Renungan Harian, Rabu 9 Maret 2016

Rabu Prapaskah IV

Injil: Yohanes 5:17-30

Yohanes 5:17-30

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. 5:20 Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. 5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya”.

Renungan

Konteks dekat dari perikopa ini adalah Yesus berhadapan dengan orang-orang yang hendak membinasakan-Nya. Setelah menyembuhkan orang sakit di tepi kolam Betesda, ada banyak orang Yahudi yang mencari Yesus untuk membinasakannya. Konteks lainnya yang tidak bisa lepas dari kisah ini adalah Yesus sedang berada di Yerusalem. Kalau kita mengerti Yerusalem sebagai pusat peribadatan, dengan demikian berarti Yesus sedang di pusat kehidupan orang-orang Yahudi, lebih tepatnya di pusat keagamaan Yudisme.

Yerusalem menjadi pusat kehidupan orang Yahudi. Di tempat inilah Yesus menegaskan diri sebagai satu kesatuan dengan Bapa. Yesus diutus Bapa untuk datang ke dunia dan mengerjakan karya keselamatan Bapa. Ia menegaskan bahwa perutusan-Nya langsung berasal dari Bapa. Dengan demikian, Ia diberi kuasa yang penuh dari Bapa. Ia tidak lagi mengatakan ‘menurut Bapa’, tetapi Ia berkata ‘Aku berkata kepadamu’.

Bapa dan Putera tidak terpisah. Tugas perutusan Putera berasal dari Bapa. Yesus melakukan karya keselamatan yang dikehendaki Bapa. Perutusan Yesus mendapat legimitasi dari Bapa sendiri.

Bagi kita, pernyataan diri Yesus di Yerusalem ini semakin menjadi penegasan bahwa Yesus sekarang menjadi pusat bagi kehidupan kita sebagai orang beriman. Bukan lagi ‘bait Allah’ dalam pengertian bangunan fisik, namun yang menjadi pusat kita adalah Yesus sendiri. Kalau kita mengatakan Yesus sebagai pusat hidup kita, maka sabda-sabda dan karya-Nya lah yang juga menjadi bagian dalam hidup kita.

Masa pertobatan menjadi masa yang indah bagi kita untuk semakin mendekatkan diri pada Yesus. Salah satu bentuk pertobatan yang konkret dan mudah kita lakukan adalah mempunyai niat dan sikap mau membaca kitab suci, sedikit demi sedikit. Membangun habitus untuk membaca kitab suci merupakan wujud konkret pertobatan kita. Habitus itulah yang akan membaca kita mempunyai sikap mencintai serta mengamalkan sabda-sabda Tuhan.

Memang hidup kita dengan segala perjuangannya tidak serta merta dapat segera teratasi dengan sekedar membaca kitab suci. Diperlukan usaha konkret manusiawi untuk mengatasi masalah-masalah dan persoalan dalam hidup kita. Namun jika kita setia membaca sabda-sabda Tuhan, sedikit demi sedikit, kita akan mempunyai inside yang berharga untuk memandang setiap masalah dan perjuangan hidup kita secara berbeda.

Semoga kita mampu untuk setia membaca sabda-sabda Tuhan. Dan semoga kita juga mampu untuk membaca sabda kehidupan secara lebih Kritiani. Tuhan Yesus senantiasa ada bersama dan ada untuk kita.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk mempunyai sikap tobat yang terus menerus. Bantulah kami untuk juga mempunyai keberanian membaca sabda-sabda-Mu dengan setia. Semoga kami mampu membaca peristiwa hidup kami secara lebih Kristiani. Tuhan, teguhkanlah niat kami untuk senantiasa membangun pertobatan yang tulus. Amin.

 

1683 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *