Suku Korowai

suku-korowai-7RADIO SUARA WAJAR – Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua, Indonesia dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah. Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka.

Keberadaan Suku Korowai, atau terkadang disebut Kolufu, ini baru diketahui pada dekade 1970-an, ketika seorang misionaris Kristen datang ke sana dan hidup bersama warga setempat. Misionaris ini bahkan berhasil mempelajari bahasa Awyu-Dumut, yaitu bahasa di wilayah tenggara Papua.

suku-korowai-1Pada tahun 1979, misionaris asal Belanda itu mendirikan sebuah pemukiman yang disebut Yarinuma. Sejak itulah warga suku Korowai mulai terbuka terhadap dunia luar. Permukiman itu sering didatangi anggota suku Korowai yang masih muda.

Belakangan, wilayah Suku Korowai juga dikunjungi Rupert Stasch, antropolog dari Reed College, Oregon. Dia tinggal bersama suku Korowai selama 16 bulan, untuk mempelajari kebudayaan mereka. Stasch juga melakukan penelitian, yang hasilnya sudah diterbitkan dalam Jurnal Oceania.

Pada Januari – Februari 2011, Tim Human Planet BBC juga mendatangi Suku Korowai, untuk mengabadikan kebudayaan mereka yang unik, khususnya dalam membangun rumah.

suku-korowai-4Mayoritas klan Korowai tinggal di rumah pohon di wilayah terisolasi mereka. Sejak tahun 1980 sebagian telah pindah ke desa-desa yang baru dibuka dari Yaniruma di tepi Sungai Becking (area Kombai-Korowai), Mu, dan Basman (daerah Korowai-Citak). Pada tahun 1987, desa dibuka di Manggél, di Yafufla (1988), Mabül di tepi Sungai Eilanden (1989), dan Khaiflambolüp (1998).[4] Tingkat absensi desa masih tinggi, karena relatif panjang jarak antara permukiman dan sumber daya makanan (sagu).

Masyarakat Suku Korowai membangun tempat tinggal di atas pohon, dan disebut “Rumah Tinggi.” Rumah-rumah panggung ini didesain sedemikian rupa sehingga terlindung dari banjir, kebakaran, atau serangan hewan liar.

Setiap rumah panggung biasanya dihununi satu klan. Tempat tinggal ini dibagi menjadi dua, yaitu daerah khusus pria dan wanita. Para peneliti menganggap masyarakat Suku Korowai cukup cerdas, karena mampu membangun konsep perkampungan pada wilayah yang sebenarnya sulit untuk ditinggali.

Masyarakat Korowai sehari-hari hanya mengenakan pakaian dari dedaunan. Mereka dikenal sebagai pemburu ulung, dan memiliki berbagai bentuk senjata yang disesuaikan dengan buruannya. Untuk membunuh babi hutan, misalnya, mereka memiliki tombak khusus yang berbeda dari tombak untuk menebang sagu, atau bahkan untuk membunuh manusia.

1827 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *