RD Petrus Tripomo : “Inilah aku, utuslah aku”

RD Petrus Tripomo

RD Petrus Tripomo. Foto : Dokumen pribadi

“Motto yang tentu mau menyatakan kerendahan hati ‘ini lah aku utuslah aku’, ya bagaimana Nabi merasakan kekurangannya. Tetapi karena diperlukan oleh Tuhan harus berangkat maka Nabi mengatakan ‘inilah aku utuslah aku’, dengan segala keterbatasan yang ada, maka kemudian saya memutuskan untuk ditahbiskan,” kata Romo Tri.

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR – Pagi itu, Selasa 17 Mei 2016, keheningan mengepung saat RD Petrus Tripomo memasuki ruang produksi Radio Suara Wajar Bandar Lampung. Sayup-sayup terdengar suara penyiar dan lagu-lagu pilihannya dari ruang siaran. Sejurus kemudian, beberapa suara bersumber dari Air Conditioner (AC), komputer (PC) dan mixer audio, yang dihidupkan hampir terdengar bersamaan, sedikit memecahkan keheningan.

Dikenal sebagai sosok Imam yang tenang dan rendah hati, begitulah RD Petrus Tripomo. Sifat itu dapat terlihat seketika oleh Suara Wajar. Buktinya, jauh-jauh menempuh perjalanan dari tempat pelayanannya di Paroki Murnijaya, Tulang Bawang hanya untuk memenuhi undangan Radio Suara Wajar, di Jalan Cendana No. 26 Pahoman Bandar Lampung.

Pastor kelahiran Sendangmulyo, Lampung Tengah, 9 Januari 1970 ini nampak santai berbincang-bincang seputar kehidupannya sebagai salah satu Imam Diosesan di Keukupan Tanjungkarang.

Diakui Romo Tri — panggilan akrab Petrus Tripomo –, keluarga merupakan tempat persemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi seorang Imam. Hal itu benar-benar dirasakannnya. Iklim hidup dalam keluarga yang diciptakan kedua orang tuanya, Florentinus Slamet Hadi Siswoyo (Alm) dan Victoria Sujiarah mengantarkannya menjadi Pastor di Keuskupan Tanjungkarang.

“Situasi, suasana, kebiasaan dalam keluarga saya kiri ini juga yang sadar enggak sadar ini membentuk juga (benih panggilan). Misalnya kebiasaan berdoa di rumah. Doa pagi misalnya, kami bangun pagi langsung bersama-sama berdoa. Ya belum mandi, belum cuci muka, pokonya bangun lalu berdoa bersama. Baru setelah itu beres-beres lalu pergi sekolah,” kenang Romo Tri.

Keteladanan hidup yang dilakukan kedua orang tua dalam keseharian, semakin menyuburkan benih-benih panggilan Imam pada Romo Tri. Salah Satu contoh katanya, yakni doa bersama yang rutin dilakukan setiap hari. Ayah Romo Tri yang merupakan Katekis full timer Keuskupan Tanjungkarang, selain melaksanakan kewajibannya mengajar di berbagai stasi, juga dikenal banyak membantu masyarakat sekitar. Teladan hidup sang ayah inilah, semakin menyuburkan benih panggilan dalam hati Romo Tri.

“Bapak saya Katekis, artinya juga kan mengajar ke gereja-gereja, ke stasi-stasi. Salah satunya itu kan mengajar juga ‘tuaian banyak tetapi pekerja sedikit’ gitu ya? Maka juga pelan-pelan dari situasi itu membuat saya terdukunglah, cita-cita tadi untuk menjadi Imam,” katanya.

Sebagaimana diketahui, tidak semua Pastor di Keuskupan Tanjungkarang berkesempatan study ke luar negeri. Romo Tri merupakan salah satu Pastor di keuskupan ini yang beruntung, karena dapat mengenyam study licensiat di Romo, Italia. Tepatnya di Institut Pontifical San Anselmo Roma, RD Tri mendalami bidang liturgi dari tahun 2005 sampai 2008.

Beradaptasi di negeri orang dengan latar belakang budaya berbeda, tentu bukan hal mudah. Pastor yang menerima Sakramen Imamat tanggal 29 Juni 1998 ini, dituntut untuk mengusai bahasa setempat. Bahasa asing lainya seperti Latin, Jerman, Yunani dan Inggris juga wajib harus dikuasainya. Karena dokumen-dokumen dalam mata kuliah yang dipelajari menurutnya, menuntut untuk menguasai bahasa-bahasa tersebut.

“Di kampus, dari gratul-gratul mencoba mengerti apa yang disampaikan kemudian ya bisa mengerti juga dengan lebih banyak membaca. Lalu kesempatan berlibur itu seperti yang lain saya berkunjung di paroki di Pulau Cicilia sana, sambil membantu di paroki, asistensi sambil juga berjumpa umat disana, omong-omong berbahasa Italia, sehingga memperlancarlah (bahasa),” kenang Romo Tri.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini menggunakan setiap kesempatan selama menempuh pendidikan di Institut Pontifical San Anselmo Roma, Italia untuk belajar, belajar dan belajar. Hasilnya pun menggembirakan, selama tiga tahun dia mampu menyelesaikan study disana.

“Dan syukurlah selama tiga tahun bisa selesai, walaupun juga berat ya. Karena study liturgi juga tidak banyak yang bisa selesai pada waktunya. Puji Tuhanlah bisa selesai sehingga tidak memperpanjang,” tutur Romo Tri.

Dua tahun setelah lulus dari Institut Pontifical San Anselmo Roma, alumnus SMP Xaverius Gisting, Tanggamus ini, mengajar di Seminari Tinggi Pematang Siantar, Sumatera Utara. Hanya lima tahun Romo Tri dapat “menularkan” apa yang didapatnya dari Roma kepada para Frater di seminari tersebut.

Satu tahun dulu setelah dari Romo saya bertugas di Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, dan ini juga malah menguntungkan dalam arti sebelum saya mengajar, saya belajar banyak dulu di paroki tentang hal-hal yang berhubungan dengan liturgi, persoalan-persoalan yang ada, pertanyaan-pertanyaan umat yang nantinya bisa saya sampaikan di ruang kuliah bersama dengan para Frater,” jelas Romo Tri.

Saat ini, selain sebagai Pastor Kepala Paroki Murnijaya, Tulang Bawang, Romo Tri juga menjabat sebagai Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Tanjungkarang. Dimanapun Romo Tri ditugaskan, pertama-tama yang selalu dilakukan ialah menyusun hati dengan suka cita dan kegembiraan untuk melayani. Itu dilakukannya semata-mata untuk mewujudkan yang dia sebut “misi utama” dalam melayani. Misi itu yakni mewujudkan umat agar dapat menghayati dan menghidupi iman dalam suka cita.

“Saya ingin bersama umat mewujudkan umat yang menghayati iman, dalam suka cita dan kegembiraan. Pastilah disana-sini ada kesulitan, ada persoalan, ada juga yang sudah lancar-lancar saja. Tetapi bagaimana semua itu dihayati dalam suka cita,“ kata Romo Tri.

Menurut Romo Tri, berdoa, merayakan Ekaristi, dan pelayanan sakramen sebagai kewajiban sekaligus cara dalam menghidupi panggilan imamatnya. Cara lain yang menurutnya “ampuh” adalah dengan bersukacita dalam menghidupi panggilan sebagai seorang Imam. Dengan bersukacita, maka dapat dengan mudah menghayati panggilan imamatnya.

“Inikan pangilan yang pertama tadi dikatakan cita-cita, yang juga didukung yang lain, tumbuh dan berkembang. Kalau ini sebuah cita-cita, sudah tercapai kok menjadi Imam. Kan tinggal menghayati dan menghidupi,” pungkasnya.

Reporter : Robert

2144 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *