohani dan kurang peduli pada masalah sosial.

Berdasarkan hasil penelitian, dari jumlah orang sebanyak itu mereka hanya bisa memperoleh lima roti dan dua ikan! Namun sumber yang terbatas ternyata tidak membatasi kuasa Yesus. Dengan lima roti dan dua ikan, Yesus membuat mukjizat hingga makanan seminim itu bisa cukup untuk lima ribu orang. Bahkan tersisa dua belas bakul! Mata para murid memang harus terbuka bahwa Yesus tidak sama dengan mereka. Ia adalah Guru mereka, tetapi Ia pun adalah Anak Allah. Para murid juga harus belajar bahwa sumber yang tidak memenuhi syarat sekalipun, bila dipakai Yesus akan menghasilkan dampak yang luar biasa.

Makanan dan minuman merupakan kebutuhan manusia yang paling pokok dan mendasar. Maka, memberi makan kepada orang yang lapar merupakan wujud dari tindakan kasih yang paling mendasar pula. Itulah yang dilakukan oleh Yesus terhadap para pengikutnya. Ia tidak menerima usulan para murid untuk menyuruh mereka pergi dan mencari atau membeli makan sendiri-sendiri. Juga tidak meminta para murid untuk memberi mereka uang supaya mereka dapat membeli makanan sendiri-sendiri. Dengan tegas, Yesus meminta para murid untuk memberi mereka makan dengan apa yang mereka miliki. Uang memang sangat penting untuk hidup, tetapi tidak selalu bisa menjadi solusi untuk segala-galanya. Kasih sayang orangtua terhadap anak, tidak cukup hanya dengan uang. Makan bersama yang diawali dan diakhiri dengan doa, kemudian dilanjutkan atau dibarengi dengan ngobrol untuk saling berbagai cerita dan bersenda gurau, tentu lebih jauh bermakna sebagai ungkapan kasih sayang. Maka, salah satu pesan dari bacaan Injil ini adalah ajakan bagi kita untuk menghayati makan bersama, baik dalam keluarga maupun dalam komunitas, sebagai ungkapan kasih sayang satu sama lain.

Jika Yesus dapat melakukan hal yang luar biasa pada sumber yang begitu terbatas, Ia pun dapat melakukan hal yang sama bagi hidup kita. Jika kita memiliki sesuatu yang kita anggap tidak berarti, tetapi kita ingin melayani orang lain melalui milik kita itu, kita bisa letakkan di tangan Yesus. Ia dapat melakukan hal besar dengan karunia dan talenta yang ada pada kita untuk menyentuh hidup orang lain.

Injil hari ini sungguh memperlihatkan bahwa ungkapan kasih dan kerinduan akan Allah melalui sesama tidak harus selalu menunggu datangnya proyek-proyek besar kemanusiaan, dengan agenda yang begitu menakjubkan, tetapi selalu terjadi dalam pertemuan sehari-hari dengan mereka yang kelaparan dan menderita, dengan mereka yang kita jumpai setiap saat, setiap hari. Demikian-lah, ungkapan kasih selalu memegang teguh prinsip: di sini dan sekarang sebagaimana gugatan Yesus pada para murid, “Kamu harus memberi mereka makan (sekarang)!

4. DOA

Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.
Tuhan Yesus, Engkaulah Roti Hidup yang turun dari Surga, Roti yang yang mampu memuaskan kebutuhan umat-Mu baik jasmani maupun rohani. Mampukanlah kami untuk berani menjadi roti yang dapat di bagi-bagi dan tumbuhkanlah dalam diri kami rasa belas kasih kepada sesama sehingga kami dapat berbagi dengan sesama kami tanpa menunggu kelebihan/kemewahan , terpujilah Engkau, ya Tuhan, kini dan sepanjang segala masa, amin.” Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

5338 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *