Renungan Harian, Jumat 20 Mei 2016

Jumat Biasa VII

Bacaan: Yakobus 5:9-12

5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. 5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. 5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan. 5:12 Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.

Renungan

St. Yakobus dalam suratnya begitu jeli melihat kondisi umat beriman pada jamannya. Apa yang menjadi penekannya adalah soal bagaimana iman dan perbuatan itu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Orang yang mengaku beriman, bagi Yakobus, tidak banyak artinya jika tidak bertindak sesuai dengan imannya. Demikian juga tindakan seorang Kristiani sudah seharusnya menjadi medan ungkapannya imanya.

Hari ini Yakobus mengingatkan kepada jemaatnya bahwa bersungut-sungut dan saling mempersalahkan bukanlah cermin dari tindakan beriman. Bersungut-sungut dan saling mempersalahkan jamak terjadi dalam kehidupan bersama, bahkan juga sampai sekarang ini. Apa yang dikatakan Yakobus sangat mengena dan berarti bagi kehidupan kita saat ini. Bersungut-sungut menjadi bagian dari hidup harian kita juga.

Peringatan Yakobus sangat lekat dengan kehidupan harian kita. Dalam berkerja, baik sendiri maupun bersama dengan orang lain, tindakan yang tidak jarang terjadi adalah bersungut-sungut, pada akhirnya bisa sampai pada tindakan saling mempersalahkan. Fenomena umum yang terjadi adalah banyak karyawan yang rela untuk panas-panasan berdemo demi menuntut kenaikan upah demi hidup yang layak. Karena tidak mendapat respon yang cepat, sering yang terjadi adalah tindakan brutal dan anarki yang justru malah merugikan banyak pihak, tidak hanya dirinya sendiri.

Berkaitan dengan bersungut-sungut dan saling menyalahkan, jika kita refleksi jauh lebih dalam nampaknya sebenarnya yang terjadi adalah kesulitan kita untuk berani bersyukur dan mengatakan cukup atas keinginan kita sendiri. Semakin besar upah yang kita dapat, semakin besar pula kebutuhan, tepatnya keinginan, yang ada dalam diri kita. Itulah kecenderungan manusia yang selalu merasa kurang dan tidak melihat hidup ini dengan syukur.

Senantiasa merasa kurang adalah bagian dari pergulatan hidup manusia. Ditambah satu, masih kurang dua. Diberi tiga cukup, diberi lima cukup, diberi seberapapun nadanya adalah cukup, tidak pernah lebih atau sisa, maka syukur pun menjadi sulit terjadi. Dan dampak dari itu adalah tidak hadirnya sukacita yang tulus dalam hidup ini. Padahal, menurut Yakobus, sukacita dan kegembiraan adalah hasil dan buah dari ketekunan dalam penderitaan dan kesabaran, seperti para nabi.

Maka Yakobus mengajak kita untuk mempunyai disposisi syukur yang mendalam atas hidup kita. Ketekunan untuk mempunyai sikap syukur tidak datang sekali jadi. Disposisi syukur adalah proses dari latihan ketekunan selangkah demi selangkah membangun keberanian untuk mengatakan cukup atas semua tawaran duniawi. Dunia akan menawarkan semua hal kepada kita. Tidak mungkin kita akan menampung dan memenuhi semua tawaran itu.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang beriman adalah melihat hidup ini dengan penuh syukur, syukur bahwa hidup kita senantiasa diberkati Tuhan, syukur bahwa kita beroleh kebaikan-kebaikan. Namun bukan berarti kita berhenti, kita tetap berusaha sebaik yang kita mampu. Usaha terbaik itulah yang menjadikan kita tidak mudah bersungut-sungut, apalagi mencela orang lain dan bahkan Tuhan.

Doa

Ya Tuhan, ampunilah kami orang berdosa ini. Ampunilah kami yang sering kali bersungut-sungut atas hidup kami, atas pekerjaan kami, atas orang-orang yang ada di sekitar kami. Ajarilah kami untuk mampu melihat banyak hal dengan rasa syukur yang tulus. Semoga dengan demikian, hidup kami menjadi hidup yang penuh sukacita dalam nama-Mu. Amin.

 

880 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *