Polisi Pastikan Kematian Tiga Pasien RS Mitra Husada Pringsewu

slider-1RADIO SUARA WAJAR – Kepolisian Daerah Lampung memastikan kematian tiga pasien di Rumah Sakit Mitra Husada Kabupaten Pringsewu akibat penggunaan Bupivacaine Spinal yang diberikan saat pembiusan sebelum proses operasi kepada pasien bersangkutan.

Kepala Bidang Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih, di Bandarlampung, Kamis (7/4) malam, mengatakan, tiga pasien yang meninggal dunia di RS Mitra Husada itu, adalah Suripto (67) menjalani operasi tumor pada betis kiri pukul 16.30 WIB dan waktu kematian pukul 23.20 WIB.

Selanjutnya, Devi Franita (30) proses melahirkan/caesarean tindakan operasi pukul 22.00 WIB kemudian meninggal dunia Selasa (5/4) sekitar pukul 02.00 WIB, dan Reyhan Mahardika (16) operasi Varicocel Bilateral, pelaksanaan operasi pukul 15.30 WIB dan meninggal dunia pukul 03.35 WIB.

Dikatakan Kabid Humas Polda Lampung bahwa ketiga pasien ini diberikan pembiusan spinal pada tulang punggung oleh dr Edi Pramono dan asisten dokter Mustova sebelum operasi berlangsung.

Menurutnya, keterangan itu merupakan hasil pemeriksaan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung yang secara maraton melakukan pengecekan atau penyelidikan di lokasi kejadian tersebut. Sebanyak 10 ampul masih tersisa lima ampul Bupivacaine dalam satu boks, sehingga masih ada dua lagi yang telah dipergunakan kepada pasien.

AKBP Sulistyaningsih berharap mudah-mudahan yang dua itu tidak akan menjadi persoalan, sehingga menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan lagi.

Terkait jenis obat bius Bupivacaine Spinal, Sulistyaningsih menyebutkan, obat bius itu merupakan obat yang diproduksi oleh Bernofarm, dan masih akan didalami serta dikoordinasikan kepada pihak Balai POM dan IDI terkait keberadaannya. Ia melanjutkan, dari hasil pemeriksaan tersebut pihaknya akan segera melakukan gelar perkara serta pembuatan laporan perkara.

Ditegaskan oleh Sulistyaningsih apabila memenuhi unsur pidana, maka pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap dokter anastesi yang melakukan operasi pada Senin (4/4) lalu.

Pihaknya juga akan melakukan pengecekan ke Balai POM terkait obat tersebut serta mengkoordinasikan dengan IDI terkait standar operasional prosedur (SOP) berjalan tindakan operasi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.

Berkaitan kasus itu, Kementerian Kesehatan membenarkan beredar imbauan untuk menghentikan sementara penggunaan salah satu produk injeksi obat bius tersebut. Penyelidikan tengah dilakukan terkait kematian pasien yang diduga karena obat tersebut.

Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan mengatakan terkait berita meninggalnya tiga pasien pasca-operasi di RS Mitra Husada Pringsewu Lampung, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan edaran penghentian sementara pemakaian obat bius yang digunakan saat operasi kepada pasien tersebut.

Dikatakan olehnya bahwa Kemenkes juga membentuk tim investigasi terpadu untuk menyelidiki penyebab kematian pasien dan membuktikan adanya dugaan kejadian tidak diharapkan (KTD) sentinel. Tim ini terdiri dari BPOM, organisasi profesi, dan asosiasi rumah sakit. KTD sentinel merupakan kejadian tidak diharapkan yang menyebabkan kematian atau dampak serius.

Sementara itu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menyelidiki KTD di RS Mitra Husada Lampung yang diduga terkait pemberian injeksi anestesi atau obat bius jenis bupivacaine. Selain di Lampung, BPOM juga melakukan penyelidikan terkait dugaan kasus serupa di Mataram.

Penyelidikan dilakukan `on site` atau di tempat kejadian maupun di sarana distribusi obat di wilayah setempat. Audit menyeluruh juga dilakukan pada 10 perusahaan yang memproduksi bupivacain, baik jenis injeksi biasa maupun injeksi spinal atau heavy.

Terkait kasus ini, Kementerian Kesehatan juga mengimbau rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan aman bagi pasien sementara masyarakat diharapkan tetap tenang dan dapat memilah informasi yang benar.

 

1632 Total Views 1 Views Today

One comment

  • andreas andi

    pihak produsen obatnya bagaimana…….???? mereka yang memproduksi dan merekomendasikan obat tsb…..pemberitaan dan publikasi hanya menyangkut rumah sakit saja…….mohon produsen obatnya juga….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *