Renungan Harian, Sabtu 28 Mei 2016

Sabtu Biasa VIII

Bacaan: Yudas 1:20-25

1:20 Saudara-saudara terkasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepadamu, oleh rasul-rasul Tuhan kita Yesus Kristus. Maka bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. 1:21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. 1:22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, 1:23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa. 1:24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, 1:25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Renungan

Sering kali perkara beriman dipandang sebagai perkara pribadi sepenuhnya, artinya orang lain tidak bisa ikut campur. Maka jika iman adalah melulu urusan pribadi, keselamatan Allah hanya ditawarkan kepada orang perorangan. Padahal nyata Allah menawarkan keselamatan secara universal. Padahal Allah menawarkan keselamatan dari zaman ke zaman, artinya melalui perantaraan sejarah manusia. Dari sana sudah nampak jelas bahwa perkara beriman adalah perkara personal sekaligus komunal.

Maka pada hari ini Yudas mengingatkan jemaatnya supaya satu dengan yang lain berani untuk saling menyematkan. Sembari diri sendiri membangun iman yang kokoh kuat, Petrus mengajak jemaatnya untuk memperhatikan jalan beriman sesamanya. Maka jika ada jemaat yang tidak benar hidupnya, Petrus mengingatkan supaya jemaat yang lain merampas mereka dari api.

Terhadap jemaat yang lainnya, Petrus mengingatkan supaya jemaatnya menaruh belas kasih dan juga sekaligus memberi rasa hormat yang mendalam. Hormat bukan karena takut terhadap orang lain, namun karena kasih yang mendalam kepada Kristus Yesus yang diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Apa yang kita perbuat, apa yang kita kerjakan, menjadi medan perwujudan kasih kita yang mendalam akan Kristus Yesus.

Iman tidak sekali datang dan jadi. Iman senantiasa berjalan dalam sejarah waktu manusia. Maka peran orang lain ikut memberi warna dalam beriman. Para pendahulu menjadi pewarta iman bagi generasi sekarang. Generasi sekarang menjadi pewarta iman untuk generasi yang akan datang. Petrus mengingatkan kita supaya jangan begitu saja melupakan para pendahulu kita. Dari merekalah kita mendapat warisan iman akan Kristus Yesus.

Semoga dengan demikian, saat ini kita juga sadar dan berani menjadi tanda pewartaan keselamatan Allah untuk generasi yang akan datang. Sembari mengenang para tokoh iman pendahulu kita, mari kita juga memberikan keteladan iman bagi generasi yang akan datang.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas warisan-warisan iman yang kami terima dari para pendahulu kami. Semoga kami tetap mewarisi iman yang benar yang dari para rasul. Tuhan, bantulah kami untuk berani menyadari sebagai orang yang Engkau panggil untuk menjadi pewarta iman. Semoga hidup dan perbuatan kami menjadi kesaksian nyata bahwa kami adalah murid-Mu. Amin.

 

1255 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *