HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM NATAL 24 Desember 2015

Renungan Harian

Hari Raya Natal

Bacaan Ekaristi : Yes 9:1-6; Mzm 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit 2:11-14; Luk 2:1-14

Malam ini “terang yang besar” bersinar (Yes 9:1); terang kelahiran Yesus bersinar seluruhnya di sekitar kita. Alangkah benarnya dan tepat waktu kata-kata Nabi Yesaya yang baru saja kita dengar : “Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar” (9:2)! Hati kita sudah penuh sukacita dalam menantikan saat ini; sekarang sukacita itu berlimpah dan meluap, karena janji akhirnya telah terpenuhi. Sukacita dan kegembiraan adalah sebuah tanda yang pasti bahwa pesan yang terkandung dalam misteri malam ini benar-benar berasal dari Allah. Tidak ada ruang bagi keraguan; marilah kita meninggalkan itu bagi orang-orang skeptis yang, dengan melihat alasannya sendiri, tidak pernah menemukan kebenaran. Tidak ada ruang untuk ketidakpedulian yang memerintah di dalam hati orang-orang yang tidak mampu untuk mengasihi karena takut kehilangan sesuatu. Seluruh kesedihan telah dihalau, karena Kanak-kanak Yesus membawa kenyamanan sejati bagi setiap hati.

Hari ini, Putra Allah lahir, dan segalanya berubah. Sang Juruselamat dunia datang untuk mengambil bagian kodrat manusiawi kita; tidak lagi kita sendirian dan ditinggalkan. Perawan Maria menawarkan kita Putranya sebagai awal sebuah kehidupan baru. Terang yang sesungguhnya telah datang untuk menerangi hidup kita yang begitu sering dilanda kegelapan dosa. Hari ini kita sekali lagi menemukan siapakah diri kita! Malam ini kita telah ditunjukkan jalan untuk mencapai akhir perjalanan. Sekarang kita harus menyingkirkan semua ketakutan dan kengerian, karena terang tersebut menunjukkan kita jalan menuju Betlehem. Kita seharusnya tidak lamban; kita tidak diiperbolehkan berpangku tangan. Kita harus berangkat untuk melihat Sang Juruselamat kita yang terbaring di dalam sebuah palungan. Inilah alasan untuk sukacita dan kegembiraan kita : Anak ini telah “lahir untuk kita”; Ia “diberikan kepada kita”, sebagaimana diwartakan Yesaya (bdk. 9:5). Orang-orang yang selama dua ribu tahun telah melintasi semua jalan dunia dengan tujuan memungkinkan setiap pria dan wanita untuk ambil bagian dalam sukacita ini sekarang diberikan perutusan membuat “Sang Raja Damai” dikenal dan menjadi hamba-Nya yang efektif di tengah bangsa-bangsa.

Maka ketika kita mendengar tentang kelahiran Kristus, marilah kita hening dan membiarkan Sang Putra berbicara. Marilah kita membawa kata-kata-Nya ke hati dalam permenungan wajah-Nya yang mengasyikan. Jika kita membawa-Nya dalam pelukan kita dan membiarkan diri kita dipeluk oleh-Nya, Ia akan membawakan kita kedamaian hati yang tak berujung. Anak ini mengajarkan kita apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ia dilahirkan dalam kemiskinan dunia ini; tidak ada ruang di penginapan bagi-Nya dan keluarga-Nya. Ia menemukan tempat berlindung dan dukungan dalam sebuah kandang dan dibaringkan dalam sebuah palungan untuk hewan. Namun, dari ketiadaan ini, terang kemuliaan Allah bersinar. Mulai sekarang dan seterusnya, jalan pembebasan otentik dan penebusan abadi terbuka bagi setiap pria dan wanita yang hatinya sederhana. Anak ini, yang wajah-Nya memancarkan kebaikan, kerahiman dan kasih Allah Bapa, mendidik kita, murid-murid-Nya, seperti dikatakan Santo Paulus, “supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah” (Tit 2:12).

Dalam sebuah masyarakat yang begitu sering diracuni oleh konsumerisme dan hedonisme, kekayaan dan kemewahan, penampilan dan narsisme, Anak ini memanggil kita untuk bertindak bijaksana, dengan kata lain, dengan cara yang sederhana, seimbang, tidak plin-plan, mampu melihat dan melakukan apa yang penting. Dalam sebuah dunia yang terlalu sering tanpa kerahiman bagi orang berdosa dan toleran terhadap dosa, kita perlu membudidayakan rasa keadilan yang kuat, mengenali dan melakukan kehendak Allah. Di tengah sebuah budaya ketidakpedulian yang tidak jarang berubah dengan tanpa belas kasihan, gaya hidup kita malah seharusnya saleh, dipenuhi dengan empati, belas kasih dan kerahiman, yang setiap hari diambil dari sumber doa.

Seperti para gembala Betlehem, semoga kita juga, dengan mata penuh keheranan dan ketakjuban, menatap Kanak-kanak Yesus, Putra Allah. Dan di hadapan-Nya semoga hati kita menyambut dengan sorak-sorai dalam doa : “Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!” (Mzm 85:8).

 

1802 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *