Renungan Harian, Rabu 8 Juni 2016

Rabu Biasa X
Bacaan: Matius 5:17-19
Yesus dan hukum Taurat
5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Renungan
Konteks luar dari perikopa ini adalah dalam satu tema besar pengajaran Yesus di bukit. Diawali dengan sabda bahagia, hari ini pengajaran Yesus sampai pada persoalan hukum taurat. Bisa jadi pengajaran ini dilatarbelakangi oleh isu-isu yang beredar bahwa apa yang diajarkan oleh Yesus tidak sejalan dengan hukum Taurat. Mungkin ada tuduhan bahwa Yesus menyimpang dari hukum taurat, padahal konteks hidup dan pengajaran Yesus berada di antara orang Yahudi dan di sekitar Bait Allah. Bagaimana mungkin seorang guru Yahudi memberi pengajaran kepada para muridnya yang tidak bersumber dari taurat?
Berhadapan deng situasi yang demikian, kemudian Yesus semacam memberi klarifikasi bahwa apa yang Ia ajarkan dan apa yang Ia perbuat mempunyai dasar yang kuat pada Taurat. Yesus sejak lahir adalah seorang Yahudi, darah Yahudi mengalir dalam diri-Nya. Maka tradisi dan ajaran Taurat juga menjadi bagian dari hidup-Nya. Karena ajaran-Nya berdasarkan taurat, Ia layak memberi pendidikan pada para murid-Nya dalam kurun waktu tertentu.
Yesus menjunjung tinggi hukum Taurat. Ia tidak pernah merendahkan hukum Taurat. Maka kemudian Ia menegaskan bahwa siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga.
Yesus datang bukan untuk meniadakan Taurat, namun justru untuk menggenapinya. Menggenapi mempunyai konotasi makna penyempurnaan, atau pengkristalan ajaran. Apa yang ada di Taurat lah yang Yesus ajarkan dan Yesus lakukan. Bila kita membalik cara berpikir kita, maka akan kita dapati bahwa apa yang tertulis dalam hukum taurat terpenuhi semuanya di dalam Yesus.
Dalam pengajaran berikutnya, Yesus menegaskan bahwa inti sari dari hukum taurat adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Pokok itulah yang menjadi pewartaan Yesus. Sementara itu hal yang pokok dari Taurat itu tidak ditangkap oleh pengajar-pengajar Yahudi dari jaman ke jaman. Maka kemudian ada penilaian bahwa Yesus keluar dari hukum Taurat. Namun sebenarnya Yesus hendak mengembalikan taurat pada makna dan inti dasarnya, yakni kasih kepada Allah dan sesama.
Maka bisa semakin mengerti mengapa Yesus sampai pada penyataan bahwa siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Bagi kita, hukum dan ketentuan sering kali justru menjerat hidup kita. Atau dengan kata lain kita sering kali terperangkap dalam aturan hukum. Seharus seperti Taurat, hukum itu mempunyai tujuan akhir untuk memberi kebebasan pada manusia, bukan justru membinasakannya. Dalam perspektif Kristiani, hukum itu seharusnya mempunyai finalisasi pada keselamatan. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama menjadi inti dari semua hukum yang berlaku. Maka menjadi jelas bahwa hukum-hukum yang berlaku seharusnya mengacu pada kasih akan Allah dan kasih akan manusia.
Sebagai orang Kristiani, hidup dan perjuangan kita adalah demi kasih kepada Allah dan sesama. Jika hukum itu tidak lagi mengacu pada kasih kepada sesama, maka sudah selayaknya seorang Kristiani mempunyai sikap yang berbeda. Jika kasih kepada sesama sudah diabaikan, maka kasih kepada Allah pun juga tidak mungkin terjadi.
Doa
Ya Tuhan, kami bersyukur atas teladan kasih yang Engkau perlihatkan kepada kami. Semoga kami berani dan mampu untuk memperjuangkan kasih kepada sesama kami. Semoga kami berani untuk terus belajar mencintai-Mu dan mencintai sesama kami. Amin.


